Rupat jurnalpolisi.id
Selasa, 19 Mei 2026 — Antrian pengisian bahan bakar minyak (BBM) di SPBU Lecah hingga kini masih terus berkepanjangan. Kondisi tersebut dikeluhkan masyarakat karena dinilai sangat mengganggu aktivitas sehari-hari, terutama bagi warga yang tinggal di wilayah pelosok.
Sejak pagi hingga malam hari, antrean kendaraan roda dua maupun roda empat terlihat memadati area SPBU. Masyarakat rela menunggu berjam-jam demi mendapatkan BBM, baik di bawah terik matahari maupun saat hujan turun.
Warga mengaku kondisi ini sudah berlangsung cukup lama dan belum ada solusi yang dirasakan langsung oleh masyarakat. Saat cuaca panas, warga harus berpanas-panasan di tengah antrean panjang, sementara ketika hujan turun mereka tetap bertahan meski kehujanan dan basah kuyup demi memperoleh BBM untuk kebutuhan sehari-hari.
Salah seorang ibu rumah tangga yang enggan disebutkan namanya berharap pemerintah segera mengambil langkah cepat agar persoalan kelangkaan BBM tidak terus berlarut-larut.
“Seharusnya pemerintah mengambil kebijakan yang cepat, jangan berlarut-larut seperti ini,” ujarnya.
Selain menyulitkan masyarakat umum, antrean panjang juga berdampak terhadap aktivitas pendidikan dan ekonomi warga. Banyak masyarakat mengaku harus menempuh jarak puluhan kilometer hanya untuk mendapatkan bahan bakar.
Beberapa warga juga mempertanyakan maraknya penjualan minyak eceran di sepanjang jalan Kota Dumai dan sekitarnya, sementara di wilayah Rupat kondisi tersebut dinilai berbeda.
“Kenapa di sepanjang jalan Kota Dumai banyak minyak dijual eceran, sedangkan di Rupat tidak bisa? Apa bedanya? Tolong kami, Pak.
Anak-anak sekolah kami harus ikut antre dan menempuh jarak puluhan kilometer,” keluh warga.
Warga berharap pemerintah daerah maupun pihak terkait dapat segera mencari solusi agar distribusi BBM kembali normal dan masyarakat tidak lagi harus menghabiskan waktu setiap hari untuk mengantre.
“Tiap hari kami antre, Pak,” tambah warga lainnya.
Masyarakat juga berharap BBM jenis Pertalite dan Bio Solar dapat kembali disalurkan hingga ke pelosok-pelosok desa seperti sebelumnya. Menurut mereka, distribusi yang merata akan sangat membantu masyarakat kecil, nelayan, petani, hingga para pelajar yang sangat bergantung pada kendaraan untuk beraktivitas.
“Kami berharap Pertalite dan Bio Solar bisa disalurkan lagi ke desa-desa seperti dulu, supaya masyarakat senang dan tidak susah mendapatkan BBM,” ungkap seorang warga.
Warga berharap keluhan mereka dapat segera mendapat perhatian serius dari pemerintah dan instansi terkait agar aktivitas masyarakat kembali berjalan normal tanpa harus dibayangi antrean panjang setiap hari.