
BALIKPAPAN jurnalpolisi.id
Pekan Kebudayaan Borneo 2026 resmi dibuka di Taman Bekapai, Kota Balikpapan, Kalimantan Timur, Jumat (6/11/2026) malam. Mengusung tema “Jejak Maestro, Merawat Simpul Para Penjaga Tradisi”, kegiatan ini menjadi momentum strategis untuk memperkenalkan kekayaan budaya Borneo sekaligus memperkuat komitmen pelestarian tradisi yang diwariskan secara turun-temurun.
Kegiatan yang diinisiasi Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah Kalimantan Timur di bawah Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia tersebut melibatkan unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), maestro seni, pelaku budaya, komunitas lokal, serta masyarakat.
Kepala BPK Wilayah Kalimantan Timur, Lestari, menegaskan bahwa Pekan Kebudayaan Borneo bukan sekadar ajang pertunjukan seni, melainkan ruang untuk merayakan perjalanan panjang kebudayaan yang terus hidup melalui manusia, pengetahuan, dan tradisi.
“ Malam ini kita tidak sekadar berkumpul untuk menyaksikan sebuah pertunjukan seni. Lebih dari itu, kita hadir untuk merayakan perjalanan panjang kebudayaan yang terus hidup melalui manusia, pengetahuan, dan tradisi yang diwariskan dari generasi ke generasi,” ujarnya.
Lestari menjelaskan, kebudayaan bukanlah sesuatu yang hanya menjadi bagian dari masa lalu. Sebaliknya, kebudayaan merupakan bagian dari kehidupan masyarakat yang terus tumbuh, berkembang, dan beradaptasi dengan perubahan zaman.
Hal tersebut tercermin dalam berbagai aspek kehidupan, mulai dari bahasa, musik, tarian, kain tradisional, kuliner, hingga nilai-nilai yang membentuk cara pandang masyarakat terhadap kehidupan.
Namun, di tengah perkembangan teknologi dan dinamika sosial yang semakin cepat, keberlanjutan pengetahuan budaya menghadapi berbagai tantangan. Sejumlah pengetahuan tradisional mulai jarang dipraktikkan, sementara keterampilan tertentu perlahan kehilangan generasi penerus.
Meski demikian, berbagai tradisi masih bertahan berkat ketekunan dan pengabdian para penjaga budaya yang terus berupaya mempertahankan warisan leluhur.
Menurut Lestari, tema “Jejak Maestro, Merawat Simpul Para Penjaga Tradisi” merepresentasikan perjalanan panjang pengetahuan, pengalaman, keterampilan, serta nilai-nilai kebudayaan yang diwariskan oleh para pendahulu.
Istilah maestro menjadi bentuk penghormatan kepada individu yang memiliki pengetahuan dan keterampilan mendalam dalam bidang kebudayaan serta konsisten menjaga keberlangsungan tradisi.
Sementara itu, frasa “simpul para penjaga tradisi” menggambarkan keterhubungan antara maestro, keluarga, komunitas, generasi penerus, lingkungan, dan masyarakat luas dalam menjaga keberlanjutan kebudayaan.
Ia menekankan, suatu tradisi tidak akan bertahan hanya karena dikuasai oleh satu orang. Pengetahuan budaya harus terus dipelajari, dipraktikkan, dimaknai kembali, serta diwariskan kepada generasi berikutnya.
“Pelestarian kebudayaan tidak cukup hanya dengan menjaga karya. Kita juga harus memuliakan manusia yang memiliki pengetahuan untuk menciptakan dan mewariskan karya tersebut. Inilah semangat utama penyelenggaraan Pekan Budaya Borneo Tahun 2026,” tegas Lestari.
Lebih lanjut, ia menyampaikan bahwa penyelenggaraan Pekan Kebudayaan Borneo 2026 berlandaskan empat gagasan utama, yakni mengenali, menghubungkan, mewariskan, dan menumbuhkan.
Melalui empat gagasan tersebut, generasi muda diharapkan dapat mengenal lebih dekat para maestro dan terhubung dengan sumber pengetahuan kebudayaan. Selanjutnya, keterampilan serta nilai-nilai tradisi dapat diwariskan kepada generasi penerus agar kebudayaan terus berkembang tanpa kehilangan akar sejarahnya.
