BALIKPAPAN jurnalpolisi.id
Meninggalnya seorang bocah berusia 11 tahun berinisial AF yang sempat tinggal bersama orang tuanya di lingkungan Yayasan Panti Asuhan Jabal Rahmah, Jalan Marsma Iswahyudi, Gang Istaka Karya, RT 01, Kelurahan Sepinggan Raya, Kecamatan Balikpapan Selatan, pada Sabtu (13/6/2026), menjadi perhatian masyarakat.
Pemilik Yayasan Panti Asuhan Jabal Rahmah, HS, saat ditemui media di kawasan Balikpapan Baru, Selasa (16/6/2026), mengungkapkan kronologi yang diketahuinya berdasarkan informasi dari pengurus yayasan, keluarga korban, dan sejumlah saksi.
Menurut HS, saat peristiwa terjadi dirinya sedang berada di Makassar sehingga tidak menyaksikan langsung kejadian tersebut. Namun, ia memperoleh laporan bahwa korban diduga mengalami tindakan kekerasan setelah pulang melaksanakan shalat Magrib.
“Informasi yang saya terima dari pengurus dan saksi-saksi, korban diduga sempat dipukul oleh seorang anak bernama Niko di sekitar bengkel yang berada di depan panti. Keterangan para saksi juga sudah disampaikan kepada pihak kepolisian,” ujar HS.
HS menjelaskan, setelah kejadian tersebut korban tidak langsung menceritakan apa yang dialaminya.
Beberapa waktu kemudian, korban mulai menunjukkan perubahan perilaku, seperti lebih sering menyendiri, menangis di kamar, dan tidak nafsu makan.
Korban kemudian dibawa keluarganya untuk mendapatkan pemeriksaan medis di puskesmas sebelum dirujuk ke rumah sakit. Berdasarkan keterangan yang diterimanya, korban sempat menjalani perawatan selama beberapa hari.
“Korban sempat dirawat dan kemudian meminta pulang. Setelah kembali ke tempat tinggalnya, beberapa jam kemudian keluarga mendapat kabar bahwa korban meninggal dunia,” katanya.
HS menegaskan bahwa korban bukan merupakan anak asuh tetap di panti tersebut. Korban tinggal sementara bersama kedua orang tuanya yang bekerja membantu operasional yayasan.
Sang ibu diketahui membantu di bagian dapur, sementara ayahnya bekerja sebagai tenaga serabutan dan membantu berbagai pekerjaan di lingkungan yayasan.
Lebih lanjut, HS mengaku prihatin atas peristiwa tersebut dan berharap aparat penegak hukum dapat mengusut kasus secara profesional hingga tuntas.
“Kami menyerahkan sepenuhnya kepada pihak kepolisian untuk melakukan penyelidikan. Saya berharap kejadian ini menjadi pelajaran bagi semua pihak agar pengawasan terhadap anak-anak lebih ditingkatkan dan peristiwa serupa tidak terulang lagi,” ujarnya.
Terkait penyebab pasti kematian korban, HS menyebut dirinya masih menunggu hasil resmi pemeriksaan medis dan forensik. Ia mengaku belum menerima hasil visum maupun autopsi yang dilakukan pihak berwenang.
“Sampai sekarang kami masih menunggu hasil resmi dari dokter dan pihak yang berwenang mengenai penyebab kematian korban,” katanya.
Kasus ini saat ini telah dilaporkan kepada pihak kepolisian dan masih dalam proses penyelidikan. Aparat diharapkan dapat mengungkap fakta-fakta yang sebenarnya berdasarkan hasil pemeriksaan saksi, bukti medis, dan hasil forensik yang akan keluar kemudian.
Sementara itu, masyarakat diimbau untuk tidak berspekulasi terkait penyebab kematian korban dan menunggu hasil penyelidikan resmi dari aparat penegak hukum.
( Alfian )