
Labuhanbatu,- jurnalpolisi.id
Di rumah PDI Perjuangan Kabupaten Labuhanbatu, doa-doa berkumandang
Bukan doa biasa. Ini doa untuk mengenang seorang manusia yang namanya pernah menggetarkan dunia Ir. Soekarno,Sang Fajar, Bapak Proklamator pada Kamis, 09/06/2026
56 tahun telah berlalu sejak 21 Juni 1970 beliau kembali ke pangkuan Ibu Pertiwi, Namun gagasannya tak pernah mati. Ia hidup di dada para kader, di bisik sejarah, di setiap bait Pancasila.
Acara dibuka dengan munajat. Al Ustadz Ahmad Azhar Siregar memimpin doa, menengadahkan tangan agar semangat kebangsaan tidak padam ditelan zaman.
Kemudian Saptono, S.E. , Ketua DPC PDI Perjuangan Labuhanbatu Suaranya tenang, tapi menggema menyampaikan
“Hari ini kita tidak sekadar mengenang, tapi kita meneladani Bung Karno bukan hanya Bapak Bangsa tapi Beliau adalah cermin tentang bagaimana memimpin dengan hati, berpikir dengan bangsa, dan bertindak untuk rakyat, Nilai-nilainya, hingga hari ini, masih relevan. Masih segar. Masih menampar kita agar tidak lupa jati diri sebagai anak bangsa, ” Ungkap Saptono
Mewakili seluruh PAC se-Kabupaten Labuhanbatu, Ketua PAC Rantau Selatan Syahrizal Rambe, S.E. pun bersuara menyampaikan, “Syukur karena api nasionalisme yang dinyalakan Bung Karno belum padam. Masih menyala di dada kader, ” Ungkap Syahrizal Rambe
Tiba-tiba suasana melunak, ketika para yang hadir menyantuni anak yatim. tangan-tangan para kader mengulurkan kasih.
Mewakili orang tua para yatim menyampaikan bisik lirih terdengar,
“Terima kasih. Semoga ini menjadi amal. Semoga menjadi berkah.” Ungkap seorang Ibu
Puncak acara adalah ceramah, Al Ustadz Ahmad Azhar Siregar menyampaikan, “Soekarno itu bukti. Bahwa Islam dan Indonesia bisa berjalan seiring. Nasionalisme dan keimanan bukan dua kutub yang bertentangan. Ia satu senyawa. Satu napas. Beliau orang baik. Dan orang baik, akan selalu dikenang kebaikannya.” Ungkap Ustad tersebut
Kemudian Sang penceramah itu lalu membuka lembaran sejarah Tentang KH. A. Wahid Hasyim dari NU, tentang KH. Hasyim Asy’ari terkait tentang bagaimana Pancasil pernahdiserahkan, lalu diistikharahkan dengan puasa dan Al-Qur’an.
“Dan hasilnya menyatakan, Sah sejalan dengan syariat dan Layak jadi dasar negeri ini.” Ungkap Al ustad Ahmad Azhar Siregar
Haul ke-56 pun usai namun Saptono, S.E. Ketua DPC PDI Perjuangan berharap, Gotong royong Nasionalisme. Religiusitas kini akan menjadi teladan bagi kita bersama.
Karena bangsa ini hanya akan besar,
jika kita mau berjalan lagi di bawah bayang Sang Fajar.
Reporter JPN
Eka Hombing