Lestari juga menegaskan bahwa penggunaan nama Borneo memiliki makna kebudayaan yang luas. Borneo tidak sekadar merujuk pada wilayah geografis maupun batas administratif, tetapi juga menjadi ruang kebudayaan yang terbentuk melalui perjalanan sejarah dan peradaban panjang.
Balikpapan Dorong Budaya sebagai Penggerak Pariwisata
Wakil Wali Kota Balikpapan, Bagus Susetyo, menyampaikan apresiasi kepada BPK Wilayah Kalimantan Timur beserta seluruh pihak yang telah berkolaborasi dalam menyukseskan Pekan Kebudayaan Borneo 2026.
Menurutnya, kegiatan tersebut menjadi langkah penting dalam menjaga keberagaman budaya sekaligus memperkuat identitas daerah di tengah derasnya arus modernisasi dan globalisasi.
“Atas nama Pemerintah Kota Balikpapan, saya menyampaikan apresiasi dan penghargaan setinggi-tingginya kepada Balai Pelestarian Kebudayaan Kalimantan Timur serta seluruh pihak yang telah berkolaborasi dan berkontribusi dalam penyelenggaraan kegiatan ini,” kata Bagus.
Ia juga menyampaikan bahwa Pemerintah Kota Balikpapan menjadi salah satu pemerintah daerah penerima Anugerah Kebudayaan Indonesia Tahun 2026. Penghargaan tersebut dinilai sebagai bentuk pengakuan atas upaya pemerintah daerah dalam mengembangkan dan melestarikan kebudayaan.
Bagus menegaskan, keberadaan para maestro memiliki peran penting dalam menjaga identitas budaya agar tetap hidup dan diwariskan kepada generasi selanjutnya. Mereka merupakan sosok yang menjaga keberlangsungan adat istiadat, musik, tarian, hingga berbagai ritus tradisi agar tidak tergerus perkembangan zaman.
Balikpapan sendiri dikenal sebagai kota dengan keberagaman budaya yang tinggi. Tercatat sebanyak 131 paguyuban dan etnis hidup berdampingan secara harmonis dengan mengedepankan nilai toleransi dan saling menghargai. Salah satu kekayaan budaya yang turut menjadi bagian dari keberagaman tersebut adalah kebudayaan Dayak.
Bagus menilai, keberagaman budaya yang dimiliki Balikpapan tidak hanya menjadi identitas daerah, tetapi juga memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai daya tarik wisata dan penggerak ekonomi kreatif.
Karena itu, ia mendorong agar berbagai kesenian dan kebudayaan lokal semakin sering diperkenalkan kepada masyarakat melalui kegiatan maupun atraksi budaya.
Ia berharap, dalam satu hingga dua bulan ke depan, berbagai atraksi budaya dapat diselenggarakan dengan harga terjangkau, bahkan gratis, sehingga masyarakat memiliki kesempatan lebih luas untuk mengenal kekayaan budaya dari 131 paguyuban dan etnis yang ada di Balikpapan.
Menurutnya, upaya merawat tradisi, melestarikan seni, serta menonjolkan keunikan lokal dapat menciptakan daya tarik wisata yang autentik dan memiliki nilai ekonomi.
Pengembangan pariwisata berbasis budaya juga diharapkan mampu menjadi salah satu penopang perekonomian daerah, meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD), serta menggerakkan sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), perhotelan, hingga kuliner.
Dengan demikian, pengembangan kebudayaan dan pariwisata tidak hanya memperkuat identitas daerah, tetapi juga berpotensi membuka peluang usaha, meningkatkan pendapatan masyarakat, serta mendorong pertumbuhan ekonomi Balikpapan secara berkelanjutan.
Pekan Kebudayaan Borneo 2026 diharapkan menjadi ruang kolaborasi antara pemerintah, pelaku seni, maestro, komunitas budaya, dan masyarakat dalam menjaga warisan tradisi sekaligus menjadikannya bagian penting dari pembangunan daerah.
( Alfian )




