
BANYUMAS – jurnalpolisi.id
Peringatan 98 tahun Sumpah Pemuda menjadi momentum untuk meneguhkan kembali semangat persatuan, nasionalisme, dan pengabdian kepada bangsa. Nilai-nilai yang diikrarkan para pemuda pada 28 Oktober 1928 tersebut dinilai tetap relevan sebagai landasan dalam menghadapi tantangan zaman dan membangun Indonesia yang lebih maju.
Semangat itu tercermin dalam upacara peringatan Hari Sumpah Pemuda yang dipimpin Komandan Korem (Danrem) 071/Wijayakusuma, Kolonel Inf Sidik Wiyono, S.H., M.Tr.(Han)., selaku Inspektur Upacara di lapangan upacara Makorem 071/Wijayakusuma, Sokaraja, Kabupaten Banyumas, Rabu (28/10/2026).
Dalam upacara yang diikuti prajurit TNI dan pegawai negeri sipil (PNS) Korem 071/Wijayakusuma tersebut, Danrem membacakan amanat Menteri Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia, Erick Thohir, yang menekankan pentingnya membentuk generasi muda yang patriotik, gigih, dan berempati sebagai kekuatan untuk membawa bangsa menuju masa depan yang lebih baik.
Peringatan Sumpah Pemuda tahun ini bukan sekadar mengenang peristiwa bersejarah, melainkan juga menjadi pengingat bahwa persatuan merupakan fondasi penting bagi keberlangsungan dan kemajuan bangsa Indonesia.
Pada 28 Oktober 1928, para pemuda dari berbagai daerah, suku, dan latar belakang menyatukan tekad melalui ikrar bertumpah darah satu, berbangsa satu, dan menjunjung bahasa persatuan, Indonesia. Semangat tersebut menjadi tonggak penting dalam perjalanan perjuangan nasional, ketika kesadaran sebagai satu bangsa ditempatkan di atas berbagai perbedaan.
Hampir satu abad kemudian, pesan itu tetap memiliki arti mendalam. Tantangan yang dihadapi generasi muda saat ini memang berbeda, tetapi semangat yang dibutuhkan tetap sama: persatuan, keberanian menghadapi perubahan, dan kesediaan menempatkan kepentingan bangsa di atas kepentingan pribadi maupun golongan.
Menyiapkan Generasi Patriotik, Gigih, dan Berempati
Dalam amanat Menteri Pemuda dan Olahraga yang dibacakan Danrem 071/Wijayakusuma, Erick Thohir menekankan bahwa masa depan Indonesia membutuhkan generasi yang tidak hanya unggul dalam kemampuan dan prestasi, tetapi juga memiliki karakter kuat serta kepedulian sosial.
Generasi patriotik, menurut amanat tersebut, adalah mereka yang mencintai Indonesia bukan hanya melalui kata-kata, melainkan melalui pengabdian dan tindakan nyata. Kecintaan kepada tanah air harus diwujudkan dalam karya, prestasi, tanggung jawab, serta kontribusi yang memberikan manfaat bagi masyarakat dan negara.
Karakter berikutnya adalah kegigihan. Pemuda Indonesia diharapkan tidak mudah menyerah ketika menghadapi kesulitan, tidak terpuruk saat mengalami kegagalan, dan terus berjuang untuk memberikan yang terbaik bagi bangsa. Kegigihan menjadi modal penting dalam menghadapi persaingan global, perkembangan teknologi, serta perubahan sosial yang berlangsung semakin cepat.
Selain patriotisme dan kegigihan, empati juga menjadi karakter yang tidak boleh ditinggalkan. Generasi muda perlu memiliki kepekaan terhadap kondisi lingkungan dan kesulitan yang dihadapi orang lain. Keberhasilan pribadi hendaknya berjalan seiring dengan kepedulian untuk membantu sesama dan berkontribusi bagi kehidupan masyarakat.
Dalam amanatnya, Menpora Erick Thohir menyampaikan pesan:
“Sebab, patriotisme tanpa kepedulian akan kehilangan maknanya. Kegagalan tanpa nurani akan kehilangan arahnya. Dan kemajuan tanpa kemanusiaan bukanlah kemajuan yang sesungguhnya.”
Pesan tersebut mengandung makna bahwa kemajuan bangsa tidak cukup hanya diukur dari pencapaian ekonomi, penguasaan teknologi, maupun prestasi individu. Kemajuan yang sesungguhnya juga harus tercermin dalam kualitas moral, solidaritas, integritas, dan kemampuan masyarakat untuk tumbuh bersama.
Persatuan Menjadi Kekuatan di Tengah Perbedaan
Makna Sumpah Pemuda tidak dapat dilepaskan dari kenyataan bahwa Indonesia merupakan bangsa yang dibangun di atas keberagaman. Perbedaan suku, agama, budaya, bahasa, dan pandangan merupakan bagian dari kehidupan nasional yang harus dirawat sebagai kekuatan, bukan dijadikan alasan untuk membangun sekat perpecahan.
