Pemalang – jurnalpolisi.id
Kepala Desa Wangkelang, Kecamatan Moga, Kabupaten Pemalang, Bapak Kodar, menggelar acara tasyakuran sebagai bentuk rasa syukur atas tiga momen penting dalam kehidupannya, yakni peringatan ulang tahun ke-60, weton, serta akhir masa jabatan (AMJ) sebagai Kepala Desa Wangkelang.
Acara tersebut berlangsung pada Senin, 22 Juni 2026, bertempat di Balai Desa Wangkelang, Kecamatan Moga, Kabupaten Pemalang. Kegiatan berlangsung penuh kekeluargaan dan dihadiri oleh perangkat desa, tokoh agama, tokoh masyarakat, tokoh pemuda, serta sejumlah awak media.
Rangkaian acara diawali dengan pemotongan tumpeng sebagai simbol ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa. Pemotongan tumpeng dilakukan langsung oleh Bapak Kodar selaku Kepala Desa Wangkelang. Potongan pertama kemudian diberikan kepada sang istri, Ibu Khasanah, sebagai bentuk penghargaan dan rasa terima kasih atas dukungan, doa, serta pendampingan selama menjalankan kehidupan rumah tangga maupun selama mengemban amanah sebagai kepala desa.
Dalam sambutannya, Bapak Kodar menyampaikan bahwa kegiatan tersebut merupakan wujud syukur atas berbagai nikmat yang telah diberikan Allah SWT. Di antaranya, diberi kesempatan mencapai usia 60 tahun dalam keadaan sehat, dipertemukan dengan hari weton, serta mampu menyelesaikan amanah sebagai kepala desa hingga akhir masa jabatan.
“Alhamdulillah, saya masih diberikan umur panjang, kesehatan, dan kesempatan untuk menyelesaikan tugas pengabdian di Desa Wangkelang. Selama menjabat tentu masih banyak kekurangan, untuk itu saya memohon maaf kepada seluruh masyarakat. Saya juga mengucapkan terima kasih atas dukungan dan kepercayaan yang telah diberikan selama ini,” ujar Bapak Kodar.
Sementara itu, Ibu Khasanah yang mewakili tokoh masyarakat menyampaikan doa dan apresiasi atas pengabdian Bapak Kodar selama memimpin Desa Wangkelang.
“Semoga di usia yang ke-60 ini, Bapak Kodar selalu diberikan kesehatan, keberkahan, dan tetap menjadi sosok yang bermanfaat bagi masyarakat. Semoga segala pengabdian yang telah dilakukan menjadi amal ibadah,” ungkapnya.
Acara kemudian ditutup dengan doa bersama yang dipimpin oleh tokoh agama setempat, dilanjutkan dengan makan bersama sebagai bentuk kebersamaan antara pemerintah desa dan masyarakat.
Eddy Sudarto – Budi Santoso