
BANDUNG – jurnalpolisi.id
Antusiasme masyarakat Kota Bandung terlihat begitu tinggi dalam kegiatan pre-launching Lamoria Paviljoen yang digelar di kawasan Sport Jabar Arcamanik, Kota Bandung, Minggu (1/11/2026). Sejak pukul 06.30 WIB, ribuan warga dari berbagai kalangan memadati lokasi kegiatan untuk melihat sekaligus membeli beragam produk kreatif hasil pembinaan kemandirian Warga Binaan Lapas Perempuan Kelas IIA Bandung.
Kegiatan ini menjadi momentum penting dalam memperkenalkan Lamoria Paviljoen sebagai ruang pemasaran sekaligus wadah kolaborasi produk unggulan hasil karya warga binaan. Melalui kehadiran pusat kegiatan tersebut, produk-produk yang selama ini dihasilkan melalui program pembinaan di lingkungan pemasyarakatan diharapkan semakin dikenal masyarakat dan mampu bersaing di pasar yang lebih luas.
Pre-launching Lamoria Paviljoen secara resmi dibuka oleh Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Jawa Barat, Ika Yusanti, Bc.IP., S.H., M.Si. Turut hadir Kepala Lapas Perempuan Kelas IIA Bandung, Rika Apriyanti, Sekretaris Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Jawa Barat Gilang Sailendra, jajaran Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pemasyarakatan Bandung Raya, serta perwakilan instansi terkait, di antaranya Lurah Arcamanik, Kesbangpol, dan Polsek Arcamanik.
Kehadiran berbagai unsur tersebut menunjukkan dukungan dan sinergi antara jajaran pemasyarakatan, pemerintah daerah, serta masyarakat dalam mendorong keberhasilan program pembinaan kemandirian warga binaan.
Rangkaian kegiatan diawali dengan pelepasan 100 balon ke udara sebagai simbol dimulainya langkah baru Lamoria dalam memperkenalkan dan memasarkan produk hasil karya warga binaan. Suasana semakin semarak dengan kegiatan senam Zumba bersama yang diikuti masyarakat.
Panitia juga menghadirkan berbagai kegiatan pendukung, seperti pemeriksaan kesehatan gratis, photobooth interaktif, serta permainan Spin the Wheel dengan hadiah menarik. Berbagai fasilitas tersebut semakin menambah daya tarik kegiatan sehingga masyarakat tidak hanya datang untuk berbelanja, tetapi juga menikmati suasana kebersamaan.
Salah satu agenda yang menarik perhatian pengunjung adalah Lamoria Fashion Show hasil kolaborasi dengan Inez Management. Peragaan busana tersebut menampilkan berbagai karya fesyen buatan warga binaan, mulai dari busana ready-to-wear, batik khas, produk ecoprint, hingga tas rajut.
Beragam karya tersebut memperlihatkan kreativitas, keterampilan, dan ketekunan warga binaan dalam menghasilkan produk yang memiliki nilai seni sekaligus nilai ekonomi. Melalui peragaan busana ini, Lamoria ingin menunjukkan bahwa keterbatasan ruang tidak menjadi penghalang bagi seseorang untuk terus berkarya dan mengembangkan potensi diri.
Selain produk fesyen, area pameran juga menghadirkan produk unggulan hasil kolaborasi dari Lapas Banceuy dan Rutan Perempuan Bandung. Berbagai produk kerajinan tangan atau craft, rajutan, hingga tanaman hias dipamerkan dengan mengusung jenama Lamoria.
Produk rajutan seperti syal, tas, dan kupluk dengan desain kekinian turut menarik perhatian pengunjung. Kehadiran berbagai produk tersebut menjadi bukti bahwa program pembinaan kemandirian di lingkungan pemasyarakatan dapat menghasilkan karya yang memiliki peluang untuk dikembangkan menjadi produk komersial.
Puff Tape dan Soes Jadi Produk Kuliner Favorit
Dari seluruh produk yang diperkenalkan, sektor kuliner menjadi salah satu daya tarik terbesar dalam kegiatan tersebut. Lamoria memperkenalkan produk inovatif bernama Puff Tape yang mengangkat kembali kenangan masyarakat terhadap peuyeum sebagai salah satu kekayaan kuliner khas Bandung.
Puff Tape hadir dengan delapan varian rasa. Selain itu, pengunjung juga dapat menikmati produk kue soes dengan lima varian rasa, termasuk empat varian baru, yakni Butterscotch Coffee, Coconut Cloud, Cokelat, dan Matcha.
Inovasi tersebut menjadi salah satu upaya menghadirkan produk kuliner dengan cita rasa yang lebih beragam tanpa meninggalkan sentuhan lokal yang menjadi identitas Kota Bandung.
Tingginya minat masyarakat terlihat dari antrean panjang pengunjung yang ingin mencicipi sekaligus membeli produk tersebut. Lebih dari 1.000 pengunjung disebut rela mengantre untuk mendapatkan produk kuliner unggulan Lamoria.
Besarnya permintaan bahkan membuat persediaan Puff Tape dan kue soes habis terjual dalam waktu relatif singkat. Sejumlah pengunjung yang ingin melakukan pembelian tambahan terpaksa tidak kebagian karena produk telah ludes.
Antusiasme tersebut menjadi respons positif terhadap hasil pembinaan kemandirian warga binaan sekaligus menunjukkan adanya peluang pasar bagi produk-produk yang dihasilkan dari lingkungan pemasyarakatan.
