Kutai Timur jurnalpolisi.id
Kepolisian Resor (Polres) Kutai Timur kembali menunjukkan komitmennya bahwa tugas kepolisian tidak melulu soal penegakan hukum dan keamanan. Sabtu (7/3/2026) sore, jajaran Seksi Kedokteran dan Kesehatan (Sidokkes) Polres Kutim melakukan aksi “jemput bola” dengan menggelar pelayanan kesehatan dan pengobatan gratis tepat di tengah area Perkebunan Mandiri, Desa Sepaso Induk, Kecamatan Bengalon.
Kegiatan Bakti Sosial (Baksos) kesehatan ini bukan tanpa alasan. Kehadiran tim medis berseragam cokelat ini merupakan bagian dari pengawalan agenda Penanaman Jagung Serentak Kwartal I, sebuah program strategis untuk mendukung terwujudnya target Swasembada Jagung Nasional Tahun 2026.
Menanggapi kegiatan inovatif ini, Kapolres Kutai Timur, AKBP Fauzan Arianto, menegaskan bahwa kesehatan masyarakat khususnya para petani adalah fondasi krusial dalam menyukseskan ketahanan pangan nasional.
“Petani adalah pejuang dan ujung tombak ketahanan pangan kita. Untuk bisa mencapai target Swasembada Jagung di tahun 2026 ini, saudara-saudara kita para petani mutlak harus memiliki fisik yang prima. Oleh karena itu, kami perintahkan Sidokkes untuk turun langsung, ‘jemput bola’ ke tengah kebun guna memastikan kesehatan mereka terjaga,” tegas AKBP Fauzan Arianto.
Perwira menengah melati dua tersebut juga menambahkan bahwa Polri berupaya hadir secara holistik di tengah masyarakat. “Selain bertugas memberikan rasa aman dari gangguan Kamtibmas, kami juga ingin memberikan rasa nyaman dan sehat. Kami yakin, kalau petaninya sehat dan kuat, insyaallah hasil panen jagungnya akan melimpah ruah,” imbuhnya.
Pelayanan Komprehensif dan Tepat Sasaran
Dalam pelaksanaannya, personel Sidokkes Polres Kutim yang bertugas memberikan layanan komprehensif kepada warga di sekitar Perkebunan Perdau Mandiri.
Layanan tersebut meliputi pemeriksaan tanda-tanda vital (tensi, nadi, suhu, dan respirasi), pengecekan laboratorium darah sederhana, pemberian obat-obatan gratis sesuai dengan keluhan medis dan indikasi dokter.
Tercatat ada sebanyak 25 orang warga dan petani yang memanfaatkan fasilitas pengobatan gratis ini. Berdasarkan hasil pemeriksaan di lapangan, mayoritas warga mengalami keluhan penyakit degeneratif dan keluhan fisik akibat aktivitas bertani, seperti hipertensi (darah tinggi), gastritis (maag), artritis dan reumatik (nyeri sendi), diabetes melitus (DM), hipotensi, hingga Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA).
Seluruh pasien telah mendapatkan penanganan pertama dan obat-obatan yang dibutuhkan secara cuma-cuma dari tim medis Polres Kutim. Dengan kondisi fisik yang kini lebih terpantau, warga diharapkan dapat kembali mengolah lahan pertanian mereka dengan energi baru yang lebih maksimal.
( Alfian )