
RUPAT – jurnalpolisi.id
Pasokan Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis solar dan Pertalite di wilayah Pulau Rupat semakin menipis. Kondisi ini dipicu terganggunya distribusi akibat terbatasnya operasional kapal penyeberangan RoRo yang menjadi jalur utama pengangkutan BBM dari Dumai menuju Rupat.
Berdasarkan informasi yang dihimpun dari sejumlah pengelola Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Tanjung Medang, Teluk Lecah, dan Tanjung Kapal, distribusi BBM mengalami kendala karena pengiriman harus menyesuaikan jadwal kapal RoRo yang saat ini belum beroperasi secara normal.
Sebelumnya, pengiriman BBM ke Pulau Rupat dapat dilakukan hampir setiap hari, yakni Senin, Selasa, Kamis, Jumat, dan Sabtu. Namun, dalam beberapa waktu terakhir distribusi hanya dapat dilakukan pada hari Selasa, Kamis, dan Sabtu. Akibatnya, pasokan BBM yang masuk ke masing-masing SPBU menjadi lebih terbatas.
Dalam setiap pengiriman, rata-rata volume BBM yang diterima setiap SPBU sekitar 15.000 liter.
Dengan kebutuhan masyarakat yang tetap tinggi, terutama untuk sektor perikanan, perkebunan, transportasi, dan berbagai aktivitas usaha lainnya, stok solar dan Pertalite pun lebih cepat berkurang.
“Saat ini distribusi BBM memang terkendala karena jadwal kapal RoRo terbatas. Akibatnya, pasokan yang masuk ke SPBU tidak maksimal seperti biasanya,” ujar salah seorang pengelola SPBU.
Selain keterbatasan jadwal kapal RoRo, proses distribusi juga terkendala oleh kondisi jalan menuju salah satu SPBU yang mengalami kerusakan. Hal tersebut menyebabkan mobil tangki pengangkut BBM terlambat tiba di lokasi sehingga suplai kepada masyarakat ikut mengalami keterlambatan.
Terhambatnya operasional kapal RoRo lintasan Dumai–Rupat menjadi faktor utama yang memengaruhi kelancaran distribusi BBM ke Pulau Rupat. Sejumlah SPBU pun melakukan penyesuaian dalam penyaluran BBM agar stok yang tersedia tetap dapat memenuhi kebutuhan masyarakat.
Masyarakat berharap operasional kapal RoRo segera kembali normal dan infrastruktur jalan yang rusak dapat segera diperbaiki. Dengan demikian, distribusi BBM dapat kembali lancar sehingga pasokan solar dan Pertalite tetap stabil untuk menunjang aktivitas nelayan, pelaku usaha, jasa transportasi, serta sektor-sektor ekonomi lainnya.
Apabila kendala transportasi laut dan kerusakan infrastruktur ini tidak segera ditangani, dikhawatirkan pasokan BBM di Pulau Rupat akan terus menipis dan berpotensi menghambat aktivitas perekonomian masyarakat di wilayah pesisir tersebut.




