Tebo, jurnalpolisi.id
Menyambut 1 Muharam Warga Desa Sido Mulyo, Jln Jambi, RT 09 Dusun Sari Makmur Unit 12, adakan Acara pemotongan Kambing, makan bersama dan Do’a bersama di kediaman P.Sukardi. tujuan agar setiap hal yang dilakukan selama satu tahun kedepan diberikan kelancaran, kemudahan dan selalu dalam lindungan Allah SWT.
Warga RT 9 Jln Jambi punya caranya sendiri dalam menyambut pergantian tahun: hening, syahdu, dan penuh makna. Itulah tradisi malam Satu Suro, sebuah ritual sakral yang tak hanya merayakan awal tahun, tetapi juga mengajak siapa pun yang percaya untuk menyelami diri, mengolah batin, dan menyatukan langkah dalam kesunyian.
Satu Suro, atau tanggal satu bulan Suro dalam penanggalan Jawa, bertepatan dengan satu Muharram dalam kalender Hijriyah. Namun maknanya lebih dari sekadar angka dalam almanak. Ia adalah bulan suci, penanda babak baru, saat yang diyakini penuh energi spiritual. Di masa Kerajaan Mataram Islam, Sultan Agung Hanyakrakusuma merancang sistem penanggalan Jawa yang menggabungkan unsur Islam dan budaya lokal. Dari sinilah lahir bulan Suro—bulan untuk diam, merenung, dan membersihkan jiwa.
Tradisi ini menolak hingar-bingar. Di bulan Suro, pesta dan perayaan besar dianggap tak patut. Bukan karena larangan tegas, melainkan karena kesadaran akan nilai-nilai laku prihatin. Masyarakat memilih untuk menunduk, bukan melonjak. Dalam tradisi Kejawen, inilah saatnya menarik diri dari hiruk-pikuk dunia, membersihkan pusaka, berjalan dalam sunyi, menyantap bubur sederhana, dan memohon keselamatan.
Tradisi Satu Suro bukan sekadar warisan leluhur. Ia adalah penanda bahwa dalam hidup yang serba cepat, ada saat untuk berhenti. Untuk diam. Untuk mendengar suara dari dalam. Dan mungkin, untuk mulai lagi, tapi kali ini dengan lebih tenang.merayakan malam satu Suro di tahun ini.(Dion)
Editor : Mardiyono.