
BANDUNG jurnalpolisi.id
Perjalanan panjang pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di tengah perubahan tren industri fashion kembali menunjukkan bahwa konsistensi, inovasi, dan kemampuan beradaptasi menjadi kunci untuk mempertahankan bisnis.
Hal itu tercermin dari perjalanan Nonnetedy, jenama busana muslim asal Bandung yang dirintis oleh desainer dan pengusaha Nonne Noer Pujiane sejak 2010.
Berawal dari rancangan hijab instan yang dibuat untuk kebutuhan pribadi, produk tersebut justru mendapat respons positif dari lingkungan sekitar. Dukungan awal datang dari anggota Bhayangkari Jawa Barat yang kemudian menjadi salah satu basis konsumen pertama Nonnetedy.
Dari pemasaran yang berkembang melalui rekomendasi dari mulut ke mulut, produk Nonnetedy kemudian dikenal lebih luas di berbagai komunitas perempuan, termasuk Persit, PIA Ardhya Garini, dan Dharma Wanita.
Tingginya minat terhadap produk membuat Nonnetedy tidak hanya menjalankan aktivitas penjualan, tetapi juga mendapat kesempatan untuk berbagi pengetahuan mengenai penggunaan hijab praktis dalam berbagai kegiatan komunitas.
Seiring perkembangan usaha, Nonnetedy memperluas pasar melalui bazar, pameran, hingga membuka sejumlah gerai fisik di Bandung. Produk tersebut juga tercatat pernah tampil dalam sejumlah kegiatan fashion, termasuk sesi tutorial hijab pada Urban Fest di GSG ITENAS Bandung pada 2014 dan Hijab Fashion Week 2015 di Graha Manggala Siliwangi.
Bertahan Saat Pandemi
Perjalanan bisnis Nonnetedy menghadapi tantangan besar ketika pandemi COVID-19 melanda pada 2020. Saat banyak sektor usaha mengalami tekanan, manajemen CV Nonnetedy memilih mempertahankan tenaga kerja dan melakukan adaptasi terhadap kebutuhan pasar.
Salah satu inovasi yang dilakukan adalah menghadirkan set hijab dan masker. Strategi tersebut justru mendorong peningkatan permintaan dan memperluas jaringan reseller di berbagai daerah.
Dalam dokumen perusahaan disebutkan, produksi bahkan sempat mencapai sekitar 4.000 pieces per bulan pada masa pandemi.
Kondisi tersebut menjadi salah satu momentum penting dalam mempertahankan keberlangsungan usaha sekaligus memperluas jaringan bisnis.
Memasuki periode setelah pandemi, Nonnetedy kemudian memperkuat strategi penjualan melalui marketplace dan social commerce.
Produk seperti hijab instan dan ciput dipasarkan dengan memanfaatkan ekosistem digital serta kolaborasi dengan kreator konten dan afiliator.
Transformasi tersebut menjadi bagian dari strategi perusahaan dalam menyesuaikan diri dengan perubahan pola belanja masyarakat yang semakin bergeser ke platform digital.
Membuka Lapangan Kerja
Tidak hanya berorientasi pada penjualan produk, perkembangan Nonnetedy juga berdampak pada penyerapan tenaga kerja.
Operasional CV Nonnetedy melibatkan berbagai bidang, mulai dari produksi, pengelolaan konten digital hingga tenaga yang mendukung aktivitas live streaming e-commerce.
Perjalanan tersebut sekaligus memperlihatkan bagaimana bisnis fashion yang dibangun dari skala lokal dapat berkembang menjadi ekosistem usaha yang melibatkan berbagai keterampilan dan profesi.
Nonnetedy juga mempertahankan karakter produknya melalui berbagai inovasi desain. Salah satu identitas yang menjadi ciri khas adalah hijab instan bergaya curly dengan desain kerutan artistik pada bagian atas kepala.
Selain hijab instan, lini produknya mencakup berbagai jenis ciput, hijab lembaran, busana syar’i, serta kebutuhan hijab untuk aktivitas sehari-hari hingga acara formal.
Dari Bandung Menuju Pasar Global
Perkembangan teknologi digital membuka peluang bagi Nonnetedy untuk memperluas jangkauan pasar melewati batas wilayah Indonesia.
Dalam dokumen perusahaan disebutkan, produk Nonnetedy telah menjangkau sejumlah negara, antara lain Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, Taiwan hingga Senegal di Afrika Barat.
Perluasan pasar tersebut dilakukan melalui kanal perdagangan digital dan program ekspor. Produk asal Bandung itu pun mulai dikenal konsumen muslimah di sejumlah negara.
Kehadiran konsumen dari luar negeri juga menjadi bagian dari perjalanan ekspansi Nonnetedy. Salah satunya ketika konsumen asal Senegal menghubungi layanan pelanggan dan kemudian datang langsung ke gerai Nonnetedy di Bandung untuk melihat proses serta kualitas produksinya.
Capaian tersebut menunjukkan bahwa produk fashion muslim buatan pelaku usaha lokal memiliki peluang untuk bersaing di pasar internasional apabila mampu menjaga kualitas, karakter produk, serta menyesuaikan diri dengan kebutuhan konsumen.
Konsistensi Menjadi Kunci
Lebih dari satu dekade menjalankan usaha, perjalanan Nonnetedy memperlihatkan bahwa keberlangsungan UMKM tidak hanya ditentukan oleh kemampuan mengikuti tren.
Kemampuan menjaga karakter produk, mempertahankan kepercayaan konsumen, melakukan inovasi, serta beradaptasi dengan perkembangan teknologi menjadi faktor penting dalam menghadapi perubahan industri.
Bagi Nonne Noer Pujiane, perjalanan Nonnetedy juga menjadi gambaran bahwa perempuan memiliki peluang besar untuk membangun kemandirian ekonomi melalui kreativitas dan kewirausahaan.
Dari Bandung, produk yang awalnya dibuat untuk kebutuhan pribadi tersebut kini berkembang menjadi usaha fashion muslim yang menjangkau pasar lebih luas, termasuk konsumen mancanegara.
Perjalanan Nonnetedy menjadi salah satu contoh bahwa UMKM lokal memiliki potensi untuk tumbuh, menciptakan lapangan pekerjaan, mengembangkan ekonomi kreatif, sekaligus membawa produk Indonesia memasuki pasar global.
( Alfian)




