Batam, jurnalpolisi.id
Terkadang sebuah kalimat yang lahir dari percakapan santai justru menyimpan makna yang jauh lebih dalam daripada sekadar rangkaian kata biasa. Hal itu tergambar dari sebuah percakapan di ruang komunikasi digital yang menarik perhatian banyak pihak.
Dalam percakapan tersebut, seseorang menyampaikan bahwa yang duduk berdampingan langsung dengan seorang jenderal adalah Dr. Nursalim, S.Pd., M.Pd., yang juga dikenal sebagai penasihat Kamtibmas Indonesia Kota Batam. Kalimat itu disampaikan dengan nada penuh penghormatan, seolah menegaskan bahwa pertemuan tersebut bukan sekadar kebetulan, melainkan mencerminkan hubungan kepercayaan yang telah terbangun dengan baik.
Sekilas, pesan itu mungkin tampak seperti ungkapan biasa dalam percakapan sehari-hari. Namun jika dicermati lebih dalam, kalimat tersebut menyiratkan makna sosial yang lebih luas. Ia menggambarkan adanya penghargaan terhadap integritas seseorang, sekaligus pengakuan atas peran dan kontribusi yang telah diberikan kepada masyarakat.
Dalam kehidupan masyarakat modern, hubungan antara tokoh masyarakat, kalangan akademisi, dan aparat keamanan memiliki peran penting dalam menjaga stabilitas sosial. Komunikasi yang terjalin dengan baik di antara berbagai elemen tersebut dapat membantu menyelesaikan persoalan masyarakat secara lebih bijaksana. Sebaliknya, ketika komunikasi terputus, kesalahpahaman kerap muncul dan berpotensi berkembang menjadi persoalan yang lebih besar.
Nama Dr. Nursalim sendiri cukup dikenal di berbagai kalangan di Kepulauan Riau, khususnya di Kota Batam. Ia tidak hanya dikenal sebagai akademisi, tetapi juga sebagai penulis serta penggiat bahasa, sastra, dan budaya Melayu. Selain aktif di dunia pendidikan, ia juga kerap terlibat dalam berbagai kegiatan sosial yang bersentuhan langsung dengan masyarakat.
Kombinasi antara kapasitas intelektual dan kepedulian sosial tersebut menjadikan dirinya dihormati oleh berbagai kalangan. Dalam konteks keamanan dan ketertiban masyarakat, keberadaan tokoh yang mampu menjembatani komunikasi antara masyarakat dan institusi negara memiliki nilai yang sangat strategis.
Aparat keamanan membutuhkan dukungan masyarakat agar berbagai program pemeliharaan keamanan dapat berjalan dengan baik. Di sisi lain, masyarakat juga memerlukan figur yang mampu menyampaikan aspirasi secara bijaksana kepada para pemangku kebijakan.
Percakapan singkat yang muncul di ruang digital itu secara tidak langsung menunjukkan bahwa hubungan antara masyarakat dan aparat negara dapat dibangun melalui pendekatan yang lebih humanis. Ketika seorang tokoh masyarakat duduk berdampingan dengan seorang jenderal dalam sebuah forum atau pertemuan, hal tersebut tidak hanya memiliki makna simbolik, tetapi juga mencerminkan adanya ruang dialog yang terbuka.
Bagi masyarakat Melayu yang hidup di wilayah Kepulauan Riau, penghormatan kepada tokoh berilmu merupakan bagian dari tradisi yang telah mengakar sejak lama. Dalam budaya Melayu, seseorang yang memiliki ilmu pengetahuan, adab, serta kepedulian terhadap masyarakat akan dihargai sebagai rujukan moral dalam kehidupan bersama.
Karena itu, pesan sederhana yang menyebutkan seorang tokoh masyarakat duduk berdampingan dengan seorang jenderal sejatinya menyimpan pesan yang lebih luas. Ia menggambarkan harapan masyarakat terhadap terciptanya hubungan yang harmonis antara tokoh masyarakat, kalangan intelektual, dan aparat negara dalam menjaga keamanan serta ketertiban bersama.
Pada akhirnya, kisah kecil dari percakapan tersebut mengingatkan bahwa kepercayaan sosial tidak lahir secara tiba-tiba. Ia tumbuh dari keteladanan, integritas, serta komunikasi yang dibangun dengan sikap saling menghargai. Nilai-nilai itulah yang menjadi fondasi penting bagi terciptanya kehidupan masyarakat yang damai, beradab, dan penuh kepercayaan satu sama lain.
(Sahril JPN)