Lhokseumawe jurnalpolisi.id
Personel Bawah Kendali Operasi (BKO) Satuan Brimob Polda Kalimantan Timur terus menebar manfaat dan memperkuat kemanunggalan dengan masyarakat di wilayah penugasan Aceh Utara. Pada Kamis (19/02/2026), sebanyak satu Satuan Setingkat Kompi (SSK) di bawah pimpinan Danki Penugasan AKP Elan Suherlan, S.H., melaksanakan aksi kemanusiaan berupa pembersihan sisa material lumpur di Masjid Al Mabrur yang terletak di Jl. Lintas Sumatera, Kecamatan Muara Dua, Lhokseumawe. Kegiatan gotong royong ini dilakukan untuk memastikan sarana ibadah tersebut kembali bersih dan nyaman digunakan oleh jamaah pasca-terdampak cuaca ekstrem yang membawa endapan lumpur ke area rumah ibadah.
Sebelum aksi dimulai, rangkaian kegiatan diawali dengan apel pagi di lapangan Mapolres Lhokseumawe yang dipimpin langsung oleh AKP Elan Suherlan. Dalam arahannya, beliau menekankan pentingnya menjaga sikap humanis dan bekerja dengan penuh keikhlasan demi membantu masyarakat. Segera setelah koordinasi tuntas, pasukan melaksanakan Pergeseran Pasukan (Serpas) menuju ploting wilayah pembersihan. Setibanya di lokasi, personel baret biru bersama warga bahu-membahu membersihkan pelataran dan bagian dalam masjid dari sisa-sisa tanah pekat, menunjukkan dedikasi tanpa lelah meski berada jauh dari markas komando utama di Kalimantan.
Komandan Satuan (Dansat) Brimob Polda Kaltim, Kombes Pol. Andy Rifai, S.I.K., M.H., menyatakan bahwa kegiatan ini merupakan implementasi nyata dari filosofi “Bakti Brimob untuk Masyarakat”. Beliau menegaskan bahwa keberadaan personel di tanah Aceh bukan sekadar untuk menjaga stabilitas keamanan, melainkan juga menjadi bagian dari solusi atas kesulitan yang dihadapi warga. “Masjid adalah pusat kehidupan sosial dan spiritual masyarakat, maka pemulihannya harus menjadi prioritas. Saya sangat mengapresiasi personel di lapangan yang tetap menjaga semangat pengabdian dan kepedulian di tengah menjalankan misi operasi luar daerah,” ujar Kombes Pol. Andy Rifai.
Andy Rifai mengajak seluruh personel untuk menjadikan setiap tetes keringat sebagai ladang ibadah dan bukti kehadiran negara di tengah rakyat. Beliau menekankan bahwa jarak geografis tidak boleh menjadi penghalang bagi rasa persaudaraan antar-sesama anak bangsa. “Jadilah pelayan rakyat yang rendah hati dan berikan yang terbaik bagi warga Aceh. Kehadiran kita harus memberikan rasa tenang, aman, dan manfaat yang nyata bagi lingkungan sekitar. Teruslah bergerak membantu dengan tulus. Jiwa Ragaku Demi Kemanusiaan,” pungkasnya.
( Alfian )