
Aceh Tengah. jurnalpolisi.id
Delapan bulan setelah banjir besar melanda Aceh pada akhir November 2025, warga yang tinggal di hunian sementara (huntara) Desa Penarun, Kecamatan Linge, Aceh Tengah, masih menghadapi keterbatasan akses air bersih.
Salah seorang warga, Hamka, mengatakan pasokan air di kawasan huntara hingga kini masih mengandalkan saluran sederhana yang dibangun melalui bantuan. Namun, debit air yang tersedia belum mampu memenuhi kebutuhan seluruh penghuni sehingga penggunaannya harus dilakukan secara bergiliran.
“Air di sini seadanya, diambil dari atas. Saluran air ini juga bantuan, tapi masih sangat kekurangan. Biasanya malam ditampung, pagi dibagi-bagi, gantian dipakai,” kata Hamka, Jumat, 17/7/2026.
Pantauan Jurnal Polisi News, kawasan Huntara Desa Penarun dibangun di sepanjang Jalan Takengon–Blangkejeren, tidak jauh dari permukiman asal warga yang terdampak banjir.
Hamka mengungkapkan keterbatasan air bersih membuat sejumlah kebutuhan dasar belum dapat terpenuhi secara optimal. Untuk mencuci pakaian dalam jumlah banyak, sebagian warga bahkan harus pergi ke Kota Takengon karena fasilitas di huntara belum memadai.
“Kalau cucian banyak, kami harus ke Takengon. Sekalian kalau ke sana baru kami cuci di sana,” ujarnya.
Meski hidup dalam berbagai keterbatasan, Hamka mengatakan warga memilih tetap tinggal di huntara daripada kembali menetap di kampung asal. Trauma akibat banjir yang sempat membuat mereka terjebak selama empat hari masih membekas.
“Di sini memang banyak kekurangan, tapi lebih nyaman daripada tinggal di kampung dengan rasa was-was. Kami dulu sempat terjebak empat hari di kampung,” katanya.
Menurutnya, sebagian warga masih sesekali pulang untuk melihat kondisi rumah. Namun akses menuju desa belum sepenuhnya pulih dan belum dapat dilalui kendaraan roda empat.
“Kami masih sering balik ke kampung, tapi tidak bisa lewat mobil. Untuk menetap di sana kami masih trauma,” ujarnya.
Hamka menjelaskan sebagian warga mulai menempati huntara sejak Ramadan, sedangkan dirinya bersama keluarga pindah dua hari sebelum Hari Raya Idul Fitri. Sebelum fasilitas tersebut tersedia, warga tinggal di tenda darurat atau menumpang di rumah kerabat. (*Tengku)




