BANYUWANGI , Jurnalpolisi.id
Cuaca buruk yang melanda kawasan Selat Bali memicu kemacetan di jalur menuju Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi, Jawa Timur. Menanggapi situasi darurat tersebut, Satlantas Polresta Banyuwangi mengambil langkah cepat dengan menyiagakan personel selama 24 jam nonstop guna mengurai kepadatan kendaraan.
Kasat Lantas Polresta Banyuwangi, AKP I Gusti Bagus Krisna Fuady menyampaikan bahwa, pihaknya telah menerjunkan puluhan personel untuk bersiaga 24 jam penuh. Langkah ini dilakukan guna mengurai lonjakan volume kendaraan yang memadati Jalur Nasional Situbondo-Banyuwangi.
“Anggota kita siaga terus 24 jam di jalan raya dan pintu masuk pelabuhan,” katanya, Kamis (21/5/2026).
Tidak sekadar bersiaga, personel Satlantas di lapangan juga bergerak cepat mengarahkan kendaraan menuju kantong parkir di Dermaga Bulusan. Langkah taktis ini dinilai efektif untuk mengurangi penumpukan kendaraan yang mengular di bahu jalan.
Selain itu, petugas Satlantas Polresta Banyuwangi juga mengarahkan kendaraan yang mengantri untuk tetap tertib di lajur kiri jalan. Upaya ini dilakukan agar arus kendaraan dari arah berlawanan tidak terganggu dan tetap berjalan lancar.
AKP Krisna juga mengimbau para pengendara untuk tetap tertib berlalu lintas. Ia menegaskan agar para sopir tidak saling mendahului atau menyerobot antrean, karena tindakan tersebut justru akan memperparah kemacetan dan mengunci arus lalu lintas.
“Untuk saat ini volume kendaraan masih tinggi namun landai,” ujarnya.
Sementara itu, Pengawas Keselamatan dan Keamanan Pelayaran Balai Pengelola Transportasi Darat (BPTD) Satuan Pelayanan (Satpel) Pelabuhan Ketapang, Rahut menerangkan, cuaca buruk yang sempat melanda Selat Bali menyebabkan sejumlah kapal mengalami kesulitan sandar di dua sisi dermaga. Baik di Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi maupun Pelabuhan Gilimanuk, Bali.
Dampaknya, operasional penyeberangan sempat mengalami keterlambatan hingga memicu kepadatan antrean kendaraan. Antrean bahkan mengular hingga sekitar enam kilometer sampai kawasan Watu Dodol, di Desa Bangsring, Kecamatan Wongsorejo.
“Cuaca buruk kemarin menimbulkan efek domino, dampaknya masih terasa sampai sekarang,” terang Rahut.
Rahut mengungkapkan, cuaca buruk juga masih terjadi pada Kamis pagi. Selain itu, kondisi air surut di dermaga LCM di kedua sisi pelabuhan membuat proses bongkar muat kapal tidak bisa berlangsung maksimal.
“Jumlah kapal yang dioperasikan tetap sebanyak 28 unit, sama seperti operasional pada hari normal. Pelayanan di Pelabuhan Ketapang saat juga mulai berangsur normal seiring kondisi cuaca yang membaik,” paparnya.
Terkait cuaca, Prakirawan BMKG Kantor Layanan Meteorologi Ketapang-Gilimanuk, Yudhi Nugraha Septiadi juga mengatakan, cuaca buruk pada Rabu malam dipicu angin kencang dengan kecepatan mencapai 13 knot disertai tinggi gelombang sekitar 0,7 meter.
Kondisi tersebut menyebabkan sejumlah kapal mengalami kesulitan saat sandar di beberapa dermaga dan memicu keterlambatan operasional yang berdampak berantai terhadap antrean kendaraan.
BMKG memperkirakan potensi hujan ringan masih berpeluang terjadi pada sore hingga malam hari, dengan tinggi gelombang mencapai satu meter.
“Untuk Jumat hingga Sabtu masih ada potensi hujan ringan pada sore hari. Update prakiraan cuaca akan terus kami sampaikan melalui rilis berikutnya,” ujar Yudhi. (Boby)