Cilacap – jurnalpolisi.id
Gandrungmangu – Desa Gintungreja kini berada di persimpangan jalan sejarah. Sebagai salah satu barometer ekonomi di wilayah Gandrungmangu, Cilacap, desa yang kaya akan potensi UMKM gula olahan dan hamparan pertanian ini diprediksi akan menghadapi tantangan besar menjelang pesta demokrasi desa pada awal 2027 mendatang.
Tokoh masyarakat sekaligus pengamat sosial, S.Sos (Mbah Sono), menegaskan bahwa Gintungreja tidak boleh lagi dikelola dengan cara-cara konvensional. Menurutnya, masa depan desa ini dipertaruhkan pada kualitas mandat yang diberikan oleh rakyat.
Dalam pandangannya, Mbah Sono menyoroti fenomena politik uang yang kerap mencederai demokrasi di tingkat akar rumput. Ia memperingatkan bahwa suara yang terbeli adalah awal dari matinya hak rakyat untuk menuntut perubahan.
”Pemimpin yang ‘membeli’ suara hanya akan sibuk menghitung cara untuk balik modal, bukan menghitung cara menyejahterakan rakyatnya,” tegas Mbah Sono. Ia mengajak warga untuk berani memutus rantai investasi buruk tersebut demi masa depan generasi mendatang.
Butuh Sosok ‘Manajer Desa’ yang Out of the Box
Memasuki era 2027, kriteria “orang baik” dinilai tidak lagi cukup. Mbah Sono menekankan pentingnya profil pemimpin yang memiliki Mentalitas Manajer atau seorang Creative CEO. Ada empat pilar utama yang harus dimiliki pemimpin Gintungreja ke depan:
1).Melek Manajemen: Tidak hanya menunggu kucuran dana pusat, tapi mampu menyulap potensi desa menjadi mesin ekonomi mandiri.
2).Kepemimpinan Digital: Mampu memotong birokrasi yang rumit melalui transparansi dan kecepatan layanan berbasis teknologi.
3).Visi Autentik: Memahami masalah nyata di setiap gang desa dan mengeksekusinya dengan standar profesional.
4).Integritas Tinggi: Memiliki rasa takut kepada Tuhan sebagai landasan kejujuran dalam setiap kebijakan.
Menuju Gintungreja Mandiri
Pembangunan yang berkelanjutan, menurut Mbah Sono, hanya bisa lahir dari kemandirian, bukan ketergantungan. Sinergi aktif dengan pihak legislatif dan kemampuan “menjemput” anggaran secara strategis menjadi keterampilan wajib bagi kepala desa terpilih nantinya.
”Pada 2027 nanti, mari kita melangkah ke TPS dengan kepala tegak. Gintungreja memanggil pemimpin yang berkualitas SDM tinggi, teruji manajerialnya, amanah, dan takut kepada Tuhan,” pungkasnya.
Seruan ini menjadi pengingat bagi seluruh warga Gintungreja bahwa kedaulatan desa dimulai dari pilihan yang didasari oleh akal sehat, bukan iming-iming sesaat.
(syai)