Banyuwangi – Jurnalpolisi.id
Sesosok mayat laki-laki ditemukan warga di halaman belakang Kantor Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Banyuwangi pada Kamis pagi 7 Mei 2026.
Peristiwa temuan mayat itu pun juga sempat membuat geger warga di sekitar lingkungan Karangente, Kelurahan Sobo, Kecamatan Banyuwangi.
Korban diidentifikasi bernama Sulamto HS (67), seorang buruh harian lepas yang beralamat di Jalan Banterang, Kelurahan Kampung Melayu.
Selama ini, korban diketahui memang tinggal di area kantor MUI tersebut.
Peristiwa ini pertama kali diketahui oleh adik kandung korban, Suyono (66), sekitar pukul 07:30 WIB.
Menurut keterangan saksi, awalnya ia datang ke kantor MUI pada pukul 05.30 WIB untuk menyapu.
Merasa curiga karena tidak melihat sandal korban dan korban tak kunjung muncul dari kamar mandi hingga dua jam lamanya, Suyono berinisiatif mencari ke area halaman.
Korban akhirnya ditemukan dalam posisi tergeletak tak bernyawa di antara semak-semak rumput halaman belakang.
Panik melihat kondisi kakaknya, saksi langsung melapor ke Kantor Polisi Jalan Raya (PJR) Banyuwangi yang berada tepat di sebelah kantor MUI, sebelum diteruskan ke Polsek Banyuwangi.
Mendapat laporan tersebut, jajaran Polsek Banyuwangi yang dipimpin langsung oleh Kapolsek AKP Hendry Christianto bersama Unit Identifikasi Polresta Banyuwangi segera tiba di lokasi untuk melakukan olah Tempat Kejadian Perkara (TKP).
“Petugas langsung mengevakuasi jenazah ke RSUD Blambangan untuk dilakukan visum luar guna memastikan penyebab kematian,” ujar AKP Hendry.
Berdasarkan hasil pemeriksaan medis dari RSUD Blambangan, tim dokter menyatakan tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan atau luka bekas penganiayaan pada tubuh korban.
“Korban diperkirakan meninggal dunia beberapa jam sebelum ditemukan,” ungkapnya.
Kematian diduga kuat akibat penyakit diabetes kronis yang diderita korban serta kondisi fisik yang melemah.
Diketahui pula dari keterangan saksi lain, Sumilah (adik korban), bahwa dalam empat hari terakhir ia tidak sempat mengirimkan makanan kepada korban karena dirinya sendiri sedang sakit.
Hal ini diduga turut memperburuk kondisi kesehatan korban yang hidup sebatang kara.
Pihak keluarga menyatakan telah menerima kejadian ini sebagai musibah dan menolak untuk dilakukan otopsi.
Penolakan tersebut dituangkan dalam surat pernyataan resmi yang disaksikan oleh perangkat kelurahan setempat.
Setelah proses administrasi selesai, jenazah korban langsung dibawa ke rumah duka di Kelurahan Kampung Melayu untuk kemudian dimakamkan di pemakaman umum setempat.(Boby)