
NTT, jurnalpolisi.id
Kabar menggembirakan datang dari Desa Bijaepunu, Kecamatan Mollo Utara, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS). Buah legendaris yang sempat punah lebih dari 30 tahun silam, Apel Soe, kini ditemukan kembali tumbuh subur dan berbuah lebat di wilayah tersebut.
Minggu, 9 Agustus 2026, Kapolres TTS AKBP Kristiyan B. Martino, S.H., S.I.K., M.M., CELM., turun langsung meninjau tanaman Apel Soe milik warga setempat, Simon Oematan, yang berhasil tumbuh dan berbuah di pekarangan rumahnya.
Pohon Apel Soe ini ditanam sekitar tiga tahun lalu. Bibitnya diperoleh dari Desa Ajaobaki dan dikembangkan dengan teknik penempelan pada tanaman apel hutan. Dari sembilan pohon yang ditanam, satu pohon di antaranya kini berhasil berbuah. Pada masa panen terakhir, pohon tersebut menghasilkan sekitar 40 buah apel, dan saat kunjungan dilakukan, masih tersisa tujuh buah yang menggantung di dahan pohon.
Apel Soe sendiri memiliki sejarah panjang dan gemilang di TTS. Berdasarkan catatan Suluh Desa NTT tahun 2021, buah ini dikenal luas dan menjadi kebanggaan masyarakat pada era 1970-an hingga akhir 1980-an. Pasar Kapan kala itu menjadi salah satu pusat perdagangan Apel Soe yang sangat diminati. Namun memasuki awal 1990-an, kejayaan Apel Soe perlahan meredup, dan sejak tahun 2000-an tanaman ini semakin sulit ditemukan hingga akhirnya dianggap punah.
Keberhasilan tumbuh dan berbuahnya Apel Soe di Desa Bijaepunu ini bukan sekadar pertumbuhan satu tanaman semata, melainkan membuka harapan baru untuk membangkitkan kembali potensi buah yang pernah melegenda tersebut.
“Ini adalah potensi daerah yang harus kita dukung. Satu pohon yang berhasil berbuah memang belum dapat menjadi kesimpulan ilmiah, tetapi cukup menjadi alasan kuat untuk mulai melakukan penelitian secara serius. Saya berharap pemerintah daerah maupun pemerintah pusat, lembaga penelitian, perguruan tinggi, serta para ahli dapat melihat potensi ini, melakukan riset, dan membantu pengembangannya,” ungkap Kapolres TTS.
Lebih lanjut, diperlukan riset mendalam untuk mengidentifikasi varietas asli, karakter genetik, kesesuaian kondisi tanah dan iklim, teknik pembibitan yang tepat, serta potensi pengembangan Apel Soe dalam skala yang lebih luas.
Kapolres TTS berharap Apel Soe tidak hanya menjadi cerita masa lalu yang dikenang turun-temurun. Jika secara ilmiah potensinya masih memungkinkan, diperlukan kerja sama dan kolaborasi antar-pihak untuk mengembangkan bibit unggul, membangun kebun percontohan, serta mendorong masyarakat kembali membudidayakannya.
“Kita ingin masyarakat Indonesia mengetahui bahwa dari tanah Timor pernah lahir Apel Soe yang melegenda. Jangan sampai generasi mendatang hanya mengenalnya dari cerita lisan semata. Mari kita teliti, kita kembangkan, dan jika memungkinkan, kita kembalikan bersama-sama kejayaan Apel Soe,” harap Kapolres.
Dari satu pohon yang tumbuh di Desa Bijaepunu, kini tumbuh pula secercah harapan besar: Apel Soe bangkit kembali dari tanah Timor, untuk Indonesia.
(Evan JPN)