Dorongan untuk Membangun Kemandirian Warga Binaan
Kepala Kantor Wilayah Ditjenpas Jawa Barat, Ika Yusanti, menyampaikan apresiasi dan rasa syukur atas sambutan luar biasa masyarakat terhadap kegiatan pre-launching Lamoria Paviljoen.
“Alhamdulillah dukungan masyarakat sangat luar biasa. Ini kami artikan sebagai dukungan besar masyarakat terhadap pembinaan melalui kreativitas warga binaan dalam menghasilkan produk yang bernilai ekonomi,” ujar Ika dalam sambutannya.
Menurut Ika, Lamoria Paviljoen tidak dirancang hanya sebagai tempat memamerkan dan menjual produk hasil karya warga binaan. Lebih dari itu, keberadaannya diharapkan menjadi ruang interaksi positif yang mempertemukan warga binaan, petugas pemasyarakatan, dan masyarakat luas.
Ia menegaskan bahwa warga binaan pada waktunya akan kembali ke tengah masyarakat. Karena itu, penerimaan dan dukungan masyarakat menjadi bagian penting dalam proses reintegrasi sosial agar mereka dapat menjalani kehidupan secara mandiri setelah menyelesaikan masa pembinaan.
“Karena sejatinya warga binaan akan kembali ke masyarakat, sehingga dukungan kuat masyarakat sangat dibutuhkan,” imbuhnya.
Ika juga menyampaikan terima kasih kepada Dinas Pemuda dan Olahraga Jawa Barat yang telah memberikan fasilitas penggunaan kawasan Sport Jabar sebagai lokasi penyelenggaraan kegiatan tersebut.
Apresiasi serupa disampaikan Sekretaris Dispora Jawa Barat, Gilang Sailendra, yang hadir langsung meninjau kegiatan. Ia mengaku bangga melihat kualitas produk hasil karya warga binaan sekaligus tingginya partisipasi masyarakat dalam mendukung kegiatan Lamoria.
“Luar biasa, selain apresiasi terhadap produk-produk warga binaan Lamoria, saya juga bangga dengan warga Bandung yang mendukung Lamoria dan kegiatan di Sport Jabar,” tutur Gilang.
Angkat Potensi Lokal sebagai Oleh-Oleh Khas Bandung
Sementara itu, Kepala Lapas Perempuan Kelas IIA Bandung, Rika Apriyanti, menjelaskan bahwa pengembangan produk kuliner Puff Tape merupakan salah satu inovasi untuk mengangkat kembali cita rasa lokal yang erat kaitannya dengan identitas Kota Bandung.
Melalui inovasi tersebut, pihaknya berharap produk hasil karya warga binaan tidak hanya diminati masyarakat setempat, tetapi juga dapat menjadi salah satu pilihan buah tangan bagi wisatawan yang berkunjung ke Kota Bandung.
“Kami berharap sekali lagi Puff Tape dan soes dengan varian baru ini menjadi pilihan oleh-oleh warga Bandung dan wisatawan yang datang ke Bandung,” kata Rika.
Rika juga mengungkapkan rasa syukur atas kelancaran kegiatan serta tingginya partisipasi masyarakat yang telah hadir sejak pagi. Menurutnya, sambutan positif tersebut menjadi bentuk dukungan nyata terhadap proses pembinaan yang selama ini dijalankan.
Dukungan masyarakat, baik secara moril maupun melalui pembelian produk, diharapkan dapat meningkatkan motivasi warga binaan untuk terus mengembangkan keterampilan, meningkatkan kualitas hasil produksi, serta mempersiapkan diri agar kelak mampu hidup mandiri dan produktif di tengah masyarakat.
Ia pun mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk terus memberikan dukungan terhadap keberadaan Lamoria Paviljoen agar cita-cita menjadikannya sebagai ruang bersama antara lembaga pemasyarakatan dan masyarakat dapat terwujud.
“Sekali lagi mohon dukungannya kepada semua masyarakat, semoga cita-cita Lamoria Paviljoen dapat terwujud, menjadi ruang bersama Lapas Perempuan Bandung dengan masyarakat, dan yang tidak kalah penting lagi menjadi media penghantar warga binaan kembali ke masyarakat menjadi warga negara mandiri dan taat hukum,” pungkas Rika.
Soft Launching 14 November, Grand Launching 21 November 2026
Antusiasme masyarakat dalam kegiatan pre-launching ini menjadi awal yang positif bagi pengembangan Lamoria Paviljoen ke depan. Bagi masyarakat yang belum sempat hadir, masih tersedia kesempatan untuk mengikuti rangkaian kegiatan berikutnya.
Berdasarkan agenda yang disampaikan pengelola, tahap soft launching Lamoria Paviljoen dijadwalkan berlangsung pada 14 November 2026, kemudian dilanjutkan dengan grand launching pada 21 November 2026.
Dengan hadirnya Lamoria Paviljoen, diharapkan hasil pembinaan kemandirian warga binaan semakin memperoleh ruang pemasaran, mendapatkan apresiasi masyarakat, serta membuka kesempatan ekonomi yang lebih luas.
Lebih dari sekadar tempat penjualan produk, Lamoria Paviljoen diharapkan menjadi jembatan yang menghubungkan kreativitas warga binaan dengan kepercayaan masyarakat. Sebuah langkah nyata bahwa pembinaan bukan hanya tentang menjalani masa pidana, tetapi juga mempersiapkan manusia untuk kembali berkarya, mandiri, dan diterima di tengah kehidupan sosial.
(Tanjung Hamirzen)




