CILACAP – jurnalpolisi.id
Lapangan Desa Bojong, Kecamatan Kawunganten, berubah menjadi lautan manusia pada Sabtu malam (2/5/2026). Ribuan warga tampak antusias memadati area pertunjukan untuk menyaksikan perhelatan Gebyar Wayang Golek dalam rangka tradisi Memetri Bumi, sebuah ritual adat sebagai bentuk rasa syukur masyarakat atas melimpahnya hasil bumi dan keselamatan desa.
Acara ini menghadirkan dalang ternama asal Kebumen, Ki Eko Suwaryo, yang membawakan lakon “Banjaran Bima”. Kisah keteguhan, keberanian, dan kekuatan sosok Bima tersebut berhasil memukau penonton yang datang dari berbagai pelosok Kabupaten Cilacap hingga dini hari.
Pesan Kelestarian dan Syukur
Dalam sambutan pembukaannya, Kepala Desa Bojong, Siman, menyampaikan apresiasi mendalam kepada seluruh masyarakat yang telah bergotong-royong menyukseskan acara ini. Beliau menekankan bahwa Memetri Bumi bukan sekadar hiburan rakyat, melainkan momentum penting untuk mempererat tali silaturahmi dan menjaga api kelestarian warisan leluhur agar tidak padam ditelan zaman.
”Kegiatan ini adalah wujud syukur kita kepada Tuhan Yang Maha Esa atas keberkahan tanah yang kita pijak. Semoga dengan doa bersama melalui wasilah seni budaya ini, Desa Bojong dijauhkan dari marabahaya dan masyarakatnya semakin sejahtera,” ujar Siman di hadapan ribuan pengunjung.
Simbol Harmoni Masyarakat
Kemeriahan acara sudah terasa sejak sore hari dengan deretan UMKM lokal yang menjajakan kuliner khas, menambah geliat ekonomi di sekitar lokasi. Puncak acara ditandai dengan penyerahan tokoh wayang dari kepala desa kepada Ki Eko Suwaryo, yang disambut gemuruh tepuk tangan penonton.
Tradisi Memetri Bumi di Desa Bojong tahun ini membuktikan bahwa di tengah arus modernisasi, kecintaan masyarakat terhadap seni tradisional Wayang Golek tetap tinggi. Acara ini tidak hanya menjadi panggung hiburan, tetapi juga menjadi pengingat akan pentingnya menjaga harmoni antara manusia, alam, dan Sang Pencipta.
Editor: ( Syaifulloh)