NTT, jurnalpolisi.id
Kepala Kepolisian Resor (Kapolres) Timor Tengah Selatan (TTS), AKBP Hendra Dorizen, S.H., S.I.K., M.H., memimpin kegiatan Press Release pengungkapan kasus pencurian kabel listrik milik PT PLN (Persero) Ranting SoE.
Kegiatan yang menghadirkan para tersangka beserta barang bukti tersebut digelar di lobi Mapolres TTS pada Senin (22/06/2026) pagi sekitar pukul 09.00 WITA tadi pagi.
Dalam pelaksanaan press release tersebut, Kapolres didampingi, Kasat Reskrim AKP I Wayan Pasek Sujana, S.H., M.H., dan Kasi Humas IPTU Sirta Siregar.
Dalam keterangan persnya, Kapolres TTS AKBP Hendra Dorizen, S.H., S.I.K., M.H., menjelaskan bahwa pengungkapan kasus ini merupakan tindak lanjut cepat dari laporan resmi pihak PLN dengan nomor registrasi LP/42/V/2026/SPKT/Polres TTS/Polda NTT tertanggal 19 Juni 2026. Peristiwa pencurian itu sendiri terjadi pada Kamis, 18 Juni 2026 lalu.
“Setelah menerima laporan resmi dari pihak korban (PLN), aparat Satreskrim Polres TTS langsung bergerak cepat melakukan penyelidikan dan berhasil mengamankan dua orang tersangka, masing-masing berinisial AT (24) dan AP (19),” jelas Kapolres Hendra Dorizen.
Selain mengamankan kedua tersangka, petugas juga menyita sejumlah barang bukti yang digunakan dalam melancarkan aksi kejahatan tersebut, antara lain:
1 (satu) unit sepeda motor Honda Revo dengan Nomor Polisi Plat DH 3337 CP beserta beberapa aksesori.
2 (dua) rol kabel penangkal petir.
1 (satu) buah tas besar berwarna kuning.
2 (dua) buah obeng besi.
1 (satu) buah helm berwarna kuning dan 1 (satu) buah helm berwarna hitam.
1 (satu) buah celana panjang berwarna hitam.
Secara teknis, Kasat Reskrim AKP I Wayan Pasek Sujana, S.H., M.H., menguraikan kronologis peristiwa kejahatan tersebut. Tindak pidana pencurian ini terjadi di wilayah RT 012 / RW 006, Desa Mio, Kecamatan Amanuban Selatan, Kabupaten TTS, pada tanggal 18 Juni 2026 sekira pukul 13.30 WITA.
Aksi kedua tersangka pertama kali dicurigai oleh seorang warga setempat bernama Susten Biliu. Saat berada di dalam rumah, saksi mendengar suara anjing yang terus menggonggong dan meraung di luar. Merasa curiga, saksi bergegas keluar rumah membawa senter untuk memeriksa situasi sekitar.
Saat itulah, saksi melihat tersangka AT dan AP sedang menghidupkan sepeda motor. Guna mengelabui warga, kedua tersangka menggunakan atribut lengkap layaknya petugas PLN resmi, mulai dari helm hingga sepatu keselamatan. Setelah kedua tersangka pergi, saksi memeriksa tiang listrik terdekat dan mendapati kabel penangkal petir telah hilang dipotong.
Saksi Susten Biliu kemudian segera menghubungi saksi Yestri Biliu dan Joni Nomleni (tetangga rumah) untuk mengadang dan memperhatikan pergerakan sepeda motor yang dikendarai oleh para pelaku.
“Ketiga saksi kemudian menyebar untuk memantau pergerakan para pelaku. Benar saja, di sekitar cabang Oenoni, Desa Mio, para saksi mendapati kedua tersangka sedang kembali memotong kabel penangkal petir di bawah tiang listrik. Ketika dihampiri dan dipertanyakan kapasitasnya, kedua tersangka sempat berdalih bahwa mereka sedang melakukan pemeriksaan tekanan arus listrik,” urai Kasat Reskrim AKP I Wayan Pasek.
Sadar atas gelagat mencurigakan dan hilangnya aset negara tersebut, petugas lapangan PLN SoE, Maksi Aduard Ataupah, langsung mendatangi Mapolres TTS untuk melaporkan kejadian tersebut pada Jumat, 19 Juni 2026.
Menerima laporan tersebut, Tim Buru Sergap (Buser) Satreskrim Polres TTS bergerak cepat melakukan penangkapan. Saat ini, kedua tersangka beserta seluruh barang bukti telah diamankan di sel tahanan Mapolres TTS guna menjalani proses penyidikan lebih lanjut.
Di akhir statemennya, Kapolres TTS menegaskan bahwa institusinya berkomitmen penuh untuk menindak tegas segala bentuk vandalisme dan pencurian aset publik yang merugikan masyarakat luas.
“Kedua tersangka kami jerat dengan Pasal 477 Ayat (1) huruf f dan huruf g Juncto Pasal 20 huruf c Undang-Undang RI Nomor 1 Tahun 2023 tentang Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP. Keduanya diancam dengan hukuman pidana penjara paling lama 7 tahun serta denda maksimal Rp500 juta,” tegas Kapolres Hendra Dorizen.