NTT – jurnalpolisi.id
Banyak yang bertanya, kenapa setelah tidak lagi menjabat sebagai Presiden, Joko Widodo justru memilih NTT sebagai daerah pertama dalam rencana keliling Indonesianya?
Jawabannya mungkin sederhana: karena tidak semua pemimpin mau datang ke tempat yang dulu sering dianggap “pinggiran”.
NTT bukan pusat kekuasaan.
Bukan wilayah dengan sorotan politik terbesar.
Bukan pula daerah yang selalu mendapat perhatian elit sejak dulu.
Tapi justru di sanalah Jokowi beberapa kali membuktikan bahwa pembangunan tidak boleh hanya berputar di kota-kota besar Pulau Jawa.
Saat banyak orang sibuk bicara politik di media sosial, Jokowi sejak dulu datang ke tempat-tempat yang bahkan jarang dilirik kamera nasional. Dari pembangunan bendungan, jalan, pelabuhan, hingga pariwisata seperti Labuan Bajo, semuanya lahir dari cara pandang bahwa Indonesia bukan cuma Jakarta.
Mungkin itu sebabnya NTT dipilih pertama.
Karena daerah yang pernah diperhatikan dengan hati, biasanya selalu punya tempat tersendiri.
Ada juga pesan simbolik yang kuat di balik langkah itu:
Bahwa setelah tidak lagi punya jabatan, Jokowi masih memilih datang ke rakyat biasa. Bukan safari ke ruang elite. Bukan sibuk pidato politik. Tapi kembali melihat daerah yang dulu diperjuangkan pembangunannya.
Dan menariknya, semakin banyak yang berusaha meremehkan langkah itu, semakin terlihat bahwa pengaruh Jokowi belum benar-benar hilang dari hati masyarakat.
Sebab kenyataannya sederhana:
kalau seorang mantan presiden datang ke sebuah daerah lalu langsung ramai dibicarakan nasional, itu tandanya ia masih punya kedekatan emosional dengan rakyat.
Orang boleh berbeda pilihan politik. Itu biasa dalam demokrasi.
Tapi sulit menyangkal satu hal: Jokowi berhasil membuat banyak daerah di luar Jawa merasa lebih diperhatikan dan lebih terlihat sebagai bagian penting Indonesia.
Mungkin karena itulah NTT dipilih pertama.
Bukan sekadar tujuan perjalanan.
Tapi simbol bahwa Indonesia harus dilihat sampai ke timur, bukan hanya dipandang dari pusat kekuasaan.
( Kp. Norman)