
BALIKPAPAN jurnalpolisi.id
Musim kemarau mulai berdampak terhadap sektor pertanian di Kota Balikpapan, Kalimantan Timur. Keterbatasan pasokan air membuat produktivitas sejumlah komoditas pertanian, termasuk jagung, mengalami penurunan.
Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian dan Perikanan (DKP3) Kota Balikpapan saat ini masih melakukan pendataan untuk mengetahui secara lebih rinci dampak kekeringan terhadap kondisi lahan, petani, dan hasil produksi pertanian.
Kepala DKP3 Balikpapan, Sri Wahjuningsih, mengatakan kekeringan berpotensi memengaruhi kualitas maupun produktivitas hasil pertanian. Namun, hingga saat ini pihaknya belum menerima laporan mengenai gagal panen secara total.
“Yang jelas pasti berdampak pada kualitas produksi akibat kekeringan ini. Kami masih proses mendata di lapangan,” ujar Sri Wahjuningsih, Kamis (3/9/2026).
Menurut Sri, tanaman pangan dan hortikultura menjadi komoditas yang paling berpotensi terdampak ketika ketersediaan air berkurang.
“Komoditas tanaman hortikultura dan tanaman pangan,” katanya.
Salah satu dampak kekeringan terlihat pada tanaman jagung. Meski tanaman masih mampu menghasilkan panen, jumlah produksinya berada jauh di bawah potensi maksimal karena kebutuhan air tidak terpenuhi secara optimal.
Sri mencontohkan kondisi yang dialami Kelompok Tani (Poktan) Etam Kartika Mandiri di kawasan Lasila. Dari lahan seluas 0,3 hektare, kelompok tani tersebut hanya mampu menghasilkan sekitar 0,2 ton jagung.
Sementara itu, Poktan Etam Rejeki Borneo di kawasan Manggar dengan luas lahan yang sama, yakni 0,3 hektare, menghasilkan sekitar 0,3 ton jagung.
“Semisal jagung tetap produksi, tetapi provitasnya jauh dari harapan. Kalau gagal total sih tidak,” jelas Sri.
Ia menjelaskan, dalam kondisi ideal, produktivitas jagung di Balikpapan dapat mencapai sekitar empat ton per hektare. Dengan demikian, hasil panen yang diperoleh petani saat ini menunjukkan adanya penurunan produktivitas akibat tekanan kekeringan.
DKP3 Balikpapan masih mengumpulkan data dari sejumlah lokasi pertanian untuk memetakan secara menyeluruh dampak musim kemarau. Data tersebut akan menjadi bahan evaluasi dan pembahasan bersama Pemerintah Kota Balikpapan untuk menentukan langkah penanganan berikutnya.
“Nanti akan dirapatkan bersama oleh Pemkot. Kami siapkan data dulu,” pungkas Sri.
( Alfian )




