
Balikpapan – jurnalpolisi.id
Mantan dosen Universitas Balikpapan (Uniba), Zainal Dharma Abidin, B.C.H.T., M.Si, mengenang perjalanan awal berdirinya perguruan tinggi swasta pertama di Kota Balikpapan tersebut saat ditemui awak media pada Selasa (23/6/2026).
Zainal yang mengajar di Fakultas Sastra pada tahun 1983 hingga 1984 mengatakan, saat itu Uniba masih berada di bawah naungan Yayasan Pendidikan Dharmawirawan ABRI dan hanya memiliki tiga fakultas, yakni Fakultas Ekonomi, Fakultas Teknik, dan Fakultas Sastra.
“Saat saya mengajar, Uniba masih sangat sederhana. Perkuliahan dilaksanakan di bangunan yang dikenal sebagai Rumah Pelengkung yang berada di kawasan Lapangan Sudirman Balikpapan. Bentuk bangunannya setengah lingkaran dan menjadi pusat aktivitas akademik pada masa itu,” ujarnya.
Menurutnya, sebagian besar mahasiswa saat itu berasal dari kalangan pegawai sipil maupun anggota ABRI yang melanjutkan pendidikan sambil bekerja. Karena itu, sebagian besar perkuliahan dilaksanakan pada sore hingga malam hari.
“Saya mengajar mata kuliah Ilmu Budaya Dasar selama dua semester. Mahasiswanya tidak banyak seperti sekarang, tetapi semangat mereka untuk menempuh pendidikan sangat tinggi,” katanya.
Zainal juga mengingat sosok Letkol Supangat yang menjabat sebagai rektor pada masa awal berdirinya Uniba. Ia menilai perhatian dan dukungan ABRI terhadap dunia pendidikan saat itu sangat besar sehingga mampu menghadirkan lembaga pendidikan tinggi swasta yang menjadi kebanggaan masyarakat Balikpapan.
“Pada masa itu kepedulian ABRI terhadap pendidikan luar biasa. Mereka ingin menghadirkan perguruan tinggi yang mampu mendidik anak-anak bangsa dan memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk mengenyam pendidikan tinggi,” ungkapnya.
Meski fasilitas kampus masih terbatas, Zainal mengaku tetap menjalankan tugas mengajar dengan penuh semangat. Bahkan, honor dosen pada saat itu terkadang baru diterima setelah satu hingga dua bulan.
“Saat itu lebih banyak pengabdian. Honor kadang baru dibayarkan dua bulan sekali, tetapi kami tidak mempermasalahkannya karena yang terpenting adalah bagaimana kampus ini bisa terus berkembang,” kenangnya.
Melihat perkembangan Uniba saat ini, Zainal mengaku bangga. Ia menilai kampus yang dahulu hanya memiliki fasilitas sederhana kini telah berkembang menjadi salah satu perguruan tinggi swasta terkemuka di Kalimantan Timur dengan jumlah mahasiswa yang terus bertambah serta sarana dan prasarana yang semakin modern.
“Saya melihat perkembangan Uniba sangat baik. Kampusnya sudah bagus, mahasiswanya banyak, dan mampu menjadi salah satu pilihan utama masyarakat untuk melanjutkan pendidikan tinggi,” ujarnya.
Namun demikian, ia mengingatkan pentingnya menjaga dan menghargai sejarah berdirinya Uniba. Menurutnya, perjalanan kampus tidak dapat dilepaskan dari peran Yayasan Pendidikan Dharmawirawan ABRI yang menjadi cikal bakal lahirnya universitas tersebut.
“Sejarah jangan sampai dilupakan. Uniba lahir dari semangat pengabdian para pendiri yang ingin membangun pendidikan di Balikpapan. Bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak melupakan sejarahnya,” tegasnya.
Zainal berharap seluruh pemangku kepentingan yang terlibat dalam pengelolaan kampus dapat terus menjalin kebersamaan dan kolaborasi demi kemajuan Uniba di masa mendatang.
“Yang terpenting adalah membangun kebersamaan. Dengan menghargai sejarah dan memperkuat kolaborasi, saya yakin Uniba akan terus berkembang dan mampu bersaing dengan perguruan tinggi lainnya,” pungkasnya.
( Alfian )




