
Langgur, jurnalpolisi.id
Pertandingan Bola Voli Bupati Cup Maluku Tenggara 2026 resmi berakhir. Tim Kei Kecil Timur Selatan (KKTS) Putra dan Tim Kei Kecil Putri keluar sebagai jawara.
Namun, malam itu bukan hanya tentang siapa yang mengangkat piala.
Penonton adalah jawara. Pendukung adalah jawara. Wasit adalah jawara. Panitia dan penyelenggara adalah jawara. Bahkan aparat keamanan pun layak disebut jawara.
Sebab, seluruh rangkaian pertandingan mampu berlangsung dalam suasana aman, tertib dan sejuk. Kamtibmas tetap terjaga hingga laga terakhir.
Satu hal yang jauh lebih penting dari sekadar kemenangan adalah bagaimana semua orang dapat pulang membawa kebanggaan tanpa kehilangan persaudaraan.
Malam Minggu di Gedung Serbaguna Larvul Ngabal pun terasa seperti sebuah nostalgia. Ada rasa bangga, tetapi di saat bersamaan ada pula rasa sedih.
Gedung yang selama berminggu-minggu dipenuhi sorak-sorai, tepuk tangan, teriakan dukungan, keringat dan semangat perjuangan, sebentar lagi akan kembali sunyi.
Padahal, gedung itu selama ini bukan sekadar tempat pertandingan.
Di sanalah orang-orang basodara bertemu. Di sana katong tertawa, berteriak, kecewa, bangga, lalu kembali baku gandeng.
Setiap tim datang membawa harapan menjadi jawara. Setiap atlet hadir membawa mimpi untuk memberikan yang terbaik bagi timnya.
Tetapi perjalanan olahraga tidak berhenti pada Bupati Cup.
Setiap atlet juga memiliki hak yang sama untuk mengikuti proses seleksi POPMAL sesuai mekanisme yang berlaku.
Tidak boleh ada yang mendahului proses. Tidak boleh ada yang memaksakan kehendak.
Sebab olahraga mengajarkan bahwa prestasi lahir dari proses, disiplin, kerja keras dan kesempatan yang diberikan secara adil.
Di balik setiap pertandingan selalu ada evaluasi.
Atlet mengevaluasi dirinya. Pelatih mengevaluasi strategi. Manajer mengevaluasi tim. Orang tua mengevaluasi dukungannya. Pendukung mengevaluasi harapannya. Bahkan penyelenggara pun tentu memiliki catatan untuk memperbaiki turnamen berikutnya.
Tetapi ada satu hal yang patut diingat: kesempurnaan hanya milik Tuhan Yang Maha Esa.
Karena itu, jangan biarkan kekurangan dalam sebuah pertandingan menghapus begitu banyak kebaikan yang telah tercipta.
Bupati Cup 2026 telah membuat katong baku kenal, baku sayang dan baku hormat sebagai sesama manusia dan sebagai ciptaan Allah.
Katong datang untuk bertanding, tetapi pulang membawa persaudaraan.
Katong datang untuk mencari kemenangan, tetapi menemukan sesuatu yang jauh lebih besar: kebersamaan.
Sebagian atlet akan kembali ke tempat asalnya. Sebagian lainnya masih akan tinggal dan berlatih di Kei untuk mempersiapkan diri menuju POPMAL.
Mungkin setelah ini katong tidak lagi bertemu setiap malam.
Tidak lagi mendengar suara sepatu berlari di lantai gedung. Tidak lagi mendengar bola dipukul keras melewati net. Tidak lagi mendengar suara penonton meledak ketika satu angka menentukan kemenangan.
Namun setidaknya, selama Bupati Cup berlangsung, katong telah saling mengenal.
Dan mungkin, itulah sejatinya olahraga.
Bukan hanya tentang siapa yang menang dan siapa yang kalah. Bukan hanya tentang piala, medali dan bonus.
Olahraga adalah tentang bagaimana manusia dipertemukan, bagaimana perbedaan menjadi kekuatan, dan bagaimana sebuah pertandingan mampu mempererat persaudaraan.
Saatnya Bermimpi Lebih Besar
Dari Bupati Cup 2026, ada satu pesan lain yang juga terlihat jelas: Maluku Tenggara membutuhkan sebuah rumah olahraga yang lebih besar.
Gedung yang mampu menampung lebih banyak penonton.
Arena yang dapat menjadi rumah bagi atlet-atlet terbaik Kei untuk bertumbuh, berlatih dan mengejar prestasi.
Gedung Serbaguna Larvul Ngabal dahulu terasa begitu besar ketika Tim Kalwedo berhadapan dengan Lusdoan puluhan tahun lalu. Namun waktu telah berubah.
Kini, gedung itu terasa tidak lagi cukup untuk menampung semangat generasi baru seperti Cendana Dumatubun dan para atlet muda lainnya.
Olahraga berkembang. Atlet-atlet semakin hebat. Minat masyarakat semakin besar.
Maka sudah waktunya Maluku Tenggar bermimpi lebih besar.
Semoga dari Bupati Cup 2026 tidak hanya lahir para juara, tetapi juga lahir semangat baru untuk membangun masa depan olahraga Maluku Tenggara.
Untuk seluruh atlet, pelatih, manajer, orang tua, pendukung, wasit, panitia, penyelenggara dan aparat keamanan, terima kasih telah menjadi bagian dari cerita ini.
Piala boleh berpindah tangan.
Lampu gedung boleh dipadamkan.
Sorak-sorai boleh berhenti.
Tetapi persaudaraan jangan pernah berakhir.
Karena pada akhirnya, katong semua adalah satu.
Ain ni Ain.
Salam olahraga.
Salam persaudaraan.
Salam dari laki-laki yang pakai topi merah.
Publish by (Melky_JPN)




