Jakarta – jurnalpolisi.id
Dipertuan Agung Dewan Adat Nasional Republik Indonesia (DANRI), Sultan Sepuh Cirebon KGSS Pangeran Heru Rusyamsi Arianatareja, S.Psi., M.H., bersama Sekretaris Jenderal DANRI, Sultan Samudera Pasai Aceh Teuku Badrudin Syah, melakukan kunjungan kenegaraan dan silaturahmi kebangsaan dengan Wakil Presiden Republik Indonesia, Gibran Rakabuming Raka, di Istana Wakil Presiden, Jakarta.
Pertemuan ini menjadi simbol harmonisasi dan sinergitas antara Pemerintah Republik Indonesia dan para pemimpin historis Nusantara dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Pemerintah yang diwakili oleh Wakil Presiden RI, serta Kerajaan yang diwakili oleh Sultan Sepuh Cirebon dan Sultan Samudera Pasai, menunjukkan bahwa negara dan adat berjalan berdampingan—saling menghormati, saling menguatkan, dan saling menjaga marwah kebangsaan.
Ini adalah pesan kebangsaan yang kuat:
Bahwa adat dan budaya bukanlah entitas terpisah dari negara, melainkan fondasi moral dan historis yang memperkokoh persatuan Indonesia.

Ketika Pemerintah sebagai pengemban amanah konstitusi bersinergi dengan para Sultan sebagai penjaga nilai leluhur dan marwah tradisi, maka lahirlah kekuatan yang tidak hanya struktural, tetapi juga spiritual dan kultural.
Inilah Indonesia yang sesungguhnya:
Berbeda namun tetap satu.
Berakar pada tradisi, namun visioner menatap masa depan.
Menjaga warisan leluhur, sekaligus mengawal pembangunan bangsa.
Agenda Strategis Kebangsaan
Dalam pertemuan tersebut, Dipertuan Agung DANRI menyampaikan sejumlah pokok pikiran strategis:
1.Peran Historis Kerajaan Kesultanan Nusantara
Menegaskan kembali kontribusi kerajaan dan kesultanan sebagai entitas negara awal yang memiliki legitimasi historis dalam pembentukan peradaban Nusantara hingga lahirnya NKRI.
2.Penguatan Kedaulatan NKRI Secara Administratif dan Ketatanegaraan
Perlunya penyempurnaan aspek hukum administrasi dan tata negara agar selaras dengan fakta historis kebangsaan, demi memperkokoh fondasi kedaulatan nasional.
3.Harmonisasi dan Sinergitas Kerajaan dengan Pemerintah NKRI
Mendorong terbentuknya ruang resmi dan terhormat bagi Raja dan Sultan Nusantara dalam struktur strategis pemerintahan, guna memperkuat penyelesaian berbagai persoalan kebangsaan, termasuk konflik agraria dan tanah ulayat.
Dipertuan Agung DANRI menyampaikan dengan tegas dan penuh tanggung jawab kebangsaan:
“Sudah saatnya para pemimpin historis Nusantara mengambil peran aktif dan menunjukkan kepeduliannya terhadap bangsa yang kini bernama NKRI. Pemerintah diharapkan memberi ruang dan tempat terhormat bagi Raja dan Sultan dalam sistem pemerintahan, sebagai mitra strategis menjaga kedaulatan dan persatuan.”
Beliau juga mengusulkan agar terdapat Utusan Khusus Presiden dari kalangan Raja dan Sultan Nusantara untuk mendampingi Presiden dalam menangani isu-isu strategis kebangsaan, khususnya yang berkaitan dengan tanah ulayat dan harmonisasi adat dengan regulasi negara serta Lembaga DANRI dapat dikepreskan kembali menjadi Lembaga Negara Khusus tempat para Raja Sultan nusantara yang telah terverifikasi oeh negara.
Respons Positif Wakil Presiden
Wakil Presiden RI, Gibran Rakabuming Raka, menyambut baik seluruh gagasan yang disampaikan. Beliau menilai bahwa pokok-pokok pemikiran tersebut sangat penting dalam memperkuat dan memperkokoh kedaulatan NKRI, serta akan menindaklanjutinya dengan menyampaikan kepada Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto.
Menurut Wakil Presiden, peran historis kerajaan dan kesultanan dalam perjalanan bangsa Indonesia tidak dapat diragukan, dan sinergi antara adat dan negara merupakan energi besar bagi masa depan Indonesia.
Pertemuan ini menjadi bukti kasih sayang dan kecintaan para Sultan Nusantara terhadap NKRI—bukan semata sebagai simbol budaya, tetapi sebagai negarawan yang berpikir strategis demi keutuhan bangsa.
Negara dan Adat: Dua Pilar, Satu Tujuan
Dewan Adat Nasional Republik Indonesia di bawah kepemimpinan Dipertuan Agung Sultan Sepuh Cirebon dan Sekjend Sultan Samudera Pasai Aceh menunjukkan paradigma baru: bahwa Sultan bukan hanya penjaga tradisi, tetapi juga pemikir dan penjaga arah kebangsaan.
Ini bukan sekadar pertemuan seremonial.
Ini adalah penegasan jati diri.
Bahwa NKRI yang kuat adalah NKRI yang menghormati akar sejarahnya.
Bahwa pemimpin besar adalah pemimpin yang berani mengakui dan merangkul peran historis bangsanya.
Semoga kebersamaan ini menjadi inspirasi nasional—bahwa kolaborasi adalah kunci.
Bukan tentang siapa yang paling berkuasa, tetapi siapa yang paling tulus menjaga negeri.
NKRI harga mati.
Adat dijunjung, Negara dimuliakan.
Bersama kita rawat persatuan menuju Indonesia Emas—berdaulat, bermartabat, dan berkeadilan.
(Red)