Tanah Laut, jurnalpolisi.id
19 Februari 2026 – Warga Trans Swadaya Masyarakat (TSM) Desa Bukit Mulia, Kecamatan Kintap, Kabupaten Tanah Laut, mengeluhkan banjir yang merendam kebun karet dan akses jalan desa dalam beberapa waktu terakhir. Banjir tersebut diduga berkaitan dengan aliran sungai yang tertutup material buangan overburden (OB) dari aktivitas pertambangan PT Arutmin Indonesia.
Menurut keterangan sejumlah warga, sungai yang selama ini menjadi saluran utama pembuangan air tidak lagi mengalir normal. Material tanah dan lumpur disebut-sebut menutup sebagian aliran sungai, sehingga saat hujan turun dengan intensitas tinggi, air meluap dan menggenangi area perkebunan serta jalan penghubung Desa Bukit Mulia menuju Dusun 5.
“Dulu air cepat surut karena sungainya lancar. Sekarang kalau hujan deras, air meluap sampai ke kebun dan jalan,” ujar salah satu warga yang enggan disebutkan namanya.
Akibat genangan tersebut, aktivitas petani karet terganggu. Sejumlah warga mengaku tidak dapat menyadap karet karena kebun mereka terendam. Bahkan, beberapa pohon karet dilaporkan mulai mati akibat terlalu lama tergenang air.

Selain berdampak pada sektor pertanian, banjir juga menghambat mobilitas masyarakat. Jalan desa yang menjadi akses utama menuju Dusun 5 kini sulit dilalui, terutama oleh kendaraan roda dua dan roda empat. Kondisi ini dinilai mengganggu aktivitas ekonomi dan kegiatan sehari-hari warga.
Warga berharap adanya perhatian dan langkah cepat dari pemerintah daerah serta pihak perusahaan untuk melakukan normalisasi aliran sungai dan mencari solusi jangka panjang agar banjir tidak kembali terjadi.
Hingga berita ini diturunkan, pihak PT Arutmin Indonesia belum memberikan keterangan resmi terkait dugaan tersebut. Upaya konfirmasi kepada pihak perusahaan masih terus dilakukan.
Masyarakat TSM Bukit Mulia menegaskan bahwa mereka menginginkan lingkungan yang aman serta akses jalan yang layak agar aktivitas ekonomi dan kehidupan sosial dapat kembali berjalan normal.
Jurnalis: Farouk Jibril