
BALIKPAPAN jurnalpolisi.id
Dewan Pimpinan Cabang (DPC) PDI Perjuangan Kota Balikpapan menggelar pagelaran wayang kulit dalam rangka Peringatan Bulan Bung Karno 2026 di Sekretariat DPC PDI Perjuangan Kota Balikpapan, Jalan Syarifuddin Yoes, Ruko Sepinggan Pratama SQ III No. 12, Kecamatan Balikpapan Selatan, Sabtu (4/7/2026) malam. Kegiatan yang dihadiri sekitar 200 peserta itu berlangsung aman, tertib, dan mendapat pengamanan dari aparat kepolisian.
Pagelaran budaya tersebut dihadiri Ketua Fraksi PDI Perjuangan DPRD Provinsi Kalimantan Timur sekaligus Ketua Persatuan Pedalangan Indonesia (PEPADI) Kalimantan Timur, Muhammad Samsun, Ketua DPD PDI Perjuangan Kalimantan Timur Budiono, Ketua DPC PDI Perjuangan Kota Balikpapan Eddy Sunardi Darmawan, jajaran pengurus partai, tokoh masyarakat, komunitas seni, serta para pegiat budaya.
Rangkaian acara diawali dengan penampilan dalang cilik, dilanjutkan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya, Mars dan Hymne PDI Perjuangan, sambutan para tokoh, doa bersama untuk mengenang jasa Presiden pertama Republik Indonesia, Ir. Soekarno, hingga pagelaran wayang kulit yang dibawakan Ki Dalang Wahyudi dengan lakon “Bias Murka Bargawa.”
Ketua DPC PDI Perjuangan Kota Balikpapan, Eddy Sunardi Darmawan, mengatakan pagelaran wayang kulit merupakan bagian dari upaya menanamkan nilai-nilai kebangsaan sekaligus melestarikan budaya Nusantara. Menurutnya, wayang kulit bukan sekadar hiburan, tetapi juga media pendidikan yang sarat dengan pesan moral, etika, serta semangat persatuan.
Ia menegaskan bahwa penyelenggaraan kegiatan tersebut juga menjadi implementasi nilai Trisakti yang diwariskan Bung Karno, khususnya konsep berkepribadian dalam kebudayaan sebagai salah satu pilar pembangunan bangsa.
Sementara itu, Ketua PEPADI Kalimantan Timur Muhammad Samsun memberikan apresiasi atas komitmen DPC PDI Perjuangan Kota Balikpapan dalam mendukung pelestarian seni pedalangan. Menurutnya, keterlibatan dalang cilik dalam pagelaran menjadi bukti bahwa regenerasi pelaku seni tradisional terus berjalan.
Ia menilai wayang kulit memiliki nilai filosofis yang relevan dengan kehidupan berbangsa karena mengajarkan tentang kepemimpinan, kebijaksanaan, persatuan, serta pengendalian diri. Oleh sebab itu, pelestarian budaya harus menjadi tanggung jawab bersama, baik pemerintah, komunitas seni, maupun masyarakat.
Dalam kesempatan yang sama, Sesepuh Komunitas Swalamoh Kota Balikpapan, Woro Sumarsono, mengajak seluruh elemen masyarakat untuk terus menjaga warisan budaya sebagai bagian dari identitas bangsa. Menurutnya, pendekatan kebudayaan menjadi salah satu cara efektif membangun kedekatan dengan masyarakat sekaligus memperkuat semangat nasionalisme.
Selain menjadi ajang pelestarian budaya, kegiatan tersebut juga menjadi ruang silaturahmi antara masyarakat, pegiat seni, dan kader partai dalam memperingati Bulan Bung Karno yang setiap tahun diperingati sebagai momentum mengenang pemikiran dan perjuangan Sang Proklamator.
Selama kegiatan berlangsung hingga dini hari, situasi tetap aman, tertib, dan kondusif. Aparat kepolisian melakukan monitoring serta pengamanan guna memastikan seluruh rangkaian acara berjalan lancar tanpa adanya gangguan keamanan maupun ketertiban masyarakat.
( Alfian )




