
RUPAT, BENGKALIS — jurnalpolisi.id
Antrean panjang kembali terjadi di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) Teluk Lecah, Kecamatan Rupat, Kabupaten Bengkalis. Kondisi tersebut terlihat dari padatnya antrean kendaraan roda dua maupun roda empat yang menunggu giliran untuk mendapatkan bahan bakar minyak (BBM).
Sejumlah warga bahkan mengaku telah mengantre sejak sore hari. Kepadatan antrean membuat masyarakat harus menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk mendapatkan BBM yang dibutuhkan untuk menunjang aktivitas sehari-hari.
Beberapa masyarakat saat dikonfirmasi oleh tim media mengatakan bahwa mereka sudah datang sejak pukul 03.00 hingga 04.00 sore, namun hingga saat ini belum juga mendapatkan kesempatan untuk melakukan pengisian BBM.
“Kami sudah dari jam 4, ada juga yang dari jam 3. Sampai jam 5 .40 sore sekarang belum dapat melakukan pengisian karena antreannya cukup padat,” ujar salah seorang warga.
Antrean panjang tersebut tidak hanya didominasi kendaraan roda dua, tetapi juga kendaraan roda empat. Panjangnya antrean menggambarkan betapa sulitnya masyarakat mendapatkan BBM, khususnya bagi warga yang tinggal jauh dari lokasi SPBU.
Bagi masyarakat di wilayah pelosok, BBM bukan sekadar kebutuhan kendaraan, tetapi juga menjadi bagian penting dalam menunjang aktivitas ekonomi dan kehidupan sehari-hari. Nelayan, petani, pekerja, pedagang, serta masyarakat yang menggunakan kendaraan untuk beraktivitas sangat bergantung pada ketersediaan BBM.
Ironisnya, masyarakat harus rela menunggu berjam-jam dan menghabiskan waktu dari sore hingga malam hanya untuk mendapatkan bahan bakar yang akan digunakan untuk menjalankan aktivitas pada hari berikutnya.
Kondisi ini pun kembali memunculkan harapan masyarakat agar Pemerintah Kabupaten Bengkalis memberikan perhatian serius dan menghadirkan solusi nyata atas persoalan sulitnya mendapatkan BBM di wilayah Rupat.
Masyarakat menilai persoalan antrean BBM bukan merupakan masalah baru. Keluhan serupa disebut telah berlangsung selama berbulan-bulan, namun hingga kini warga masih menantikan langkah konkret dan kebijakan yang benar-benar dapat dirasakan manfaatnya.
“Kami membutuhkan bukti nyata dari pemerintah, bukan hanya mendengar janji. Masyarakat di pelosok juga berhak mendapatkan pelayanan dan akses BBM yang layak,” keluh warga lainnya.
Warga berharap pemerintah daerah bersama pihak terkait dapat segera melakukan evaluasi terhadap sistem distribusi dan ketersediaan BBM di wilayah Rupat. Mereka juga meminta agar persoalan ini tidak dibiarkan berlarut-larut karena masyarakat harus terus mengantre berjam-jam hanya untuk memenuhi kebutuhan BBM.
Antrean panjang di SPBU Teluk Lecah ini menjadi gambaran nyata bahwa persoalan ketersediaan dan distribusi BBM di wilayah tersebut masih membutuhkan perhatian serius dari pihak berwenang.
Masyarakat berharap pemerintah tidak hanya hadir ketika persoalan menjadi sorotan publik, tetapi juga mengambil langkah nyata dan berkelanjutan agar warga tidak lagi harus menghabiskan waktu berjam-jam di SPBU demi mendapatkan BBM untuk kebutuhan sehari-hari.(Asmadi)




