
BALIKPAPAN – jurnalpolisi.id
Otorita Ibu Kota Nusantara (OIKN) bersama TNI Angkatan Udara (TNI AU) dan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyiapkan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk mengantisipasi dampak musim kering di kawasan Ibu Kota Nusantara (IKN) dan sekitarnya.
Operasi tersebut dilakukan sebagai langkah mitigasi untuk menjaga ketersediaan air permukaan sekaligus menekan potensi munculnya titik panas yang dapat memicu kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Dalam pelaksanaannya, OMC akan dilakukan dengan menyemai awan yang memenuhi persyaratan menggunakan bahan semai berupa natrium klorida (NaCl) atau garam. Penyemaian dilakukan dari udara menggunakan pesawat yang telah disiapkan TNI AU.
Staf Khusus Kepala Otorita IKN Bidang Manajemen dan Strategi Konstruksi, Danis Hidayat Sumadilaga, mengatakan langkah tersebut dilakukan menyusul kondisi musim kering yang cukup panjang di Kalimantan Timur.
“Pada saat ini kita mengalami musim kering. Dampak dari terjadinya El Nino bukan hanya di Kaltim, tetapi di seluruh Indonesia, bahkan di seluruh dunia,” kata Danis saat ditemui di Base Ops Lanud Dhomber Balikpapan, Jumat (21/8/2026).
Menurut Danis, kondisi tersebut perlu diantisipasi karena dapat memengaruhi ketersediaan air baku di kawasan IKN. Selain itu, musim kering juga berpotensi meningkatkan jumlah titik panas yang dapat berkembang menjadi karhutla.
“Yang perlu kita antisipasi adalah khususnya yang berkaitan dengan ketersediaan air.
Makanya kita mencoba melakukan modifikasi cuaca untuk secara sederhana menambah volume air permukaan yang ada di wilayah IKN dan sekitar,” ujarnya.
Danis menjelaskan, kondisi ketersediaan air di kawasan IKN saat ini masih tergolong baik.
Namun, penurunan muka air mulai terlihat di sejumlah sumber air, termasuk Bendungan Sepaku Semoi, embung-embung di Kawasan Inti Pusat Pemerintahan (KIPP), serta intake Sungai Sepaku.
“Kondisi air saat ini masih baik, tapi memang di waduk, di Bendungan Sepaku Semoi dan sejumlah embung di KIPP semuanya sudah terjadi penurunan air. Kemudian juga di intake Sungai Sepaku,” katanya.
Karena itu, OIKN memilih melakukan langkah antisipasi sejak dini agar kondisi tersebut tidak berkembang menjadi krisis air.
“Kita harus mengantisipasi, jangan sampai kering, terus kemudian nanti kita sampai kekurangan air,” tegas Danis.
Pesawat Cassa NC-212 Disiapkan
Dalam pelaksanaan OMC, OIKN mendapat dukungan dari BMKG dan TNI AU. Satu unit pesawat Cassa NC-212 dari Skadron Udara 4 Lanud Abdulrachman Saleh, Malang, Jawa Timur, diperbantukan untuk mendukung operasi tersebut.
Danlanud Dhomber Balikpapan Kolonel Pnb I Gusti Ngurah Sorga Laksana mengatakan pesawat dan kru telah disiapkan untuk melaksanakan OMC di wilayah Kalimantan Timur pada 22–27 Agustus 2026.
“Hari ini sudah ada satu BKO pesawat Cassa NC-212 Skadron Udara 4 Lanud Abdulrachman Saleh, Malang, Jawa Timur, dengan kru yang sesuai dengan perintah untuk mendukung kegiatan operasi modifikasi cuaca mulai dari tanggal 22 Agustus sampai dengan 27 Agustus,” kata Gusti.
Ia memastikan kesiapan pesawat maupun bahan semai telah dilakukan. Garam NaCl telah tersedia di Lanud Dhomber dan akan digunakan ketika terdapat awan yang memenuhi persyaratan untuk dilakukan penyemaian.
“Kami sudah mengecek kesiapan dari pesawat, kemudian garam juga sudah berada di Lanud Dhomber. Tinggal menunggu potensi cuaca yang tadi disampaikan,” ujarnya.
Menurut Gusti, pesawat Cassa NC-212 memiliki kemampuan terbang hingga sekitar empat jam dan dapat membawa bahan semai NaCl dengan kapasitas sekitar 800 kilogram dalam satu penerbangan.
“Pesawat kita mampu terbang dengan endurance empat jam sehingga mampu membawa garam sampai dengan 800 kilogram,” katanya.
Ia berharap dukungan TNI AU tersebut dapat membantu pemerintah, khususnya OIKN dan Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur, dalam menghadapi kondisi musim kering.
Hampir Dua Pekan Kaltim Tanpa Hujan
Sementara itu, Kepala Stasiun Meteorologi Sultan Aji Muhammad Sulaiman (SAMS) Sepinggan Balikpapan, Djoko Sumardiono, mengatakan wilayah Kalimantan Timur telah hampir dua pekan tidak mengalami hujan.
Kondisi tersebut menjadi salah satu tantangan dalam pelaksanaan OMC karena keberhasilan penyemaian sangat bergantung pada ketersediaan awan yang memenuhi karakteristik tertentu.
“Memang di Kalimantan Timur sudah hampir dua pekan ini tidak turun hujan,” kata Djoko.
Ia menjelaskan, tidak semua awan dapat menjadi sasaran OMC. Awan harus memiliki karakteristik dan kandungan air yang memadai agar proses penyemaian dapat dilakukan secara efektif.
Berdasarkan hasil pemantauan cuaca, pertumbuhan awan potensial pada saat briefing berada di wilayah perbatasan utara Kalimantan Timur. Namun, arah pergerakan awan menuju utara membuat operasi tidak dapat dilakukan secara langsung pada hari tersebut.
“Perkembangan awan itu adanya di perbatasan utara di Kalimantan Timur. Itu sangat bagus untuk dilakukan operasi modifikasi cuaca di situ. Namun, misi kita ini tidak tercapai apabila kita lakukan modifikasi cuaca pada saat hari ini, karena perkembangan cuacanya di perbatasan Kalimantan Timur malah ke utara,” jelasnya.
Djoko menambahkan, keberhasilan OMC sangat dipengaruhi dinamika atmosfer serta ketersediaan awan yang dapat disemai. Berdasarkan catatan historis, tingkat keberhasilan operasi berada di kisaran 30 persen.
“Secara historis itu 30 persen keberhasilannya,” ujarnya.
Dengan kondisi musim kering dan pertumbuhan awan yang relatif terbatas, OIKN bersama BMKG dan TNI AU akan terus memantau perkembangan atmosfer dan potensi awan di wilayah Kalimantan Timur.
Apabila terdapat awan yang memenuhi persyaratan, pesawat akan segera diterbangkan untuk melakukan penyemaian NaCl.
Upaya tersebut diharapkan dapat meningkatkan peluang terjadinya hujan di kawasan IKN dan sekitarnya, menjaga cadangan air permukaan, serta mengurangi risiko kekeringan dan karhutla selama periode musim kering.
( Alfian )




