
BANDUNG BARAT,- jurnalpolisi.id
Usia 159 tahun bukan sekadar angka. Bagi masyarakat Desa Padaasih, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat perjalanan panjang tersebut menjadi bagian dari sejarah, identitas, sekaligus warisan yang terus dirawat dari generasi ke generasi.
Semangat itu terasa dalam peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) atau Milangkala Desa Padaasih ke-159 yang digelar Jumat (28/8/2026).
Mengusung tradisi Hajat Bumi, peringatan Milangkala tahun ini menjadi momentum masyarakat untuk memanjatkan rasa syukur atas nikmat, keselamatan, serta hasil bumi yang selama ini menjadi bagian penting dari kehidupan warga.
Rangkaian kegiatan diawali dengan tawasul dan doa bersama yang berlangsung khidmat. Nuansa budaya kemudian semakin terasa melalui pertunjukan seni tradisional kacapi suling, sebelum suasana malam ditutup dengan Tabligh Akbar yang menghadirkan penceramah asal Subang, Ust. Fajrin Al-Asqalani, M.Pd.
Kemeriahan perayaan turut diramaikan penampilan bintang tamu penyanyi pop Sunda, Nazmi Nadia, yang menghibur masyarakat sekaligus menambah warna dalam perayaan Milangkala Desa Padaasih.
Namun, peringatan Milangkala ke-159 ini bukan semata-mata tentang seremonial dan hiburan.
Di balik kemeriahan tersebut, tersimpan pesan tentang bagaimana sebuah desa mempertahankan tradisi sekaligus membangun kebersamaan dan kemandirian.

Gotong Royong dan Kemitraan Tanpa Membebani Masyarakat
Kepala Desa Padaasih, Deden Mujijat menyampaikan, bahwa seluruh rangkaian peringatan Milangkala dapat terselenggara berkat kekuatan gotong royong dan kemitraan antara pemerintah desa, masyarakat, ulama, donatur, serta para pelaku usaha.
Menariknya, pemerintah desa memastikan kegiatan tersebut tidak membebani masyarakat melalui pungutan atau iuran.
“Kami tidak pernah meminta iuran atau pungutan kepada warga untuk mengadakan kegiatan desa. Pendanaan didukung oleh para donatur dan pelaku usaha setempat melalui mekanisme proposal,” ujar Deden.
Menurutnya, konsep tersebut merupakan bagian dari upaya membangun kegiatan desa dengan semangat kebersamaan.
Kekuatan sosial masyarakat menjadi modal penting dalam menjaga tradisi sekaligus menyelenggarakan kegiatan yang memberikan ruang bagi masyarakat untuk berkumpul dan berinteraksi.
“Hal ini bisa terwujud karena adanya kebersamaan yang kuat antara warga, ulama, dan pemerintah desa,” tambahnya.
Semangat gotong royong tersebut semakin terasa karena sebagian besar masyarakat Desa Padaasih memiliki aktivitas ekonomi sebagai petani dan pedagang.
Hasil bumi dan berbagai produk lokal masyarakat pun turut dimanfaatkan untuk mendukung semaraknya perayaan Milangkala ke-159 ini.
Dengan demikian, peringatan hari jadi desa tidak hanya menjadi ruang untuk mengenang perjalanan sejarah, tetapi sekaligus menjadi panggung bagi potensi ekonomi masyarakat.
Budaya Lokal Jadi Identitas Desa
Kehadiran seni tradisional dalam rangkaian Milangkala memperlihatkan bagaimana Desa Padaasih berupaya menjaga kekayaan budaya lokal.
Pertunjukan kacapi suling dan keterlibatan puluhan kelompok kesenian menjadi bukti bahwa tradisi masih memiliki tempat penting di tengah perubahan zaman.
Pada rangkaian acara berikutnya, masyarakat akan disuguhi agenda senam bersama, jalan santai, serta hiburan rakyat.
Tak kurang dari 30 grup kesenian yang mewakili 15 RW turut dilibatkan dalam kemeriahan perayaan. Keterlibatan tersebut bukan hanya memperbesar kemeriahan acara, tetapi juga memberikan ruang bagi para pelaku seni lokal untuk tampil dan menunjukkan kreativitasnya di hadapan masyarakat.
Bagi pemerintah desa Padaasih, pelestarian budaya menjadi bagian penting dari pembangunan masyarakat. Desa tidak hanya membutuhkan pembangunan fisik, tetapi juga membutuhkan identitas dan karakter yang tumbuh dari akar budaya masyarakatnya.
Milangkala Jadi Panggung UMKM Lokal
Di tengah pelestarian tradisi, Pemerintah Desa Padaasih juga melihat Milangkala sebagai momentum untuk memperkenalkan dan mengembangkan potensi ekonomi lokal.
Desa Padaasih memiliki sejumlah produk unggulan masyarakat yang berkembang melalui sektor Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM).
Potensi tersebut antara lain berasal dari usaha pengolahan ikan pindang serta berbagai produk industri rumahan berbahan dasar pisang.
Produk-produk tersebut tumbuh dari aktivitas ekonomi masyarakat, baik di kawasan permukiman maupun lingkungan perumahan.
Kehadiran UMKM dalam momentum Milangkala menjadi bagian dari upaya memperkenalkan produk lokal kepada masyarakat sekaligus membuka peluang agar produk desa semakin dikenal dan memiliki pasar yang lebih luas.
Tradisi dan ekonomi lokal akhirnya berjalan beriringan. Hajat Bumi menjadi simbol syukur, kesenian menjadi identitas, sementara UMKM menjadi salah satu penggerak ekonomi masyarakat.

Menuju Desa Yang Lebih Maju dan Mandiri
Memasuki usia ke-159, Deden Mujijat berkomitmen Desa Padaasih akan terus berkembang tanpa kehilangan karakter dan akar budayanya. Ia berharap seluruh masyarakat senantiasa mendapatkan keberkahan, keamanan, serta peningkatan kesejahteraan.
“Harapan kami, masyarakat dan Pemerintah Desa Padaasih selalu diberkahi, masyarakatnya sejahtera, aman, serta sektor pertaniannya subur makmur. Semoga ke depan Desa Padaasih menjadi jauh lebih baik lagi, maju dan mandiri,” tutur Deden.
Harapan tersebut menjadi refleksi perjalanan Desa Padaasih ke depan.
Sebab, desa yang maju bukan hanya desa yang memiliki pembangunan fisik yang baik, tetapi juga desa yang mampu menjaga budaya, memperkuat kebersamaan, mengembangkan ekonomi masyarakat, serta membangun kemandirian dengan memanfaatkan potensi lokal.
Milangkala ke-159 akhirnya menjadi lebih dari sekadar perayaan ulang tahun. Ia menjadi ruang untuk bersyukur, berkumpul, melestarikan budaya, menggerakkan ekonomi, dan meneguhkan kembali semangat gotong royong sebagai kekuatan masyarakat Desa Padaasih.
Dari tradisi Hajat Bumi hingga geliat UMKM, dari seni tradisional hingga keterlibatan puluhan kelompok kesenian, Desa Padaasih, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat menunjukkan bahwa perjalanan panjang sebuah desa dapat menjadi modal untuk melangkah menuju masa depan yang lebih maju, makmur, sejahtera dan mandiri. **(DRIV)




