
BALIKPAPAN jurnalpolisi.id
Kinerja perbankan di wilayah kerja Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Balikpapan tetap terjaga pada triwulan III 2026. Penyaluran kredit tercatat mencapai Rp42,53 triliun atau tumbuh 7 persen secara tahunan (year on year/yoy), menunjukkan peran perbankan yang tetap kuat dalam mendukung aktivitas usaha dan perekonomian daerah.
Wilayah kerja KPwBI Balikpapan meliputi Kota Balikpapan, Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU), dan Kabupaten Paser.
Meski demikian, pertumbuhan kredit tersebut mengalami perlambatan dibandingkan triwulan II 2026 yang mencapai 17,66 persen (yoy), dengan nilai penyaluran kredit sebesar Rp41,51 triliun.
Di sisi lain, penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) justru mengalami penurunan. Kondisi ini menjadi perhatian karena penguatan DPK diperlukan untuk menopang kapasitas perbankan dalam meningkatkan penyaluran kredit ke depan.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Balikpapan, Robi Ariadi, menyampaikan bahwa penyaluran kredit yang tetap tumbuh positif mencerminkan peran aktif perbankan dalam mendukung kegiatan usaha, peningkatan kapasitas produksi, serta penciptaan lapangan kerja.
Kondisi tersebut juga menunjukkan optimisme perbankan dan pelaku usaha terhadap prospek perekonomian daerah, meskipun masih dihadapkan pada tantangan ekonomi global.
Dari sisi kualitas kredit, kondisi perbankan juga menunjukkan perkembangan positif. Rasio kredit bermasalah atau Non-Performing Loan (NPL) pada triwulan III 2026 tercatat sebesar 2,34 persen, membaik dibandingkan triwulan sebelumnya yang mencapai 2,57 persen.
Angka tersebut masih berada di bawah batas maksimal 5 persen. Terjaganya kualitas kredit ini menjadi salah satu faktor penting dalam mendukung keberlanjutan penyaluran pembiayaan kepada sektor produktif.
Kredit Investasi dan Konsumsi Masih Tumbuh
Berdasarkan jenis penggunaannya, pertumbuhan kredit terutama ditopang oleh kredit investasi yang mencapai 7,86 persen (yoy). Kredit investasi juga menjadi penyumbang terbesar dengan pangsa 39,88 persen dari total kredit perbankan.
Pertumbuhan tersebut didukung oleh berlanjutnya investasi pada proyek konstruksi dan hilirisasi industri, serta optimisme pelaku usaha terhadap prospek ekonomi daerah.
Penyaluran kredit investasi diharapkan dapat meningkatkan kapasitas produksi, memperluas kegiatan usaha, menciptakan lapangan kerja, dan meningkatkan nilai tambah perekonomian daerah.
Sementara itu, kredit konsumsi tumbuh 6,43 persen (yoy), meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya sebesar 5,95 persen. Pertumbuhan ini didukung oleh daya beli masyarakat yang relatif terjaga.
Adapun kredit modal kerja tumbuh 6,46 persen (yoy). Pembiayaan tersebut digunakan untuk mendukung kebutuhan operasional usaha, seperti pembelian bahan baku dan pengelolaan persediaan barang.
Secara keseluruhan, pembiayaan perbankan masih didominasi sektor usaha melalui kredit investasi dan modal kerja dengan pangsa 64,40 persen. Sementara kredit konsumsi memiliki pangsa sebesar 35,60 persen.
Konstruksi, Perdagangan, dan Pertanian Mendominasi
Berdasarkan lapangan usaha, penyaluran kredit perbankan di wilayah kerja KPwBI Balikpapan masih terkonsentrasi pada tiga sektor utama, yakni konstruksi, perdagangan, dan pertanian.
Masing-masing sektor memiliki pangsa sebesar 18,40 persen untuk konstruksi, 14,67 persen untuk perdagangan, dan 11,12 persen untuk pertanian.
Komposisi tersebut sejalan dengan karakteristik perekonomian di masing-masing daerah. Kota Balikpapan berperan sebagai pusat perdagangan dan jasa, termasuk aktivitas MICE (Meeting, Incentive, Convention, and Exhibition) di Kalimantan.
