Kukar- jurnalpolisi.id
Suasana berbeda terasa di Rumah Tahanan (Rutan) Mapolres Polres Kutai Kartanegara saat lantunan ayat suci Al-Qur’an dan tausiah Ramadhan menggema di balik jeruji, Selasa (24/2).
Kegiatan pembinaan rohani tersebut dilakukan oleh Kapolsek Sebulu IPTU Edi Subagyo dengan menghadirkan penceramah dari GP Ansor. Tausiah yang disampaikan tidak hanya menjadi siraman rohani, tetapi juga penguat hati bagi para tahanan yang tengah menjalani proses hukum.
Dalam suasana khidmat, para tahanan duduk bersila, mendengarkan pesan-pesan tentang taubat, keikhlasan, dan kesempatan memperbaiki diri. Penceramah mengingatkan bahwa Ramadhan adalah bulan ampunan, bulan di mana setiap insan diberi ruang untuk kembali kepada Allah SWT.
“Kesalahan di masa lalu bukan akhir dari segalanya. Selama kita masih diberi napas, pintu taubat selalu terbuka. Ramadhan adalah momentum untuk bangkit dan menjadi pribadi yang lebih baik,” pesan penceramah dalam tausiahnya.
Kapolsek Sebulu IPTU Edi Subagyo dalam sambutannya menyampaikan bahwa kegiatan tersebut merupakan bentuk kepedulian dan pembinaan, bukan sekadar rutinitas seremonial. Menurutnya, para tahanan tetaplah manusia yang memiliki hak untuk dibina, diarahkan, dan diberi harapan.
“Kami ingin menghadirkan Ramadhan yang menyejukkan bagi saudara-saudara kita di sini. Kesalahan yang terjadi adalah bagian dari perjalanan hidup, namun masa depan masih bisa diperbaiki. Manfaatkan waktu ini untuk mendekatkan diri kepada Tuhan dan menata niat menjadi lebih baik,” ujarnya dengan penuh empati.
Ia menegaskan bahwa pembinaan rohani menjadi bagian penting dalam proses pemulihan mental dan spiritual para tahanan, agar kelak saat kembali ke masyarakat, mereka dapat menjalani kehidupan yang lebih positif dan bertanggung jawab.
Kegiatan diakhiri dengan doa bersama, memohon ampunan dan kekuatan agar setiap pribadi mampu menjalani ujian hidup dengan sabar serta menjadikan Ramadhan sebagai titik balik menuju perubahan.
Di balik tembok rutan, sore itu bukan hanya tentang menjalankan ibadah, tetapi tentang menumbuhkan kembali harapan. Sebab di bulan suci, bahkan di ruang terbatas sekalipun, cahaya kebaikan tetap dapat menyala.
( Alfian )