KOTA TANGERANG – jurnalpolisi.id
Sebuah peristiwa penuh makna terjadi di kawasan bersejarah Pasar Lama Kota Tangerang, Kamis (4/6/2026). Kasdim Kabupaten Tangerang (Kepala Staf Kodim 0510/Tigaraksa), Mayor Inf Windra Sanur, melakukan kunjungan silaturahmi ke Kelenteng Boen Tek Bio (BTB), salah satu situs budaya dan tempat ibadah masyarakat Tionghoa tertua di Indonesia.
Kunjungan yang berlangsung sejak pukul 09.00 WIB tersebut disambut hangat oleh Ketua Umum Perkumpulan Boen Tek Bio, Romo Ruby Santamoko, bersama jajaran pengurus, tokoh masyarakat, tokoh lintas agama, dan pegiat budaya Tionghoa Benteng Kota Tangerang.
Suasana penuh keakraban langsung terasa sejak rombongan Kasdim memasuki area kelenteng yang selama lebih dari tiga abad menjadi saksi perjalanan sejarah Kota Tangerang. Pertemuan tersebut tidak hanya menjadi ajang silaturahmi antara TNI dan masyarakat, tetapi juga menjadi simbol kuatnya komitmen menjaga persatuan, keberagaman, dan semangat nasionalisme di tengah kehidupan bangsa yang majemuk.
Sebagai bentuk penghormatan dan kenang-kenangan, Perkumpulan Boen Tek Bio menyerahkan cendera mata khusus kepada Mayor Inf Windra Sanur. Selain itu, pengurus BTB juga memberikan sebuah alat musik tradisional Tehyan, alat musik gesek khas masyarakat Tionghoa Benteng yang telah menjadi bagian penting dari identitas budaya Tangerang selama ratusan tahun.
Pemberian Tehyan tersebut bukan sekadar simbol budaya, melainkan juga bentuk penghargaan kepada TNI yang selama ini hadir menjaga keamanan, persatuan, dan keharmonisan masyarakat di wilayah Tangerang.
Mayor Inf Windra Sanur sendiri merupakan perwira TNI yang memiliki pengalaman panjang dalam tugas-tugas strategis. Sebelum dipercaya menjabat sebagai Kasdim Kabupaten Tangerang, ia pernah mengemban amanah sebagai pengawal Presiden ke-7 Republik Indonesia, Joko Widodo.
Dalam kesempatan itu, Romo Ruby Santamoko menyampaikan rasa bangga dan apresiasi atas kunjungan yang dilakukan jajaran Kodim 0510/Tigaraksa ke Boen Tek Bio.
Menurutnya, hubungan baik antara TNI dan masyarakat merupakan aset bangsa yang harus terus dirawat dan diperkuat.
“Hari ini merupakan hari yang sangat berbahagia bagi keluarga besar Boen Tek Bio. Kehadiran Bapak Mayor Inf Windra Sanur bersama jajaran menjadi kehormatan bagi kami. Silaturahmi seperti ini menunjukkan bahwa TNI tidak hanya hadir sebagai penjaga kedaulatan negara, tetapi juga menjadi bagian dari masyarakat yang senantiasa menjaga persatuan dan keharmonisan bangsa,” ujar Romo Ruby.
Ia menjelaskan bahwa Indonesia merupakan negara yang dibangun di atas keberagaman suku, agama, budaya, dan bahasa. Karena itu, seluruh elemen bangsa memiliki tanggung jawab yang sama untuk menjaga warisan para pendiri bangsa tersebut.
“Bangsa Indonesia adalah bangsa yang besar karena keberagamannya. Dari Sabang sampai Merauke terdapat ribuan budaya dan tradisi yang hidup berdampingan. Keberagaman ini bukan untuk dipertentangkan, melainkan untuk dipersatukan dalam semangat Bhinneka Tunggal Ika. Karena itu, kami sangat mengapresiasi setiap upaya yang dilakukan TNI untuk terus menjalin komunikasi dengan seluruh lapisan masyarakat.”
Romo Ruby menegaskan bahwa Kelenteng Boen Tek Bio selama ini tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah umat Konghucu dan masyarakat Tionghoa, tetapi juga menjadi pusat kegiatan sosial, budaya, kemanusiaan, dan kebangsaan.
Menurutnya, nilai toleransi yang diwariskan para pendiri Boen Tek Bio telah menjadi bagian dari identitas masyarakat Tangerang selama ratusan tahun.