Sementara Kabupaten PPU memiliki aktivitas ekonomi yang berkaitan erat dengan sektor konstruksi, seiring keberadaan kawasan Ibu Kota Nusantara (IKN). Adapun Kabupaten Paser memiliki sektor pertanian sebagai salah satu penopang utama perekonomian daerah.
Dari ketiga sektor tersebut, kredit perdagangan dan pertanian masih mencatatkan pertumbuhan positif masing-masing sebesar 12,62 persen dan 4,67 persen (yoy).
Peningkatan kredit perdagangan didukung kebutuhan pembiayaan untuk memenuhi persediaan barang menjelang Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Natal dan Tahun Baru, serta mulai menguatnya aktivitas MICE.
Sementara pertumbuhan kredit pertanian didorong kebutuhan pembiayaan untuk kegiatan produksi dan pengembangan usaha, termasuk sektor perkebunan.
Berbeda dengan kedua sektor tersebut, kredit konstruksi mengalami kontraksi sebesar 2,17 persen (yoy). Kondisi ini terutama dipengaruhi masih terbatasnya aktivitas pembangunan di kawasan IKN. Namun, aktivitas konstruksi diprakirakan semakin meningkat pada triwulan IV 2026.
Kredit UMKM Meningkat, NPL Turun
Perkembangan positif juga terlihat pada penyaluran kredit kepada usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Pada triwulan III 2026, kredit UMKM tercatat sebesar Rp12,88 triliun atau tumbuh 0,34 persen (yoy). Capaian tersebut lebih baik dibandingkan triwulan II 2026 yang tercatat sebesar Rp12,79 triliun atau mengalami kontraksi 0,23 persen.
Peningkatan ini turut didukung berbagai program pemerintah daerah, institusi, dan lembaga dalam memperkuat kapasitas serta pemberdayaan UMKM.
Pangsa kredit UMKM terhadap total kredit perbankan mencapai 30,28 persen, relatif stabil dibandingkan triwulan sebelumnya sebesar 30,81 persen.
Selain peningkatan penyaluran, kualitas kredit UMKM juga menunjukkan perbaikan. Hal ini terlihat dari rasio NPL UMKM yang turun menjadi 3,6 persen dari sebelumnya 4,2 persen.
Perbaikan tersebut diharapkan semakin meningkatkan kepercayaan perbankan untuk memperluas pembiayaan kepada UMKM sebagai salah satu penopang utama perekonomian daerah.
DPK Menurun, LDR Meningkat
Di tengah pertumbuhan kredit yang tetap positif, penghimpunan DPK perbankan justru mengalami penurunan.
Pada triwulan III 2026, DPK tercatat sebesar Rp44,58 triliun atau turun 10,42 persen (yoy). Angka tersebut berbanding terbalik dengan kondisi triwulan II 2026, ketika DPK mencapai Rp49,52 triliun atau tumbuh 4,15 persen (yoy).
Berdasarkan komposisinya, penghimpunan DPK masih didominasi tabungan sebesar 54,44 persen, disusul giro 27,88 persen, dan deposito 17,69 persen.
Kondisi pertumbuhan kredit yang tetap positif di tengah penurunan DPK turut mendorong peningkatan rasio Loan to Deposit Ratio (LDR). Pada triwulan III 2026, LDR tercatat sebesar 95,39 persen, meningkat dibandingkan triwulan II 2026 sebesar 83,82 persen.
Ke depan, Bank Indonesia Balikpapan akan terus memperkuat sinergi dan koordinasi dengan pemerintah daerah, perbankan, serta berbagai mitra strategis guna mendorong optimalisasi intermediasi perbankan.
Upaya tersebut diarahkan untuk memperluas akses pembiayaan secara inklusif dan berkualitas, terutama bagi sektor produktif, sehingga mampu memperkuat aktivitas usaha, meningkatkan penyerapan tenaga kerja, serta mendorong pertumbuhan ekonomi daerah yang berkelanjutan.
Langkah tersebut juga sejalan dengan kebijakan makroprudensial Bank Indonesia yang akomodatif atau longgar untuk mendorong peningkatan penyaluran kredit dan pembiayaan kepada sektor riil, dengan tetap menjaga stabilitas sistem keuangan.
( Alfian )



