Balikpapan – jurnalpolisi.id
Pemerintah Kota (Pemkot) Balikpapan merencanakan pembangunan pasar modern berkonsep semi-mal setinggi enam hingga delapan lantai sebagai upaya pengembangan infrastruktur dan peningkatan fasilitas kota. Proyek strategis ini diperkirakan membutuhkan anggaran lebih dari Rp100 miliar dan diharapkan dapat direalisasikan melalui dukungan pendanaan dari pemerintah provinsi maupun pemerintah pusat.
Wakil Wali Kota Balikpapan, Dr. Ir. H. Bagus Susetyo, MM., menyampaikan bahwa keterbatasan fiskal dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kota memaksa pihaknya mencari alternatif pembiayaan di luar APBD murni. Alokasi anggaran daerah saat ini lebih difokuskan pada pemenuhan mandatory spending, terutama di sektor pendidikan dan kesehatan.
“Kita karena keterbatasan fiskal dari pemerintah kota, tentu berharap ada bantuan, baik dari pemerintah provinsi maupun dari pemerintah pusat melalui APBN,” ujar Bagus saat ditemui, Selasa (3/3/2026). “Dengan APBD kita ada keterbatasan. Minimal mandatory spending terkait pendidikan dan kesehatan tetap kita laksanakan. Sehingga proyek-proyek infrastruktur dan pengembangan kota untuk menambah fasilitas, kita berharap ada bantuan provinsi maupun APBN,” tambahnya.
Pasar modern yang direncanakan akan mengusung konsep semi-mal, yang tidak hanya menampung aktivitas perdagangan tradisional, tetapi juga dilengkapi fasilitas modern seperti arena bermain, ruang ekonomi kreatif, dan area kuliner. “Konsepnya semi-mal. Ada arena bermain, ada ekonomi kreatif, ada kuliner juga. Jadi seperti mal, tetapi tetap mengakomodasi fungsi pasar,” jelasnya.
Saat ini, Pemkot Balikpapan telah meminta jajaran teknis untuk menyiapkan dokumen perencanaan detail atau Detailed Engineering Design (DED). Penyusunan DED melibatkan sejumlah organisasi perangkat daerah, antara lain Bappeda, Dinas Pekerjaan Umum, BKAD, serta Sekretaris Daerah.
“Sekarang Pak Wali bersama saya meminta agar beberapa proyek disiapkan DED-nya lengkap. Sehingga nanti tinggal diputuskan apakah menggunakan APBD kota, APBD provinsi, atau APBN,” ucap Bagus.
Pihaknya menargetkan proyek tersebut dapat diusulkan dalam pembahasan anggaran tahun 2027. Mengingat saat ini masih awal tahun, usulan tersebut belum masuk dalam Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) maupun pembahasan Badan Anggaran (Banggar) kementerian.
“Karena ini masih Februari dan belum masuk di musrenbang maupun pembahasan APBN, mudah-mudahan bisa kita dorong masuk di 2027,” katanya. Terkait estimasi anggaran, ia menegaskan kebutuhan dana berada di atas Rp100 miliar. “Kemarin estimasinya di atas Rp100 miliar,” ucapnya.
Selain proyek pasar utama tersebut, Pemkot Balikpapan juga menyiapkan perencanaan untuk Pasar Rindu. Namun, pengajuannya akan dilakukan secara bertahap. “Pasar Rindu sudah kita siapkan DED-nya juga. Tapi satu-satu dulu kita ajukan. Kalau semuanya diminta sekaligus belum tentu juga dikabulkan,” kata dia.
Sebelum penyusunan DED dilakukan, pemerintah telah menggelar survei serta meminta masukan dari para pedagang dan pemangku kepentingan. Langkah ini dilakukan untuk memastikan tidak ada gangguan aktivitas ekonomi saat proses pembangunan berlangsung. “Jangan sampai dibangun, tapi mereka tidak punya tempat untuk beroperasi sementara,” ujarnya.
Pemerintah kota berharap proses lobi dan pengajuan dukungan anggaran dapat berjalan lancar agar pembangunan bisa segera dimulai. “Targetnya tentu secepat mungkin. Kita sudah bersurat dan terus berupaya agar proyek ini mendapat dukungan,” tutup Bagus.
( Alfian )