
DOBO, jurnalpolisi.id
Kemarau panjang yang melanda Kabupaten Kepulauan Aru berdampak pada meningkatnya risiko kebakaran lahan dan hutan serta berkurangnya ketersediaan air bersih bagi masyarakat. Kondisi ini menjadi perhatian serius karena diperkirakan musim kemarau masih berlangsung hingga awal Januari 2027.
Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kabupaten Kepulauan Aru, Fedrik Hendrik, mengatakan potensi kebakaran terus meningkat seiring cuaca kering yang melanda wilayah tersebut dalam beberapa bulan terakhir.
“Berdasarkan informasi BMKG, musim kemarau diperkirakan masih berlangsung hingga awal Januari 2027. Kondisi ini membuat risiko kebakaran lahan dan hutan semakin tinggi,” kata Fedrik saat ditemui di ruang kerjanya, Jumat (4/9/2026).
Menurutnya, dalam periode 9 hingga 28 Agustus 2026 saja tercatat sebanyak 29 kejadian kebakaran lahan di berbagai titik di Kabupaten Kepulauan Aru.
Selain tingginya angka kebakaran, petugas juga menghadapi kendala keterbatasan sumber air saat melakukan pemadaman. Sejumlah sumur yang selama ini menjadi sumber pasokan air mengalami kekeringan akibat kemarau panjang.
Untuk mengatasi persoalan tersebut, Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan bekerja sama dengan pihak swasta yang memiliki mobil tangki air guna membantu suplai air ke lokasi kebakaran.
“Kondisi ini sangat membantu karena air dapat langsung dibawa ke lokasi tanpa harus mencari sumber air yang jauh,” ujarnya.
Fedrik juga mengungkapkan keterbatasan sarana dan peralatan pemadam kebakaran masih menjadi tantangan besar. Sebagian besar peralatan yang digunakan saat ini merupakan pengadaan tahun 2017 dan belum mendapatkan pembaruan hingga sekarang.
“Kami sangat minim peralatan. Peralatan yang ada merupakan pengadaan tahun 2017 dan belum ada pengadaan baru sampai saat ini,” katanya.
Ia berharap Pemerintah Daerah dan DPRD Kabupaten Kepulauan Aru dapat memberikan dukungan berupa tambahan armada pemadam kebakaran, alat pelindung diri (APD), kendaraan pengangkut air, serta sarana pendukung lainnya guna meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi bencana kebakaran.
Menurut Fedrik, sejumlah kawasan di Kota Dobo, termasuk area sekitar Tempat Pembuangan Akhir (TPA), menjadi lokasi yang rawan terjadi kebakaran lahan. Sebagian besar kejadian dipicu oleh aktivitas pembukaan lahan pertanian yang tidak disertai pengawasan terhadap api.
“Kami mengimbau masyarakat yang membuka lahan untuk selalu mengawasi api agar tidak menyebar dan menimbulkan kebakaran yang lebih besar,” ujarnya.
Selain menangani kebakaran, Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan juga membantu distribusi air bersih kepada masyarakat melalui kerja sama dengan Perusahaan Air Minum (PAM). Dalam satu kali penyaluran, sekitar 4.000 liter air didistribusikan ke wilayah yang sulit dijangkau jaringan air bersih.
Penyaluran dilakukan dua kali sehari ke sejumlah titik yang membutuhkan, termasuk kawasan Sewalima Pantai dan beberapa wilayah lainnya yang terdampak kemarau.
Fedrik berharap seluruh pihak meningkatkan kewaspadaan menghadapi dampak kemarau panjang. Menurutnya, dukungan peralatan, armada, dan ketersediaan air sangat penting untuk melindungi keselamatan petugas maupun masyarakat dari ancaman kebakaran dan krisis air bersih.
“Kami meminta perhatian pemerintah daerah karena bencana kebakaran tidak bisa diprediksi. Dukungan peralatan dan sarana penunjang sangat penting untuk memperkuat penanganan di lapangan,” pungkasnya.




