Bengkalis – jurnalpolisi.id
Hari ini, Minggu, 10 Mei 2026, sebagian besar penduduk dunia merayakan International Mother’s Day. Di layar gawai, kita akan melihat jutaan unggahan berisi buket bunga, ucapan terima kasih yang manis, hingga pujian setinggi langit tentang betapa hebatnya sosok ibu. Masyarakat kita gemar sekali melabeli ibu dengan atribut kemuliaan: “tangan yang mengayun buaian”, “tiang doa keluarga”, hingga “pahlawan tanpa tanda jasa”. Namun, di balik segala glorifikasi tersebut, pernahkah kita secara jujur bertanya: “Di manakah letak diri sang ibu di tengah tumpukan peran yang ia pikul?”
Sering kali, “kemuliaan” yang kita sematkan kepada ibu adalah sebuah jebakan halus yang menuntut pengorbanan tanpa batas. Kita secara tidak sadar meromantisasi penderitaan ibu. Kita menganggap wajar jika seorang ibu memakan nasi sisa anak-anaknya agar tidak mubazir, atau selalu memilih bagian kepala ikan agar potongan daging terbaik bisa dinikmati suami dan buah hatinya. Kita dibesarkan dengan doktrin bahwa ibu yang baik adalah ibu yang telah berhasil “menghilangkan” dirinya sendiri demi kebahagiaan orang lain.
Padahal, pengabdian tidak harus berarti peniadaan diri. Di momen Hari Ibu Internasional ini, saya ingin menggugat narasi “Ibu sebagai martir” tersebut. Ibu adalah manusia utuh, bukan sekadar pelayan domestik atau mesin reproduksi kebahagiaan bagi anggota keluarga lainnya. Ia memiliki rasa lelah yang nyata, mimpi-mimpi yang mungkin tersimpan di laci terdalam, serta hak yang sah untuk merasakan kebahagiaan bagi dirinya sendiri—bukan hanya kebahagiaan yang dipantulkan dari senyum anak-anaknya.
Dalam perspektif Administrasi Publik yang inklusif, kesejahteraan seorang ibu seharusnya menjadi indikator utama kesehatan sebuah masyarakat. Namun, realitasnya, ibu sering kali menjadi kelompok yang paling “sunyi” dalam kebijakan publik. Ia memikul beban domestik yang berat, menavigasi tantangan ekonomi di dapur, hingga sering kali harus berjuang sendiri menjaga kewarasan mentalnya di tengah tuntutan peran yang saling tumpang tindih. Kita harus berhenti menuntut ibu untuk menjadi “Supermom” yang tak boleh retak, karena di bawah jubah perkasa itu, ada jiwa yang juga butuh dipeluk dan didengar.
Kesehatan mental ibu adalah fondasi dari ketahanan sebuah peradaban. Pepatah mengatakan bahwa kita tidak bisa menuangkan air dari cangkir yang kosong. Seorang ibu tidak akan bisa memberikan cinta yang berkualitas jika batinnya kering dan kelelahan. Oleh karena itu, mendahulukan kebahagiaan diri sendiri bagi seorang ibu bukanlah tindakan egois; itu adalah tindakan bertanggung jawab. Ibu yang bahagia, yang memiliki waktu untuk dirinya sendiri, dan yang merasa dihargai sebagai individu, akan melahirkan energi positif yang jauh lebih besar bagi keluarganya.
Maka, pesan saya untuk seluruh ibu di luar sana: ambillah waktu untuk bernapas. Berhentilah merasa bersalah karena ingin beristirahat. Anda tidak perlu memikul beban dunia di pundak Anda sendirian. Emansipasi yang sesungguhnya bukanlah tentang kemampuan perempuan untuk melakukan segalanya, melainkan tentang keberanian untuk menetapkan batasan dan hak untuk berbagi beban secara adil.
Dan bagi kita, para suami dan anak-anak, berhentilah memuji kelelahan ibu. Berhentilah memuja pengorbanan batinnya. Berikanlah ia ruang untuk menjadi dirinya sendiri. Dukunglah mimpi-mimpinya, hargai hobinya, dan pastikan ia merasakan daging terbaik dari hidangan kehidupan, bukan sekadar sisa-sisa kebahagiaan dari meja makan kita.
Selamat Hari Ibu Internasional untuk para perempuan hebat yang berani memilih untuk bahagia. Mari kita ingat bahwa dunia ini menjadi lebih indah bukan karena ibu yang menderita dalam diam, melainkan karena ibu yang berdaya, bercahaya, dan mencintai dirinya sendiri dengan setara.
Oleh: Hildawati, S.Sos., M.Si.
Drs. Sopyan, M.Si