Toba, jurnalpolisi.id
Delegasi dari Malaysia yang bergabung di IMT( kegiatan bersama antara Indonesia, Malaysia, Thailand) mengikuti Toba Caldera Geopark Familiarization Trip di kawasan Danau Toba. Kunjungan ini disambut hangat pemilik Taman Eden 100 dengan pertunjukan tari dari sanggar seni lokal Toba.(Sionggang Utara 4/5/2026)
Rombongan wisatawan asal Malaysia bersama ASSC.Prof.DR Tanot Unjah yang didampingi tim Badan Pengelola Toba Caldera UNESCO Global Geopark dari Medan, datang untuk mempelajari pengelolaan geopark sekaligus melihat langsung jejak letusan supervolcano Toba.
“Kegiatan ini kolaborasi Indonesia, Malaysia, dan Thailand untuk mengembangkan geopark bersama. Setiap negara punya keunikan masing-masing,” ujar perwakilan Geopark Toba Ovipensus Samosir
Sebelumnya, tim Geopark Toba telah berkunjung ke Lenggong Geopark, Malaysia. “Banyak hal yang sudah advance di sana, terutama terkait pengelolaan. Sekarang giliran mereka ke sini,” tambahnya.
Para delegasi diajak memahami sejarah 4 kali letusan dahsyat di kawasan ini sekitar 74.000 tahun lalu, yang abunya disebut menutupi 3/4 bumi.
“Kita ingin menunjukkan bagaimana dulu supervolcano mengubah kawasan ini menjadi sangat unik, terutama panoramanya,” jelas Ovipensus Samosir Selama 7 hari ke depan, rombongan akan mengunjungi geosite lain seperti Samosir dan Tanah Karo.
Selain panorama, fokus utama kunjungan ini adalah pertukaran ilmu manajemen geopark.
“Kita mau belajar model manajemen apa yang cocok untuk kawasan kami, termasuk konservasi dan pemberdayaan masyarakat.” Ujar Samosir
Prof.DR. Tanot Unjah memberi saran kepada pihak taman Eden 100, supaya tidak menambah tanam tanaman dari luar agar terlestari keunikannya.
Taman Eden 100 dipilih sebagai salah satu lokasi karena kekayaan flora endemiknya.
“Kita harus mempertahankan tanaman asli sehingga punya keunikan tersendiri,” ujar Tanot
Taman Eden 100 merupakan salah satu biosite unggulan di Toba Caldera UNESCO Global Geopark.(JUV)