Tangan – Tangan. Aceh Barat Daya. jurnalpolisi.id
Sebanyak 14 ekor kambing milik Ubat A (38), warga Gampong Kuta Bak Drien, Kecamatan Tangan-Tangan, Aceh Barat Daya (Abdya), ditemukan mati mengenaskan dalam satu malam. Kematian ternak tersebut diduga akibat serangan beruang madu.
Keuchik Gampong Kuta Bak Drien, Zulkifli YS, membenarkan peristiwa tersebut. Ia menyebutkan, pemilik ternak sangat terpukul saat mengetahui kambing-kambing miliknya mati dengan kondisi mengenaskan.
Dari kondisi bangkai, hampir seluruh tubuh kambing terdapat bekas cakaran yang diduga kuat merupakan serangan beruang, kata Zulkifli di Blangpidie, Selasa, 19/5/2026.
Ia menjelaskan, kejadian tersebut diperkirakan terjadi pada dini hari sekitar pukul 01.00 WIB, kemarin. Sementara pemilik baru mengetahui peristiwa itu pada pagi harinya saat hendak memeriksa ternak.
Peristiwa ini membuat warga yang juga memelihara ternak mulai khawatir, ujarnya.
Zulkifli menilai, kemunculan satwa liar dilindungi di sekitar permukiman warga menjadi ancaman serius yang perlu segera ditangani. Apalagi, lokasi gampong berada dekat dengan kawasan perkebunan dan perbukitan yang menjadi habitat alami satwa liar.
Untuk mengantisipasi kejadian serupa, pihaknya mengimbau warga meningkatkan kewaspadaan, khususnya bagi para peternak.
Kami minta peternak memperkuat kandang ternak agar lebih kokoh, serta segera melaporkan jika melihat tanda-tanda keberadaan beruang di sekitar permukiman, imbaunya.
Akibat kejadian tersebut, Ubat diperkirakan mengalami kerugian hingga belasan juta rupiah. Zulkifli menyebut, korban merupakan warga kurang mampu yang selama ini bekerja serabutan, dengan beternak kambing sebagai usaha sampingan.
Kami berharap ada perhatian dari pemerintah maupun para dermawan untuk membantu saudara kita ini agar bisa kembali melanjutkan usahanya, ucapnya.
Selain itu, pihak gampong juga meminta Pemerintah dan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) segera turun tangan menangani kemunculan beruang di wilayah tersebut.
Kami berharap BKSDA segera turun ke lokasi untuk melacak keberadaan beruang. Jika tidak segera diatasi, ini berpotensi membahayakan masyarakat dan ternak warga, pungkasnya. (*Tengku)