“Boen Tek Bio adalah rumah kebersamaan. Di tempat ini kita belajar menghargai perbedaan, menjaga persaudaraan, dan membangun kehidupan yang harmonis. Kami selalu membuka diri untuk bekerja sama dengan seluruh unsur bangsa, termasuk TNI, Polri, pemerintah daerah, tokoh agama, dan organisasi kemasyarakatan demi terciptanya masyarakat yang damai dan sejahtera.”
Lebih lanjut, Romo Ruby mengatakan bahwa semangat nasionalisme harus terus diwariskan kepada generasi muda agar mereka memahami pentingnya menjaga persatuan bangsa di tengah derasnya perkembangan teknologi dan arus globalisasi.
“Anak-anak muda harus memahami sejarah bangsanya. Mereka harus mengetahui bahwa kemerdekaan Indonesia diraih melalui perjuangan panjang yang melibatkan seluruh elemen masyarakat tanpa memandang latar belakang. Karena itu, semangat cinta tanah air, gotong royong, dan persaudaraan harus terus ditanamkan agar bangsa ini tetap kokoh menghadapi tantangan masa depan.”
Ia juga berharap kunjungan tersebut menjadi awal dari berbagai kegiatan kolaboratif antara TNI dan Perkumpulan Boen Tek Bio di bidang sosial, pendidikan, budaya, dan kemasyarakatan.
“Kami berharap silaturahmi ini tidak berhenti sampai di sini. Semoga ke depan semakin banyak program bersama yang dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Ketika TNI dan masyarakat bersatu, maka kekuatan bangsa akan semakin besar. Persatuan adalah modal utama Indonesia untuk maju.”
Kelenteng Bersejarah yang Menjadi Simbol Kota Tangerang
Kunjungan tersebut juga menjadi momentum untuk memperkenalkan kembali sejarah panjang Kelenteng Boen Tek Bio kepada generasi muda.
Kelenteng Boen Tek Bio yang berdiri megah di kawasan Pasar Lama Kota Tangerang dikenal sebagai tempat ibadah masyarakat Tionghoa tertua di kota tersebut. Berdasarkan catatan sejarah, kelenteng ini diperkirakan telah berdiri sejak tahun 1684, menjadikannya salah satu kelenteng tertua di Indonesia.
Bangunan tertua yang masih bertahan hingga sekarang diperkirakan berasal dari tahun 1775. Seiring berjalannya waktu, masyarakat Tionghoa Benteng secara bergotong royong melakukan pembangunan dan pengembangan bangunan dengan material yang lebih permanen pada tahun 1844.
Arsitektur khas Tionghoa yang menghiasi bangunan utama masih terawat dengan baik hingga saat ini. Berbagai benda bersejarah yang berada di dalam kelenteng, seperti altar sembahyang, papan nama kuno, ukiran, ornamen tradisional, hingga lonceng besar, sebagian besar didatangkan langsung dari Tiongkok.
Keberadaan Boen Tek Bio tidak hanya menjadi pusat aktivitas keagamaan, tetapi juga menjadi simbol perjalanan sejarah masyarakat Tionghoa Benteng yang telah hidup berdampingan dengan masyarakat lokal selama ratusan tahun di Tangerang.
Saat ini, Boen Tek Bio dikenal sebagai salah satu ikon wisata sejarah dan budaya Kota Tangerang yang sering dikunjungi wisatawan, peneliti, akademisi, hingga tokoh nasional. Berbagai kegiatan budaya, sosial, pendidikan, dan kemanusiaan rutin dilaksanakan di lingkungan kelenteng sebagai bentuk kontribusi kepada masyarakat luas.
Simbol Harmoni dan Persatuan
Kunjungan Mayor Inf Windra Sanur ke Boen Tek Bio menjadi gambaran nyata bahwa semangat kebangsaan dapat tumbuh melalui komunikasi dan silaturahmi yang baik antara aparat negara dan masyarakat.
Di tengah berbagai tantangan sosial yang dihadapi bangsa, pertemuan tersebut memberikan pesan kuat bahwa persatuan, toleransi, dan gotong royong tetap menjadi fondasi utama kehidupan berbangsa dan bernegara.
Melalui dialog yang hangat dan penuh kekeluargaan, kedua pihak sepakat bahwa Indonesia akan semakin kuat apabila seluruh komponen bangsa terus menjaga persaudaraan, menghormati keberagaman, serta bersama-sama membangun masa depan yang damai, aman, dan sejahtera.
Kunjungan yang berlangsung penuh keakraban itu pun diakhiri dengan sesi ramah tamah, foto bersama, dan peninjauan sejumlah bagian bersejarah Kelenteng Boen Tek Bio, yang hingga hari ini tetap berdiri kokoh sebagai simbol toleransi, warisan budaya, dan kebanggaan masyarakat Kota Tangerang.
Editor: Ismail Marjuki