
Pancur Jaya, jurnalpolisi.id
8 Juli 2026 – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KUKERTA) Berdampak Universitas Riau (UNRI) Tahun 2026 melaksanakan lokakarya budidaya maggot berbahan dasar limbah organik rumah tangga di Aula Kantor Desa Pancur Jaya, Kecamatan Rupat, Kabupaten Bengkalis, Rabu (8/7). Kegiatan ini bertujuan meningkatkan kesadaran masyarakat dalam mengelola sampah organik menjadi produk yang bermanfaat sekaligus memiliki nilai ekonomi.
Lokakarya tersebut mendapat sambutan antusias dari peserta yang terdiri atas ibu-ibu Persatuan Kesejahteraan Keluarga (PKK), khususnya PKK Pokja III Bidang Ketahanan Pangan dan Sandang. Kegiatan juga dihadiri oleh Penjabat (Pj.) Kepala Desa Pancur Jaya, dr Nelya Sasmita .Sekretaris Desa, perangkat desa, pegawai kantor desa, serta masyarakat setempat.
Program ini digagas oleh mahasiswa KUKERTA Berdampak Universitas Riau, yaitu Puput Savitri, Nabila Cania Abda, Norhidayah, Gidion Martin Sihite, Halif Safrizal, Winda Juni Lestari Pakpahan, Sopia Pasaribu, Indriani, Muhammad Faqih Mustafiq, dan Syfa Adistyaningsih di bawah bimbingan Dosen Pembimbing Lapangan (DPL), Dr. Dadang Mashur, S.Sos., M.Si.
Kegiatan ini berangkat dari hasil observasi mahasiswa terhadap kondisi pengelolaan sampah di Desa Pancur Jaya. Berdasarkan temuan di lapangan, limbah organik rumah tangga masih belum dimanfaatkan secara optimal dan umumnya langsung dibuang.
Padahal, limbah tersebut memiliki potensi untuk diolah menjadi maggot Black Soldier Fly (BSF), yang dikenal sebagai sumber pakan ternak berkadar protein tinggi dan bernilai ekonomis.
Dalam kegiatan tersebut, Nabila Cania Abda bertindak sebagai pemateri yang menjelaskan konsep budidaya maggot, manfaatnya, serta tahapan pembuatannya. Sementara itu, mahasiswa KUKERTA lainnya bertugas sebagai panitia yang mendampingi peserta selama kegiatan berlangsung.
Sebelum pelaksanaan lokakarya, mahasiswa telah berkoordinasi dengan Ketua PKK Pokja III Desa Pancur Jaya, Ibu Sulis, untuk mengajak peserta membawa limbah organik dari rumah, seperti kulit bawang, kulit wortel, sisa sayuran, dan limbah dapur lainnya. Sampah organik tersebut kemudian digunakan sebagai bahan praktik pembuatan media budidaya maggot sehingga peserta dapat melihat secara langsung proses pengolahannya.
Dalam pemaparannya, dijelaskan bahwa maggot merupakan larva lalat Black Soldier Fly (BSF) yang mampu mengurai berbagai jenis limbah organik, seperti sisa makanan, buah busuk, dan sayuran. Selain membantu mengurangi volume sampah rumah tangga, maggot juga dapat dimanfaatkan sebagai pakan alternatif ikan dan ternak yang kaya protein. Adapun sisa media budidayanya dapat diolah menjadi pupuk organik yang bermanfaat bagi tanaman.
Lokakarya tidak hanya berisi penyampaian materi, tetapi juga demonstrasi langsung mengenai tahapan budidaya maggot, mulai dari pembuatan media, pemberian pakan, hingga teknik perawatan. Seluruh proses diperagakan menggunakan metode sederhana dengan bahan yang mudah diperoleh serta biaya yang relatif terjangkau, sehingga dapat diterapkan oleh masyarakat secara mandiri.
Sebagai bagian dari sosialisasi, mahasiswa KUKERTA juga memperlihatkan hasil budidaya maggot yang telah mereka kembangkan sebelumnya. Kehadiran media budidaya beserta contoh maggot berhasil menarik perhatian peserta. Berbagai pertanyaan diajukan, mulai dari perbedaan lalat Black Soldier Fly (BSF) dengan lalat rumah, jenis sampah organik yang dapat dimanfaatkan, hingga potensi maggot sebagai pakan ternak dan pupuk organik.
Antusiasme peserta terlihat sepanjang kegiatan. Diskusi berlangsung interaktif dan menunjukkan tingginya minat masyarakat terhadap inovasi pengelolaan sampah yang sederhana, ramah lingkungan, serta berpotensi meningkatkan perekonomian keluarga.
Sebagai tindak lanjut, mahasiswa KUKERTA menyerahkan hasil budidaya maggot kepada PKK Pokja III Desa Pancur Jaya sebagai contoh sekaligus langkah awal agar budidaya maggot dapat terus dikembangkan sebagai salah satu solusi pengelolaan sampah organik di desa.
Ketua PKK Pokja III Desa Pancur Jaya, Ibu Sulis, mengapresiasi inisiatif mahasiswa KUKERTA Berdampak Universitas Riau yang telah menghadirkan kegiatan edukatif sekaligus memberikan praktik langsung kepada masyarakat.
“Kami berharap ilmu yang diberikan hari ini dapat diterapkan oleh ibu-ibu PKK sehingga sampah organik yang selama ini hanya dibuang dapat dimanfaatkan menjadi sesuatu yang bernilai dan bermanfaat bagi keluarga maupun lingkungan,” ujarnya.
Melalui program ini, mahasiswa KUKERTA Berdampak Universitas Riau berharap masyarakat Desa Pancur Jaya semakin sadar akan pentingnya pengelolaan sampah organik yang berkelanjutan. Budidaya maggot diharapkan dapat menjadi solusi sederhana untuk mengurangi limbah rumah tangga sekaligus membuka peluang ekonomi baru melalui penyediaan pakan ternak alternatif dan pupuk organik.
Penulis. Asmadi




