
BALIKPAPAN – jurnalpolisi.id
Perkembangan harga konsumen di Kota Balikpapan dan Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU), Kalimantan Timur, menunjukkan pergerakan berbeda pada Oktober 2026. Kota Balikpapan mencatat kenaikan inflasi bulanan, sedangkan Kabupaten PPU mengalami deflasi setelah sebelumnya mencatat inflasi.
Berdasarkan data Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Balikpapan, inflasi Kota Balikpapan pada Oktober 2026 tercatat sebesar 0,15 persen secara bulanan (month-to-month/mtm), meningkat dibandingkan September 2026 sebesar 0,08 persen.
Sebaliknya, Kabupaten PPU mencatat deflasi sebesar 0,18 persen (mtm), berbalik dari inflasi sebesar 0,56 persen pada bulan sebelumnya.
Kenaikan harga di Balikpapan terutama dipengaruhi oleh komoditas hortikultura dan tarif angkutan udara. Sementara itu, deflasi di PPU didorong oleh penurunan harga sejumlah komoditas pangan, seperti ikan, daging ayam ras, serta bawang merah dan bawang putih.
Meski mengalami pergerakan berbeda secara bulanan, tekanan inflasi tahunan di kedua wilayah masih meningkat. Inflasi tahunan (year-on-year/yoy) Balikpapan mencapai 4,06 persen, naik dari 3,93 persen pada September 2026.
Adapun inflasi tahunan Kabupaten PPU tercatat sebesar 4,50 persen, meningkat dibandingkan bulan sebelumnya sebesar 4,18 persen.
Realisasi inflasi tahunan kedua daerah tersebut berada di atas inflasi gabungan empat kabupaten/kota Indeks Harga Konsumen (IHK) di Kalimantan Timur sebesar 4,04 persen dan inflasi nasional sebesar 3,23 persen.
Sementara itu, inflasi tahun kalender (year-to-date/ytd) hingga Oktober 2026 tercatat sebesar 2,71 persen di Balikpapan dan 3,92 persen di Kabupaten PPU.
Harga Sayuran dan Angkutan Udara Dorong Inflasi Balikpapan
Inflasi Kota Balikpapan pada Oktober 2026 terutama bersumber dari kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau dengan andil sebesar 0,06 persen (mtm).
Lima komoditas yang menjadi penyumbang utama inflasi adalah sawi hijau, jagung manis, kacang panjang, tomat, dan angkutan udara.
Kenaikan harga sawi hijau dan kacang panjang dipicu oleh berkurangnya pasokan dari petani lokal Balikpapan dan wilayah sekitarnya. Kondisi tersebut dipengaruhi cuaca El Niño yang berdampak terhadap tingkat produksi.
Sementara itu, kenaikan harga jagung manis dan tomat terjadi akibat penurunan pasokan dari daerah sentra produksi, terutama Jawa Timur dan Sulawesi Selatan. Dampak cuaca El Niño terhadap produksi, di tengah permintaan yang masih kuat, turut mendorong kenaikan harga kedua komoditas tersebut.
Tarif angkutan udara juga mengalami peningkatan seiring diberlakukannya kembali fuel surcharge atau biaya tambahan bahan bakar maksimal 40 persen dari tarif batas atas mulai 1 Oktober 2026. Kebijakan tersebut sejalan dengan rata-rata harga avtur yang mencapai Rp23.315 per liter.
Di sisi lain, tekanan deflasi di Balikpapan terutama berasal dari kelompok Perlengkapan, Peralatan, dan Pemeliharaan Rutin Rumah Tangga dengan andil sebesar 0,02 persen (mtm).
Lima komoditas utama penyumbang deflasi terdalam meliputi ikan layang, ikan tongkol, emas perhiasan, semangka, dan bayam.
Penurunan harga ikan layang dan ikan tongkol didukung meningkatnya hasil tangkapan nelayan di perairan Balikpapan dan sekitarnya. Kondisi gelombang laut yang kembali normal turut meningkatkan ketersediaan stok ikan di pasar.
