
Langgur, jurnalpolisi.id
Bupati Maluku Tenggara Muhamad Thaher Hanubun meminta Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Maluku Tenggara bersama para pelatih segera mematangkan program pembinaan atlet sebagai persiapan menghadapi Pekan Olahraga Pelajar? Wait, “Pekan Olahraga Maluku (POPMAL)” 2027.
Penegasan tersebut disampaikan Bupati saat menggelar coffee morning bersama para atlet, pelatih dan pengurus cabang olahraga KONI Maluku Tenggara di Taman Landmark Larvul Ngabal, Kota Langgur, Sabtu (8/8/2026).
Kegiatan yang berlangsung sejak pukul 06.30 WIT itu diawali dengan senam bersama yang dipimpin langsung Bupati Maluku Tenggara. Selain menjadi momentum mempererat silaturahmi, kegiatan tersebut dimanfaatkan Bupati untuk berdialog langsung dengan para pelatih dan atlet terkait kesiapan masing-masing cabang olahraga menghadapi POPMAL 2027.
Turut hadir Ketua Komisi II DPRD Maluku Tenggara Benediktus Fadly Reyaan, Ketua KONI Maluku Tenggara Marsel Layanan, Kepala Bidang Olahraga Dispora Maluku Tenggara Gino Farneubun, Kepala Bappelitbangda Maluku Tenggara Clemens Welafubun, Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pendidikan Bin Raudha Arif Hanoeboen, serta para pelatih dan atlet dari sejumlah cabang olahraga.
Dalam arahannya, Thaher menegaskan bahwa pembinaan atlet tidak boleh dilakukan secara spontan atau hanya menjelang pelaksanaan kejuaraan. Menurutnya, setiap cabang olahraga harus memiliki program latihan yang terukur, target prestasi yang jelas, kebutuhan sarana dan prasarana, hingga perhitungan pembiayaan.
“Yang pertama, para pelatih harus siapkan program. Program latihan itu sudah termasuk sampai ke target. Di dalamnya ada sarana pendukung, tempat latihan dan lain-lain,” tegas Thaher.
Ia meminta pengurus KONI dan para pelatih segera menyusun program tersebut dalam waktu dekat sehingga pemerintah daerah dapat mengetahui secara pasti kebutuhan masing-masing cabang olahraga.
Menurutnya, program yang jelas akan menjadi dasar dalam menentukan dukungan anggaran. Sebaliknya, tanpa program dan target yang terukur, pemerintah akan kesulitan menentukan kebutuhan pembiayaan.
“Kalau program sudah masuk, saya tahu anggarannya ini, latihannya ini, jadwalnya ini, baru kita masuk di anggaran. Kalau kita semua buta, program tidak ada, uang keluar saja kan tidak mungkin,” ujarnya.
Thaher juga mengingatkan bahwa pembinaan olahraga amatir membutuhkan dukungan bersama, baik dari pemerintah daerah, KONI, sponsor maupun pihak lain. Karena itu, kebutuhan atlet harus disusun secara realistis dan berdasarkan prioritas.
Ia meminta kebutuhan seperti tempat latihan, pakaian olahraga, sepatu, perlengkapan pertandingan dan fasilitas penunjang lainnya dicatat dalam program setiap cabang olahraga.
“Jangan yang mewah-mewah. Kita sesuai dengan olahraga amatir,” katanya.
Atlet Harus Fokus Berlatih
Lebih jauh, Bupati meminta agar para atlet tidak dibebani dengan persoalan di luar tugas utama mereka. Menurutnya, atlet harus diberikan ruang untuk berkonsentrasi pada latihan dan pencapaian prestasi.
“Yang penting sekarang harus tanamkan dulu Maluku Tenggara di dada masing-masing. Atlet tidak boleh dikasih beban. Bebannya hanya latihan untuk juara,” tegasnya.
Ia menilai semangat dan motivasi menjadi bagian penting dalam proses pembinaan. Menjadi atlet Maluku Tenggara, kata dia, harus dipandang sebagai kebanggaan sekaligus bagian dari sejarah perjalanan seorang atlet.
Karena itu, para pelatih diminta membangun suasana latihan yang menyenangkan namun tetap disiplin dan terukur.
“Olahraga itu harus gembira, olahraga itu harus niat, olahraga itu harus senang,” ujarnya.
Thaher juga mengingatkan para pelatih agar memperhatikan perpaduan antara kemampuan fisik, teknik dan mental atlet. Menurutnya, prestasi tidak hanya ditentukan oleh kekuatan fisik, tetapi juga kemampuan berpikir dan kesiapan mental.
Ia mencontohkan cabang olahraga tertentu yang membutuhkan konsentrasi tinggi, seperti catur, meski tidak mengandalkan aktivitas fisik sebesar cabang olahraga lainnya, atlet catur tetap membutuhkan kebugaran tubuh agar mampu mempertahankan konsentrasi selama pertandingan.
Target Prestasi Harus Terukur
Dalam pertemuan tersebut, Bupati juga berdialog langsung dengan sejumlah pelatih mengenai jumlah atlet yang dipersiapkan serta target medali.
Beberapa cabang olahraga telah menyampaikan target masing-masing. Cabang tinju, misalnya, menyiapkan enam atlet dengan target medali emas. Sementara kickboxing menyiapkan enam atlet dengan target tiga emas dari kuota yang tersedia.
Cabang muay thai juga menyiapkan enam atlet, dengan tiga atlet yang masuk dalam kuota KONI dan target tiga medali emas.
