CILACAP – JurnalPolisi.id
Sektor pertanian di Desa Ujung Gagak, Kecamatan Kampung Laut, Kabupaten Cilacap, tengah memasuki babak baru. Melalui program Optimasi Lahan (OPLA) Non-Rawa dari Kementerian Pertanian (Kementan) RI, lahan yang dulunya terbatas kini mengalami peningkatan produktivitas yang signifikan, membawa harapan baru bagi kesejahteraan petani lokal.
Solusi Infrastruktur untuk Lahan Tadah Hujan
Program yang didanai melalui APBN Tugas Pembantuan (TP) ini fokus pada pembenahan infrastruktur pengairan yang selama ini menjadi tantangan utama. Koordinator Pertanian Wilayah Kecamatan Kampung Laut, Muksin, menyatakan bahwa pada tahun 2025, Desa Ujung Gagak mendapat alokasi OPLA seluas 190 hektare.
Di atas lahan tersebut, telah dibangun fasilitas vital berupa:
- Rehabilitasi Jaringan Irigasi Tersier (RJIT) sepanjang 575 meter.
- Irigasi Perpompaan (IRPOM) dan jaringan pipa di dua titik dengan total panjang hampir 700 meter.
”Awalnya lahan ini hanya bisa panen satu kali setahun. Dengan infrastruktur ini, kami targetkan Indeks Pertanaman (IP) naik menjadi dua kali atau IP 200,” ujar Muksin saat ditemui di kantornya, Senin (23/2/2026).
Swakelola dan Sinergi dengan TNI
Pembangunan fisik senilai Rp 875.000.000 ini dilakukan secara swakelola oleh kelompok tani dan masyarakat setempat guna memberdayakan ekonomi warga. Seluruh proses pengerjaan juga mendapatkan pendampingan ketat dari TNI untuk memastikan kualitas dan ketepatan waktu.
Muksin mengonfirmasi bahwa seluruh proyek telah tuntas pada awal Januari 2026 dan siap digunakan sepenuhnya untuk mendukung Masa Tanam (MT) kedua tahun ini.
Harapan Perluasan Lahan
Meskipun program ini sukses, tantangan besar masih membentang. Muksin mengungkapkan masih terdapat sekitar 1.700 hektare lahan tadah hujan di wilayahnya yang hanya mampu tanam satu kali setahun.
”Harapan kami, sisa lahan seluas 1.700 hektare itu bisa mendapatkan program serupa untuk meningkatkan IP. Kami juga mencatat kebutuhan rehabilitasi sawah sekitar 400 hektare di wilayah ini,” tambahnya.
Apresiasi Petani: Menatap Target IP 300
Keberhasilan ini disambut antusias oleh para pelaku utama di lapangan. Kusiman, Ketua Kelompok Tani Sido Makmur Desa Ujung Gagak, menyampaikan rasa syukur yang mendalam atas bantuan pemerintah pusat.
”Manfaatnya sangat besar. Yang tadinya hanya bisa panen padi satu kali, sekarang sudah bisa dua kali. Bahkan, kami berencana untuk mengejar tiga kali panen (IP 300) ke depannya,” kata Kusiman dengan optimis.
Transformasi di Desa Ujung Gagak ini menjadi bukti nyata bahwa intervensi teknologi dan perbaikan infrastruktur irigasi mampu mengubah wajah pertanian tadah hujan menjadi lahan produktif yang berkelanjutan.
(Syaifulloh)