Harga emas perhiasan juga mengalami penurunan sejalan dengan pelemahan harga emas global, yang antara lain dipengaruhi pergeseran preferensi sebagian investor ke instrumen investasi selain emas.
Sementara itu, penurunan harga semangka didukung peningkatan pasokan dari daerah sentra produksi di Jawa. Adapun harga bayam turun akibat meningkatnya pasokan dari petani lokal dan daerah sekitar Balikpapan, seiring panen yang berlangsung bersamaan.
PPU Mengalami Deflasi, Harga Komoditas Pangan Menurun
Deflasi Kabupaten PPU pada Oktober 2026 terutama disumbang kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau dengan andil sebesar 0,24 persen (mtm).
Lima komoditas utama penyumbang deflasi meliputi ikan tongkol, ikan layang, daging ayam ras, bawang merah, dan bawang putih.
Penurunan harga ikan tongkol dan ikan layang didukung membaiknya kondisi gelombang serta perairan laut dibandingkan puncak gelombang tinggi pada Agustus lalu. Kondisi tersebut mendorong peningkatan pasokan hasil tangkapan nelayan lokal.
Harga daging ayam ras juga mengalami penurunan. Hal ini didukung meningkatnya produksi ayam di tingkat peternak, sementara permintaan relatif stabil sehingga pasokan di pasar tetap tersedia dengan harga yang lebih normal.
Penurunan harga bawang merah dipengaruhi meningkatnya frekuensi operasi pasar hingga tingkat kelurahan, didukung kecukupan stok serta distribusi pasokan dari daerah sentra produksi di Jawa dan Sulawesi.
Adapun harga bawang putih menurun seiring tingginya pasokan impor yang mendukung kelancaran distribusi dan peningkatan ketersediaan stok di pasar.
Meski mengalami deflasi secara bulanan, Kabupaten PPU masih menghadapi tekanan inflasi dari sejumlah komoditas.
Penyumbang inflasi tertinggi berasal dari kelompok Perumahan, Air, Listrik, dan Bahan Bakar Rumah Tangga dengan andil sebesar 0,03 persen (mtm).
Lima komoditas utama penyumbang inflasi di PPU pada Oktober 2026 adalah tomat, kacang panjang, sawi hijau, cabai merah, dan cabai rawit.
Kenaikan harga tomat, cabai merah, dan cabai rawit dipicu menurunnya pasokan dari daerah sentra produksi, terutama Jawa Timur dan Sulawesi Selatan, akibat dampak cuaca El Niño terhadap produksi. Kondisi tersebut terjadi di tengah permintaan yang masih kuat.
Sementara itu, kenaikan harga kacang panjang dan sawi hijau dipengaruhi berkurangnya pasokan dari petani lokal Balikpapan dan wilayah sekitarnya akibat kondisi cuaca yang memengaruhi tingkat produksi.
TPID Perkuat Pengendalian Harga dan Pasokan Pangan
Kantor Perwakilan Bank Indonesia Balikpapan bersama pemerintah daerah melalui Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) di Balikpapan, PPU, dan Paser terus memperkuat langkah pengendalian inflasi.
Upaya tersebut dilakukan melalui implementasi Gerakan Pengendalian Inflasi dan Pangan Sejahtera (GPIPS), yang mencakup Gerakan Pangan Murah (GPM), Pasar Murah, dan Operasi Pasar (OP) secara tepat waktu, tepat lokasi, dan tepat sasaran.
Sepanjang Oktober 2026, TPID Balikpapan melaksanakan GPM secara berkala melalui sinergi dengan Bulog sebanyak empat kali dalam seminggu. Selain itu, Bulog juga menginisiasi kegiatan GPM sebanyak lima kali dalam seminggu.
Langkah stabilisasi harga turut diperkuat melalui GPM dan operasi pasar LPG 3 kilogram pada 21–23 Oktober 2026 dalam rangka Hari Pangan Sedunia.
