Samarinda jurnalpolisi.id
Upaya pelestarian budaya lokal sekaligus penguatan persatuan masyarakat kembali diwujudkan melalui penyelenggaraan Aruh Ganal Laung Kuning ke-3 yang digelar di Rumah Adat BAKUDA (Banjar, Kutai, Dayak), Kota Samarinda, Sabtu (30/5/2026). Kegiatan budaya tahunan tersebut berlangsung meriah dan dihadiri ratusan peserta dari berbagai kalangan, mulai dari tokoh adat, tokoh masyarakat, tokoh agama, budayawan, hingga unsur pemerintah daerah dari Kalimantan Timur dan Kalimantan Selatan.
Kapolres Penajam Paser Utara (PPU) AKBP Andreas Alek Danantara, S.I.K., M.M., M.Tr.SOU., diwakili Wakapolres PPU Kompol Roganda, S.H., turut menghadiri kegiatan sebagai bentuk dukungan Polri terhadap pelestarian budaya daerah serta penguatan nilai persatuan dan kebersamaan di tengah masyarakat.
Turut hadir dalam kegiatan tersebut Wakil Wali Kota Samarinda H. Saefudin Zuhri, S.E., M.M., Ketua Kerukunan Adat Banjar Dr. H. Irianto Lambrie, M.M., perwakilan Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XIV Kementerian Kebudayaan, unsur Kesbangpol Kota Samarinda, tokoh seni budaya, organisasi kemasyarakatan, serta berbagai elemen masyarakat lainnya.
Rangkaian acara diawali dengan doa bersama dan pembukaan resmi, dilanjutkan dengan penampilan seni budaya khas Banjar yang menggambarkan kekayaan tradisi dan nilai-nilai kearifan lokal yang masih terjaga hingga saat ini.
Suasana semakin khidmat saat seluruh peserta menyanyikan Lagu Indonesia Raya sebagai simbol persatuan dalam keberagaman budaya Nusantara.
Ketua Panitia Aruh Ganal Laung Kuning ke-3, Isriansyah, mengatakan kegiatan tersebut merupakan bagian dari peringatan Milad ke-3 organisasi Laung Kuning yang bertujuan memperkuat eksistensi budaya Banjar sekaligus mempererat silaturahmi masyarakat Banjar yang tersebar di berbagai wilayah Kalimantan.
“Aruh Ganal bukan sekadar perayaan hari jadi organisasi, tetapi juga menjadi ruang bersama untuk menjaga warisan budaya leluhur, mempererat persaudaraan, dan menanamkan kecintaan terhadap budaya Banjar kepada generasi muda,” ujarnya.
Salah satu agenda yang mendapat perhatian peserta adalah pembacaan Syair Hikayat Pulau Sugara yang sarat dengan pesan moral, nilai sejarah, dan kearifan lokal masyarakat Banjar. Penampilan tersebut menjadi pengingat pentingnya menjaga identitas budaya sebagai bagian dari karakter dan jati diri bangsa.
Dalam kesempatan itu, Kompol Roganda menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan yang dinilai mampu menjadi wadah pemersatu masyarakat sekaligus sarana efektif dalam menjaga keberlangsungan budaya daerah.
Menurutnya, budaya merupakan aset bangsa yang memiliki peran penting dalam membangun karakter masyarakat yang berlandaskan nilai-nilai kebersamaan, toleransi, dan persaudaraan.
“Budaya adalah perekat sosial yang mampu menyatukan berbagai elemen masyarakat.
Kegiatan Aruh Ganal Laung Kuning ini menjadi contoh nyata bagaimana pelestarian budaya dapat berjalan seiring dengan upaya memperkuat persatuan, menjaga kerukunan, dan membangun kebersamaan,” kata Kompol Roganda.
Ia menegaskan bahwa Polri mendukung berbagai kegiatan budaya dan kemasyarakatan yang bersifat edukatif, memperkuat persatuan, serta berkontribusi dalam menciptakan situasi keamanan dan ketertiban masyarakat yang kondusif.
Kemegahan Aruh Ganal Laung Kuning ke-3 semakin terasa melalui penampilan berbagai kesenian tradisional Banjar seperti Madihin, Kuntau, tarian daerah, hingga atraksi budaya yang memukau para tamu undangan. Selain menjadi sarana hiburan, pertunjukan tersebut juga menjadi media edukasi budaya bagi generasi muda agar lebih mengenal dan mencintai warisan leluhurnya.
Kegiatan ini sekaligus menjadi momentum memperkuat sinergi antara pemerintah daerah, aparat keamanan, tokoh adat, tokoh agama, dan masyarakat dalam menjaga keharmonisan sosial serta melestarikan nilai-nilai budaya yang menjadi identitas masyarakat Kalimantan.
Usai pembukaan, kegiatan dilanjutkan dengan agenda organisasi Laung Kuning, termasuk pembahasan program kerja dan proses regenerasi kepengurusan sebagai upaya memastikan keberlangsungan organisasi dalam menjaga dan mengembangkan budaya Banjar di masa mendatang.
Seluruh rangkaian kegiatan berlangsung aman, tertib, dan penuh kekeluargaan. Tingginya antusiasme masyarakat menunjukkan bahwa budaya Banjar tetap hidup dan berkembang di tengah modernisasi serta menjadi kebanggaan yang patut dijaga dan diwariskan kepada generasi penerus.
Melalui Aruh Ganal Laung Kuning ke-3, semangat pelestarian budaya tidak hanya diwujudkan dalam seremoni semata, tetapi juga menjadi gerakan nyata untuk memperkuat identitas daerah, mempererat persaudaraan, serta menjaga keberagaman sebagai kekuatan bangsa Indonesia.
( Alfian )