CILACAP – Jurnalpolisi.id
Pepatah “roda nasib berputar” bukanlah sekadar kiasan bagi Masmun. Pria kelahiran Dusun Bulurja, Desa Bantarsari, Cilacap ini berhasil membuktikan bahwa keterbatasan ekonomi dan ketiadaan gelar akademis bukanlah penghalang untuk meraih puncak kesuksesan dan menebar manfaat bagi sesama.
Perjalanan Terjal Menuju Puncak
Lahir di tengah keluarga petani pada tahun 1976, masa kecil Masmun diwarnai dengan perjuangan untuk sekadar memenuhi kebutuhan pokok. Tanpa bekal ijazah sarjana, ia mengadu nasib ke Ibukota Jakarta sebagai kuli bangunan. Namun, di balik tubuhnya yang saat itu kurus, tersimpan tekad baja yang kini membuahkan hasil manis setelah lima dekade perjalanan hidup.
Kini, Masmun dikenal sebagai pengusaha sukses sekaligus penulis media lokal yang disegani. Tidak hanya membangun kerajaan bisnis, ia juga berhasil membangun keluarga yang harmonis bersama istri setia, anak-anak, hingga kehadiran cucu yang menjadi sumber kebahagiaan utamanya.
Membangun Ekonomi dari Desa
Berbeda dengan banyak pengusaha yang melupakan tanah kelahiran, Masmun justru memusatkan tempat usahanya di Dusun Bulurja dan Dusun Cikerang. Langkah ini memberikan dampak nyata bagi masyarakat sekitar.
Penyediaan Lapangan Kerja: Banyak warga lokal yang kini menggantungkan hidup dengan bekerja di unit usahanya.
Pembangunan Infrastruktur: Secara swadaya, ia terlibat aktif memperbaiki jalan desa, membangun tempat ibadah, hingga menyediakan akses air bersih bagi warga.
Filantropi Berkelanjutan: Masmun secara rutin mengalokasikan keuntungan bisnisnya untuk panti asuhan, beasiswa siswa berprestasi, dan bantuan bagi lansia di wilayah Bantarsari.
Ramadhan dan Semangat Berbagi
Memasuki bulan suci Ramadhan 2026, kedermawanan Masmun kembali terlihat. Pada Minggu (8/3/2026), ia membagikan ratusan hampers dan parsel Lebaran kepada rekan jurnalis, tim kerja, dan kerabat dekat.
”Semoga usahanya tambah sukses dan maju, panjang umur serta semakin berkah. Apa yang Bapak Masmun berikan semoga dilipatgandakan oleh Tuhan,” ujar Dadang penuh syukur.
Filosofi “Air yang Mengalir”
Saat ditanya mengenai rahasia kerendahhatiannya, Masmun menjawab dengan filosofi yang mendalam.
“Dedikasi itu seperti air yang mengalir. Jika kita menyumbatnya, ia akan menjadi lumpur yang tak berguna. Namun jika dibiarkan mengalir, ia akan memberi kehidupan bagi banyak orang,” tuturnya.
Kisah Masmun kini menjadi simbol harapan bagi pemuda di Kabupaten Cilacap. Ia adalah bukti hidup bahwa “butiran debu” dari dusun terpencil pun bisa bertransformasi menjadi “permata” yang menyinari kehidupan orang banyak melalui kerja keras, kejujuran, dan empati yang tak pernah padam.
(Syai)