
MERANGIN, jurnalpolisi.id
Kabar menggembirakan datang bagi seorang anak yatim piatu berinisial WU (14), warga Desa Meranti, Kecamatan Renah Pamenang, Kabupaten Merangin, Jambi. Berkat kepedulian dan dukungan berbagai pihak, WU akhirnya memperoleh kesempatan melanjutkan pendidikan di SMP Negeri 33 Renah Pamenang.
Proses pendaftaran WU berlangsung dengan didampingi orang tua asuhnya, Faisal, Kepala Desa Meranti Sri Hermawan, S.Km., serta Muhammad Aflah. Kedatangan mereka disambut langsung oleh Kepala SMPN 33 Renah Pamenang Era Indri Hastuti, S.Pd., Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum Inggih Puji Sadono, S.Pd., dan wali kelas WU, Rawi Eniya Wati, S.Pd., di ruang kepala sekolah.
Pada kesempatan tersebut, Kepala Desa Meranti Sri Hermawan menitipkan WU kepada pihak sekolah agar mendapatkan bimbingan dan pendidikan dengan penuh perhatian. Ia berharap WU dapat menikmati masa remajanya seperti anak-anak seusianya, memperoleh hak atas pendidikan, serta tumbuh menjadi pribadi yang mandiri dan berprestasi.
“Kami berharap pihak sekolah dapat membimbing WU dengan baik sehingga ia dapat belajar dengan tenang dan meraih cita-citanya,” ujar Sri Hermawan.
Orang tua asuh WU, Faisal, juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah membantu sehingga WU dapat diterima sebagai peserta didik baru di SMPN 33 Renah Pamenang.
“Saya mengucapkan terima kasih kepada pemerintah desa, pihak sekolah, dan semua yang telah memberikan perhatian kepada WU. Semoga ia dapat belajar dengan sungguh-sungguh dan memiliki masa depan yang lebih baik,” katanya.
Sementara itu, Kepala SMPN 33 Renah Pamenang Era Indri Hastuti menegaskan bahwa pihak sekolah menerima WU dengan tangan terbuka serta berkomitmen memberikan pendampingan selama menempuh pendidikan.
“Kami akan berupaya menciptakan lingkungan belajar yang aman, nyaman, dan mendukung agar WU dapat berkembang, baik dari sisi akademik maupun karakter,” ujarnya.
Kesempatan untuk melanjutkan pendidikan ini menjadi langkah penting bagi WU dalam menata masa depannya. Meski harus menjalani kehidupan tanpa kedua orang tua, ia kini memiliki kesempatan yang sama untuk belajar, mengembangkan potensi, dan menggapai cita-cita.
Kisah WU menjadi contoh bahwa kepedulian pemerintah desa, keluarga asuh, dan dunia pendidikan dapat membuka harapan baru bagi anak-anak yang membutuhkan. Diharapkan, semakin banyak pihak yang berperan aktif dalam memastikan setiap anak memperoleh hak atas pendidikan tanpa terkecuali.
(Rahma)