Untuk wushu, target yang disampaikan juga berada pada tiga medali emas. Sementara sejumlah cabang lain seperti renang, catur, pencak silat, kempo, tenis meja, karate dan bola voli masih diminta mematangkan komposisi atlet dan target prestasinya.
Bupati menekankan bahwa target tidak boleh sekadar angka, tetapi harus disesuaikan dengan jumlah atlet, kemampuan, rekam prestasi dan peluang masing-masing cabang olahraga.
“Target dulu, baru program, baru biaya penganggarannya,” katanya.
Ia meminta KONI tidak hanya menetapkan target emas, tetapi juga memetakan peluang medali perak, perunggu maupun atlet yang dipersiapkan untuk mendapatkan pengalaman bertanding.
Menurut Thaher, target besar harus tetap dibangun secara realistis. Maluku Tenggara, kata dia, harus berupaya memperbaiki posisi dalam persaingan olahraga tingkat Provinsi Maluku.
Ia mengakui persaingan dengan Kota Ambon cukup berat karena pembinaan olahraga dan konsentrasi atlet banyak terpusat di ibu kota provinsi. Namun, kondisi tersebut tidak boleh menjadi alasan bagi Maluku Tenggara untuk berhenti meningkatkan prestasi.
“Kalau target KONI, saya harus memperbaiki peringkat. Dari peringkat keenam ke peringkat keempat, lalu ke peringkat tiga atau dua,” ujarnya.
Ia menyebut sejumlah daerah seperti Maluku Tengah dan kabupaten/kota lainnya sebagai pesaing yang harus diperhitungkan. Karena itu, pembinaan atlet harus dimulai lebih awal dan dilakukan secara konsisten.
Sarana dan Prasarana Harus Disiapkan
Selain program latihan, Thaher memberikan perhatian khusus terhadap sarana dan prasarana olahraga.
Dalam dialog dengan pelatih, sejumlah kebutuhan atlet turut dibahas, mulai dari sepatu atletik, sarung tinju, matras pencak silat hingga perlengkapan cabang olahraga lainnya.
Bupati meminta agar kebutuhan tersebut segera didata dan disesuaikan dengan jumlah atlet serta program latihan.
“Yang pertama yang perlu diselesaikan, susun program latihannya. Program latihan itu sudah termasuk sampai ke target. Terus di dalamnya itu ada sarana pendukungnya,” katanya.
Untuk atlet atletik, misalnya, kebutuhan sepatu menjadi salah satu perhatian. Bupati menegaskan bahwa perlengkapan atlet harus disediakan secara layak dan merata agar tidak terjadi kesenjangan fasilitas di antara atlet. Ia juga meminta sarana yang sudah dimiliki pemerintah maupun KONI didata dan dimanfaatkan secara maksimal.
Seleksi Atlet Harus Segera Tuntas
Thaher juga meminta proses seleksi dan penetapan atlet dilakukan secara serius. Setelah atlet ditetapkan, kebutuhan perlengkapan seperti pakaian latihan, sepatu dan perlengkapan pertandingan harus segera disiapkan.
“Setelah penetapan atlet, kita siapkan pakaian dan segala macam untuk latihan,” ujarnya.
Menurutnya, keterlambatan dalam menetapkan atlet akan berdampak terhadap kualitas persiapan. Karena itu, pelatih dan pengurus cabang olahraga diminta tidak menunggu hingga mendekati pelaksanaan POPMAL.
“Kalau kamu terlambat berarti kamu menelantarkan atlet. Ingat itu,” tegasnya.
Ia menilai atlet merupakan pusat dari seluruh organisasi olahraga. Pengurus KONI, pengurus cabang olahraga dan pelatih hadir untuk memastikan atlet mendapatkan pembinaan yang baik.
“Pengurus KONI ada kalau ada pengurus cabang. Pelatih ada kalau ada pemain, atlet,” katanya.
KONI Diminta Bekerja Berbasis Program
Thaher berharap pertemuan tersebut tidak berhenti sebagai agenda silaturahmi.
Ia meminta hasil coffee morning segera ditindaklanjuti melalui program kerja konkret setiap cabang olahraga.
Setiap cabang olahraga diminta menyusun daftar atlet, tempat latihan, jadwal latihan, target prestasi, kebutuhan sarana dan prasarana serta kebutuhan anggaran.
Dengan demikian, pemerintah daerah bersama KONI dapat mengetahui secara jelas bentuk dukungan yang harus diberikan.
“Mulai dari hari ini ke depan kasih waktu membuat program latihan, tempat latihan dan apa yang diperlukan pada saat latihan,” tandasnya.
Bupati juga membuka peluang pembiayaan bersama apabila terdapat kebutuhan tertentu yang tidak dapat ditanggung satu pihak. Pemerintah daerah, KONI maupun pengurus cabang olahraga dapat berbagi dukungan sesuai kemampuan dan kebutuhan.
“Pemda sebagian, KONI sebagian, sebagian ditanggung pengurusnya tidak masalah. Nanti kita atur,” ujarnya.
Thaher berharap pola pembinaan yang lebih terencana dapat melahirkan atlet-atlet Maluku Tenggara yang mampu bersaing di tingkat Provinsi Maluku bahkan ke jenjang yang lebih tinggi.
Baginya, POPMAL 2027 bukan sekadar ajang pertandingan, tetapi momentum untuk menunjukkan bahwa Maluku Tenggara memiliki potensi atlet yang harus dibina secara serius.
Karena itu, ia meminta seluruh pengurus dan pelatih menjadikan persiapan sejak sekarang sebagai investasi prestasi.
“Tanamkan dulu Maluku Tenggara di dada masing-masing,” pesan Thaher kepada para atlet.
Publish by (Melky_JPN)



