BALIKPAPAN – jurnalpolisi.id
Puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Balikpapan Melawan (BAKWAN) menggelar aksi unjuk rasa damai di depan Kantor Wali Kota Balikpapan, Senin (9/2/2026) sore. Aksi tersebut menyoroti sejumlah isu strategis, mulai dari banjir, keselamatan lalu lintas di Simpang Muara Rapak, kekurangan tenaga pengajar, hingga mangkraknya pembangunan Rumah Sakit Sayang Ibu.
Sekitar 50 massa aksi yang terdiri dari berbagai organisasi mahasiswa dan kepemudaan melakukan long march dari kawasan Balikpapan Center menuju Kantor Wali Kota. Aksi berlangsung tertib dengan pengawalan aparat kepolisian.
Koordinator lapangan aksi, Jusliadin, mengatakan demonstrasi digelar sebagai bentuk evaluasi terhadap kinerja pemerintah daerah menjelang Hari Ulang Tahun ke-129 Kota Balikpapan.
“Kami hadir bukan untuk membuat keributan, tetapi untuk mengingatkan bahwa masih banyak persoalan mendasar yang belum terselesaikan, seperti banjir, keselamatan di Simpang Muara Rapak, pendidikan, dan layanan kesehatan,” ujar Jusliadin dalam orasinya.
Soroti banjir dan keselamatan lalu lintas
Massa menilai banjir yang kerap terjadi di sejumlah titik kota menunjukkan lemahnya tata kelola drainase dan pengawasan pembangunan. Mereka juga menuntut evaluasi izin pembangunan serta normalisasi kolam retensi dan saluran air.
Selain itu, mahasiswa menyoroti tingginya risiko kecelakaan di Simpang Muara Rapak akibat masih beroperasinya kendaraan berat di jam terlarang. Mereka meminta pemerintah daerah memperkuat regulasi agar memiliki dasar hukum yang lebih tegas.
Isu lain yang diangkat yakni kekurangan tenaga guru, kesejahteraan guru honorer, serta perlunya transparansi pembangunan Rumah Sakit Sayang Ibu Balikpapan Barat yang hingga kini belum rampung.
Pemkot terima audiensi
Setelah hampir tiga jam berorasi, perwakilan massa akhirnya diterima audiensi di halaman Kantor Wali Kota. Pertemuan dihadiri Wakil Wali Kota Balikpapan Bagus Susetyo, Asisten I Pemkot Balikpapan Zulkipli, serta sejumlah kepala organisasi perangkat daerah (OPD).
Dalam tanggapannya, Bagus Susetyo mengapresiasi sikap kritis mahasiswa dan menyebut pemerintah terbuka terhadap masukan publik.
Ia menjelaskan penanganan banjir telah masuk dalam master plan kota yang terus diperbarui, termasuk pengerukan daerah aliran sungai, pembangunan kolam retensi, serta penertiban bangunan di sempadan sungai.
“Tantangan Balikpapan secara topografi memang berat. Namun kami terus melakukan langkah bertahap, baik melalui APBD maupun dukungan APBN,” kata Bagus.
Terkait pendidikan, ia mengakui keterbatasan tenaga pengajar dipengaruhi kebijakan moratorium ASN dari pemerintah pusat. Meski demikian, Pemkot berupaya menambah sekolah baru, meningkatkan dukungan ke sekolah swasta, serta memperjuangkan kebutuhan guru melalui skema yang tersedia.
Soal Rumah Sakit Sayang Ibu, Bagus memastikan proyek tersebut akan kembali dianggarkan setelah sempat tertunda akibat proses pemeriksaan administrasi.
Aksi berlangsung kondusif
Aksi unjuk rasa berakhir sekitar pukul 19.00 Wita dalam kondisi aman dan tertib. Aparat kepolisian menyatakan kegiatan berjalan kondusif tanpa insiden.
Mahasiswa menegaskan akan terus mengawal tindak lanjut dari hasil audiensi dan meminta pemerintah membuka forum dialog resmi yang terjadwal agar progres penyelesaian tiap persoalan dapat dipantau publik.
( Alfian )