Pemerintah juga melaksanakan pasar murah bergerak atau mobile di sejumlah kawasan perumahan dan kelurahan. Program Gerakan Stabilisasi Inflasi Terkendali (GESIT) Sembako Murah digelar pada 13–31 Oktober 2026, disertai optimalisasi Kios Penyeimbang Manuntung di Pasar Klandasan dan Pasar Pandan Sari.
Di Kabupaten PPU, GPM dilaksanakan pada 15 dan 21 Oktober 2026, serta operasi pasar sembako dan LPG 3 kilogram pada 14–15 Oktober 2026.
Dari sisi produksi, penguatan pangan lokal dilakukan melalui penyebaran bibit hortikultura di Balikpapan dan pengembangan kawasan cabai seluas 10 hektare di Kabupaten Paser dengan dukungan Kementerian Pertanian.
Sementara itu, penguatan distribusi dilakukan melalui koordinasi penyaluran BBM bersama Pertamina Patra Niaga pada 1 Oktober 2026 serta rapat koordinasi integrasi stabilisasi harga pangan pada 14 Oktober 2026.
Bank Indonesia bersama pemerintah daerah juga melakukan penjajakan Kerja Sama Antar Daerah (KAD) antara Balikpapan dan PPU dengan Kabupaten Enrekang serta Kabupaten Bulukumba di Sulawesi Selatan pada 16 Oktober 2026.
Koordinasi tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat pasokan pangan dari daerah sentra produksi sekaligus menjaga stabilitas harga dan daya beli masyarakat.
El Niño dan Biaya Logistik Jadi Risiko Inflasi ke Depan
Bank Indonesia Balikpapan menilai sejumlah risiko masih berpotensi meningkatkan tekanan inflasi pada periode mendatang.
Salah satu risiko utama adalah berlanjutnya fenomena El Niño hingga awal 2027. Kondisi tersebut berpotensi mengganggu produksi dan pasokan pangan akibat keterlambatan penanaman, keterbatasan air, hingga risiko gagal panen yang dapat memengaruhi produktivitas pertanian.
Ketergantungan pasokan pangan Balikpapan dan PPU terhadap daerah sentra produksi di Jawa Timur dan Sulawesi Selatan juga menjadi perhatian. Biaya logistik berpotensi meningkat seiring fluktuasi harga minyak global, yang pada akhirnya dapat mendorong kenaikan harga komoditas pangan bergejolak (volatile food).
Selain itu, ketersediaan dan kelancaran distribusi energi, termasuk BBM dan LPG, perlu terus dijaga untuk mengantisipasi peningkatan permintaan.
Perluasan operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) pada triwulan IV 2026 juga berpotensi meningkatkan permintaan komoditas pangan. Oleh karena itu, penguatan pasokan dan kepastian ketersediaan stok menjadi langkah penting untuk mengantisipasi tekanan harga.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Balikpapan, Robi Ariadi, menyampaikan bahwa sinergi dengan pemerintah daerah dan berbagai pemangku kepentingan akan terus diperkuat melalui TPID.
Pengendalian inflasi dilakukan melalui integrasi kebijakan stabilisasi harga, penguatan pasokan, kelancaran distribusi, serta komunikasi yang efektif mengenai perkembangan harga dan ketersediaan komoditas pangan.
Pada akhir November 2026, KPwBI Balikpapan bersama TPID Balikpapan, PPU, dan Paser juga merencanakan kerja sama pasokan melalui KAD dengan Kabupaten Bulukumba dan Kabupaten Enrekang.
Kerja sama tersebut menjadi bagian dari optimalisasi program dan kebijakan dalam peta jalan pengendalian inflasi daerah 2025–2027.
Bank Indonesia Balikpapan berharap berbagai langkah tersebut dapat mendorong implementasi GPIPS secara konsisten, terukur, dan berkelanjutan, sehingga inflasi daerah tetap terkendali dalam sasaran inflasi nasional 2026 sebesar 2,5 persen ±1 persen.
(Alfian)




