
Sarolangun, jurnalpolisi.id
Kepala TK YP Hidayatul Mubtabi’ein, Desa Siliwangi, Kecamatan Singkut, Kabupaten Sarolangun, Jambi, memberikan penjelasan terkait insiden seorang anak didik yang mengalami luka robek di bagian kepala saat jam istirahat di lingkungan sekolah.
Kepala TK YP Hidayatul Mubtabi’ein, Dwi Kurnarti, S.Pd., saat ditemui awak media Jurnal Polisi News, Rabu (12/8/2026), menjelaskan bahwa kejadian tersebut berlangsung ketika anak-anak sedang menjalani waktu istirahat dan jajan di lingkungan sekolah.
Menurut Dwi, terdapat kesepakatan antara pihak sekolah dan orang tua murid terkait aktivitas anak-anak saat jam istirahat, termasuk ketika mereka jajan di lingkungan sekolah. Ia menyebut insiden tersebut sebagai musibah yang terjadi secara tidak terduga.
Dwi mengatakan, selama 17 tahun mengabdikan diri sebagai kepala TK/PAUD YP Hidayatul Mubtabi’ein, dirinya bersama para guru selalu berupaya memberikan perhatian dan perlindungan kepada seluruh anak didik selama berada di lingkungan sekolah.
Dalam kejadian tersebut, seorang anak laki-laki bernama Lifi (5) mengalami luka robek di bagian kiri belakang kepala. Luka tersebut diduga terjadi setelah kepala anak mengenai bagian pagar besi yang berada di lingkungan sekolah. Luka yang dialami korban diperkirakan memiliki panjang sekitar empat sentimeter dan sempat mengeluarkan darah.
Melihat kondisi tersebut, Dwi bersama para guru segera memberikan pertolongan pertama. Luka pada kepala korban ditutup menggunakan kain, sementara es batu diberikan sebagai penanganan awal sebelum korban mendapatkan perawatan medis.
Pihak sekolah kemudian langsung membawa Lifi ke Puskesmas Singkut untuk menjalani pemeriksaan dan mendapatkan perawatan medis.
“Ini merupakan musibah yang tidak kami harapkan. Begitu kejadian terjadi, kami langsung memberikan pertolongan pertama dan membawa anak tersebut ke Puskesmas Singkut,” ujar Dwi.
Pihak sekolah menegaskan bahwa keselamatan dan kondisi anak didik menjadi prioritas utama. Insiden tersebut juga menjadi bahan evaluasi agar pengawasan serta keamanan lingkungan sekolah terus ditingkatkan, sehingga ruang belajar dan area bermain anak dapat lebih aman.
“Insiden ini menjadi catatan penting bagi kami bahwa keselamatan anak di lingkungan pendidikan bukan sekadar tanggung jawab saat kegiatan belajar berlangsung, tetapi merupakan kewajiban yang harus dijaga setiap saat, termasuk ketika waktu istirahat,” tutupnya.
(Dedi)




