
KOTA SUKABUMI – jurnalpolisi.id
Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI) tingkat Kota Sukabumi menjadi momentum penting dalam memperkuat pelestarian bahasa dan budaya Sunda di kalangan generasi muda, khususnya peserta didik jenjang Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP).yang di gelar Di SDN CBM Suryakencana, Kec.Cikole ,Rabu (4/11/2026).
Kegiatan tersebut tidak hanya menjadi ajang kompetisi, tetapi juga wadah aktualisasi kemampuan peserta didik sekaligus bentuk apresiasi terhadap upaya menjaga keberlangsungan bahasa ibu di tengah perkembangan zaman.
Saat di Wawancarai Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan kota sukabumi Novian menjelaskan , bahwa penyelenggaraan FTBI diharapkan mampu menumbuhkan kecintaan dan kebanggaan peserta didik terhadap bahasa Sunda, sekaligus mendorong penggunaannya dalam kehidupan sehari-hari.
“FTBI ini merupakan ruang aktualisasi sekaligus apresiasi bagi peserta didik. Harapannya, mereka tidak hanya mencintai dan bangga terhadap bahasa Sunda, tetapi juga mempelajari, menggunakan, serta membiasakannya dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya.
Ia menegaskan, pelestarian bahasa daerah harus tetap berjalan seiring dengan perkembangan globalisasi. Hal tersebut sejalan dengan semangat Think Global, Act Local serta konsep Trigatra Bangun Bahasa, yakni mengutamakan bahasa Indonesia, melestarikan bahasa daerah, dan menguasai bahasa asing.
“Kita harus mampu berpikir global dengan menguasai bahasa asing. Namun, di sisi lain, bahasa ibu sebagai identitas budaya daerah juga harus terus dijaga dan dilestarikan,”jelasnya.
Menurut Novian , bahasa Sunda bukan sekadar sarana komunikasi, melainkan juga mengandung nilai-nilai luhur yang menjadi fondasi pembentukan karakter generasi muda.
Melalui bahasa Sunda, peserta didik dapat mempelajari nilai kesopanan, tata kramah, etika, penghormatan terhadap sesama, serta norma kehidupan yang telah diwariskan secara turun-temurun.
“Harapan besar kami, generasi penerus bangsa, khususnya para peserta didik, tidak hanya tumbuh menjadi generasi yang cerdas, tetapi juga berkarakter, beradab, dan berbudaya,”ungkapnya.
Pelestarian Aksara Sunda Jadi Perhatian
Selain mendorong penggunaan bahasa Sunda dalam kehidupan sehari-hari, upaya pelestarian aksara Sunda juga menjadi bagian penting dalam menjaga identitas budaya daerah.
Ia mencontohkan negara-negara seperti Jepang, Korea, dan Tiongkok yang hingga kini tetap mempertahankan penggunaan aksara masing-masing, meskipun telah mengalami kemajuan pesat dalam berbagai bidang.
Menurutnya, Kota Sukabumi juga dapat terus mengembangkan penggunaan aksara Sunda pada berbagai media informasi, termasuk spanduk kegiatan dan ruang publik.
“Di Jepang, Korea, dan Tiongkok, tulisan asli mereka tetap digunakan dan dilestarikan. Kita juga perlu melakukan hal serupa. Salah satu contohnya, dalam banner kegiatan sudah ditampilkan tulisan Sunda sebagai bentuk pelestarian budaya,” terangnya.
Ia menambahkan, penggunaan aksara Sunda dapat disandingkan dengan bahasa Indonesia maupun bahasa asing sebagai wujud keseimbangan antara pelestarian budaya lokal dan perkembangan global.
FTBI Diharapkan Menjadi Gerakan Berkelanjutan
Pelaksanaan FTBI tingkat Kota Sukabumi melibatkan peserta didik dari jenjang SD dan SMP, dengan kegiatan yang dilaksanakan secara bertahap.
Pada hari pertama, kegiatan diperuntukkan bagi peserta jenjang SD, sedangkan jenjang SMP dijadwalkan mengikuti kegiatan pada hari berikutnya.
Melalui festival tersebut, diharapkan tumbuh kesadaran bersama bahwa pelestarian bahasa ibu bukan hanya menjadi tanggung jawab dunia pendidikan, tetapi juga membutuhkan dukungan keluarga dan masyarakat.
FTBI diharapkan mampu melahirkan generasi muda Kota Sukabumi yang tidak hanya unggul dalam bidang akademik, tetapi juga memiliki kebanggaan terhadap bahasa daerah, menjunjung tinggi nilai kesantunan, serta mampu menjaga warisan budaya leluhur.
Dengan demikian, Festival Tunas Bahasa Ibu bukan sekadar kegiatan seremonial tahunan, melainkan menjadi salah satu langkah strategis dalam memastikan bahasa dan budaya Sunda tetap hidup, berkembang, serta diwariskan kepada generasi mendatang,”pungkasnya.
Neng Nur