Semangat persatuan yang diwariskan para pemuda 1928 mengajarkan bahwa cita-cita bersama hanya dapat diwujudkan apabila seluruh elemen bangsa bersedia saling menghormati, bekerja sama, dan mengutamakan kepentingan nasional.
Di tengah perkembangan teknologi informasi dan derasnya arus komunikasi digital, nilai tersebut semakin penting. Generasi muda dituntut mampu menggunakan teknologi secara bijak, menyaring informasi secara kritis, serta tidak mudah terprovokasi oleh kabar bohong, ujaran kebencian, maupun narasi yang berpotensi memecah belah masyarakat.
Menjaga persatuan bukan berarti menghilangkan perbedaan pendapat. Sebaliknya, persatuan tumbuh ketika perbedaan disikapi secara dewasa, dialog dikedepankan, dan setiap persoalan diselesaikan dengan menjunjung tinggi rasa hormat serta tanggung jawab bersama.
Karena itu, semangat Sumpah Pemuda perlu hadir dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari lingkungan keluarga, sekolah, tempat kerja, hingga ruang digital. Sikap toleran, semangat gotong royong, kepedulian sosial, dan penghormatan terhadap sesama merupakan bentuk nyata dalam menjaga keutuhan bangsa.
Pengabdian kepada Rakyat sebagai Wujud Nasionalisme
Bagi prajurit TNI Angkatan Darat, nilai-nilai Sumpah Pemuda juga menjadi pengingat akan pentingnya menjaga komitmen pengabdian kepada bangsa dan negara. Disiplin, loyalitas terhadap tugas, tanggung jawab, dan semangat kebersamaan merupakan bagian dari karakter yang diperlukan dalam menjalankan pengabdian.
Pengabdian kepada negara tidak hanya berkaitan dengan pelaksanaan tugas pertahanan, tetapi juga dengan kepedulian terhadap masyarakat dan upaya memperkuat kemanunggalan TNI dengan rakyat. Kehadiran prajurit di tengah masyarakat harus senantiasa berorientasi pada kepentingan bangsa serta memberikan manfaat bagi kehidupan bersama.
Dalam konteks tersebut, semangat persatuan menjadi landasan untuk memperkuat hubungan antara TNI dan rakyat. Keutuhan NKRI tidak hanya dijaga melalui kekuatan pertahanan, tetapi juga melalui kokohnya persaudaraan, kepercayaan, dan kerja sama seluruh komponen bangsa.
Peringatan Hari Sumpah Pemuda di Makorem 071/Wijayakusuma menjadi momentum untuk kembali meneguhkan komitmen tersebut, sekaligus mengingatkan bahwa setiap generasi memiliki tanggung jawab dalam melanjutkan perjuangan bangsa sesuai dengan peran dan kemampuannya masing-masing.
Sumpah Pemuda Harus Hidup dalam Tindakan Nyata
Melalui peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-98, Korem 071/Wijayakusuma mengajak seluruh elemen masyarakat, khususnya generasi muda, untuk terus memelihara persatuan, memperkuat nasionalisme, meningkatkan prestasi, serta mengembangkan kepedulian terhadap lingkungan dan sesama.
Generasi muda diharapkan tidak hanya menjadi penonton dalam perjalanan pembangunan bangsa, tetapi tampil sebagai bagian dari solusi melalui pendidikan, kreativitas, inovasi, kewirausahaan, kegiatan sosial, dan berbagai karya yang memberikan dampak positif bagi masyarakat.
Semangat pemuda harus diwujudkan melalui keberanian untuk berbuat, ketekunan dalam berkarya, serta kesediaan untuk mengambil tanggung jawab. Setiap kontribusi, sekecil apa pun, memiliki arti apabila dilakukan dengan ketulusan dan diarahkan bagi kepentingan bersama.
Sumpah Pemuda telah membuktikan bahwa perubahan besar dapat dimulai dari kesadaran untuk bersatu. Para pemuda pada 1928 tidak membiarkan perbedaan menghalangi lahirnya tekad kebangsaan. Kini, generasi penerus memiliki tanggung jawab untuk menjaga warisan tersebut sekaligus menjawab tantangan zaman dengan kemampuan, karakter, dan semangat pengabdian.
Sembilan puluh delapan tahun setelah ikrar itu dikumandangkan, pesan Sumpah Pemuda tetap tegas: Indonesia akan semakin kuat ketika generasi mudanya bersatu, berani berkarya, peduli terhadap sesama, dan menempatkan kepentingan bangsa di atas segala perbedaan.
Sebab, Sumpah Pemuda bukan hanya peristiwa yang dikenang setiap 28 Oktober, melainkan semangat yang harus terus hidup dalam setiap langkah untuk menjaga persatuan, memperkokoh kebangsaan, dan mewujudkan Indonesia yang maju, adil, serta bermartabat. ( Arif JPN)




